Peter Gontha: Indonesia Kehilangan Kesempatan Menjadi Produsen Terbesar Semikonduktor di ASEAN
“Indonesia pernah memegang masa depan industri chip ASEAN. Kini, peluang itu menjadi milik Malaysia.”
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesia pernah berada di garis depan industri semikonduktor Asia Tenggara. Bahkan pada dekade 1970-an, Indonesia menjadi salah satu basis penting perakitan, pengujian, dan pengemasan (assembly, testing, and packaging/ATP) chip semikonduktor bagi perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat. Namun, menurut pengusaha senior Peter F. Gontha, kesempatan emas itu hilang akibat keputusan-keputusan politik dan kegagalan melakukan reformasi kebijakan yang mampu mengikuti perubahan industri global.
“Indonesia kehilangan kesempatan menjadi produsen semikonduktor terbesar di ASEAN. Yang menikmati peluang itu akhirnya Malaysia,” kata Peter Gontha saat peluncuran dan bedah bukunya berjudul Perjalanan: dari Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga Indonesia Masa Kini di The Plaza, IDN HQ, Menara Global, Jakarta, Selasa (1/7/2026).
Buku tersebut merupakan refleksi perjalanan hidup Peter Gontha yang berada di berbagai persimpangan sejarah Indonesia. Melalui buku itu, ia menghadirkan kesaksian mengenai harapan, keberhasilan, kegagalan, serta pelajaran berharga agar Indonesia mampu menjadi bangsa yang lebih adil, makmur, dan bermartabat. Berbagai kisah di balik layar serta konteks sejumlah peristiwa penting juga dipaparkan untuk menjelaskan benang merah perjalanan Indonesia hingga saat ini.
Dalam kesempatan itu, Peter menyoroti salah satu episode yang menurutnya menjadi contoh mahalnya biaya sebuah kebijakan yang tidak adaptif terhadap perubahan teknologi. Menurut Peter, pada era 1970-an Indonesia telah menjadi salah satu pusat produksi komponen semikonduktor di Asia Tenggara. Saat itu, perusahaan Amerika Serikat seperti Fairchild Semiconductor dan National Semiconductor membangun fasilitas produksi di Indonesia, termasuk di kawasan Cisalak, Jawa Barat. Pabrik Fairchild saja, kata dia, mempekerjakan sekitar 14.000 pekerja, menjadikannya salah satu industri elektronik terbesar di Indonesia saat itu.
Seiring berkembangnya teknologi, perusahaan tersebut berencana melakukan otomasi produksi agar mampu bersaing secara global. Otomasi memang berpotensi mengurangi sekitar 30% tenaga kerja, tetapi di sisi lain akan meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan investasi. Namun, menurut Peter, rencana tersebut ditolak pemerintah karena kekhawatiran terhadap dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). “Kita takut mem-PHK orang. Secara politik kita takut karena yang mengambil keputusan takut menghadapi tekanan buruh. Akhirnya perusahaan memilih hengkang ke Malaysia,” ujar Peter.
Ia menilai keputusan tersebut menjadi titik balik yang mengubah peta industri semikonduktor Asia Tenggara. “Kalau begitu kita tutup saja. Mereka pindah ke Malaysia, lalu berkembang menjadi salah satu pusat industri semikonduktor terbesar di ASEAN. Ini kelemahan Indonesia karena kita takut kepada pekerja,” katanya.
Peter menambahkan, persoalan itu bukan sekadar soal investasi, tetapi juga menunjukkan lemahnya reformasi hukum dan kepastian kebijakan. “Inilah yang saya katakan pembangunan tanpa reformasi hukum. Di situlah letak persoalan Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga
Bermitra dengan NTNU, President University Kembangkan Pendidikan Semikonduktor di Indonesia
Malaysia Memetik Buahnya
Apa yang disampaikan Peter Gontha sejalan dengan fakta sejarah perkembangan industri semikonduktor di kawasan. Pada awal 1970-an Indonesia memang menjadi salah satu tujuan investasi perusahaan semikonduktor Amerika Serikat. Selain Fairchild Semiconductor dan National Semiconductor, perusahaan seperti Monsanto juga beroperasi memproduksi material pendukung industri chip.
Namun memasuki pertengahan 1980-an, model bisnis industri semikonduktor global berubah drastis. Industri tidak lagi terintegrasi dari hulu hingga hilir, tetapi terfragmentasi menjadi spesialisasi desain chip, fabrikasi wafer, serta assembly, testing, and packaging (ATP).
Pada saat yang sama, Malaysia menawarkan berbagai insentif investasi yang jauh lebih kompetitif, didukung kepastian regulasi serta kebijakan industri yang lebih adaptif. Kondisi tersebut mendorong relokasi sejumlah fasilitas produksi dari Indonesia ke Malaysia.
Kini Malaysia menguasai sekitar 11% pangsa pasar global untuk aktivitas assembly, testing, and packaging (ATP) dan menjadi salah satu pusat semikonduktor terbesar di dunia. Sementara Singapura berkembang pada segmen fabrikasi wafer dengan kontribusi sekitar 5% produksi wafer global, sedangkan Vietnam, Thailand, dan Filipina juga aktif dalam rantai pasok industri chip internasional.
Pernah Diakui Pemerintah
Pernyataan Peter Gontha juga pernah dikemukakan pemerintah. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada webinar Global Chip Shortage and Indonesian Industry Opportunities pada 31 Agustus 2021 mengatakan Indonesia pernah memiliki industri komponen chip semikonduktor melalui investasi Fairchild Semiconductor dan National Semiconductor sejak 1973.
“Namun sayangnya pada 1985 dengan berbagai alasan kedua perusahaan tersebut hengkang keluar Indonesia, yang berakibat sejak itu Indonesia menjadi negara mayoritas pengimpor komponen chip semikonduktor,” kata Agus saat itu.
Menurut Agus, perubahan model bisnis industri semikonduktor global sejak 1980-an membuka peluang baru bagi banyak negara untuk masuk ke rantai nilai global melalui spesialisasi tertentu. Karena itu Indonesia perlu mengambil jalan pintas (shortcut) agar mampu kembali menjadi pemain penting dalam industri chip dunia.
Indonesia Belum Masuk Peta Dunia
Sementara itu, Sekretaris Jenderal International Economic Association, Lili Yan Ing, sebelumnya juga mengingatkan bahwa Indonesia hingga kini belum masuk dalam peta utama industri semikonduktor global. Dalam seminar Global and Domestic Economic Outlook 2026 pada Januari lalu, Lili menjelaskan bahwa Singapura telah menguasai industri fabrikasi wafer, Malaysia menjadi pemain utama ATP dunia, sedangkan Indonesia baru memiliki aktivitas terbatas pada tahap hilir melalui fasilitas perakitan dan pengujian milik Infineon di Batam.
Baca Juga
Nasib Investasi Semikonduktor Senilai US$ 4,9 Miliar di Batam Masih Terganjal Lahan
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar karena mempunyai cadangan bahan baku strategis seperti silika, timah, selenium, serta sumber daya manusia yang besar. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila reformasi struktural, iklim investasi, dan kepastian hukum diperbaiki secara konsisten.
Saat ini pemerintah juga mulai membangun ekosistem baru melalui Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDeC) yang melibatkan berbagai perguruan tinggi untuk mengembangkan kemampuan desain chip (fabless), sekaligus menarik investasi melalui berbagai forum seperti Indonesia Semiconductor Summit.
Momentum Kedua
Semikonduktor kini telah menjadi komoditas strategis dunia karena menjadi fondasi bagi hampir seluruh teknologi modern, mulai dari kecerdasan buatan (AI), pusat data, kendaraan listrik, telekomunikasi 5G, hingga sistem pertahanan.
Di tengah perang teknologi antara Amerika Serikat dan China serta relokasi rantai pasok global, banyak negara berlomba menarik investasi industri chip. ASEAN menjadi salah satu kawasan yang paling diuntungkan, tetapi Indonesia dinilai belum mampu memanfaatkan momentum tersebut secara optimal.
Bagi Peter Gontha, pengalaman kehilangan industri semikonduktor pada 1980-an menjadi pelajaran bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam atau besarnya pasar domestik. “Tanpa reformasi hukum, kepastian kebijakan, dan keberanian mengambil keputusan strategis, Indonesia akan terus kehilangan peluang-peluang besar yang sebenarnya pernah berada di depan mata,” tegasnya.
