Anindya Bakrie Apresiasi Langkah BI Jaga Stabilitas, Dunia Usaha Optimistis Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyambut positif seluruh langkah bauran kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional. Sinergi yang erat antara regulator dan pelaku usaha dinilai menjadi modal utama dalam menghadapi ketidakpastian serta berbagai tantangan ekonomi global yang sedang bergejolak.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan bahwa komunikasi intensif antara Bank Indonesia dan dunia usaha merupakan kunci krusial saat ini. Pihaknya sangat optimistis bahwa dunia usaha nasional mampu melewati situasi penuh tekanan ini dengan baik, terlebih tanda-tanda perbaikan ekonomi domestik sudah mulai terlihat jelas di lapangan. Terkait kebijakan moneter terbaru, Anin menilai kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate yang dilakukan oleh bank sentral memang sebuah langkah yang terukur dan ditujukan demi menjaga stabilitas pasar keuangan.
"Kami optimistis bisa melewati situasi ini. Tanda-tanda perbaikan sudah mulai terlihat. Kenaikan suku bunga yang dilakukan BI (Bank Indonesia) memang ditujukan untuk menjaga stabilitas dan kami mengapresiasi langkah tersebut," ujar Anin saat menghadiri Forum Diskusi Terkait Perkembangan Ekonomi dan Bauran Kebijakan Bank Indonesia Terkini di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (18/6/2026) malam.
Guna mengakselerasi pemulihan ini, Kadin Indonesia berkomitmen penuh untuk membangun sinergi yang kokoh dengan BI hingga ke tingkat daerah. Mengingat Kadin merupakan organisasi yang menaungi seluruh lanskap dunia usaha di Indonesia melalui jaringan di 514 kabupaten dan kota serta berbagai asosiasi bisnis, kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong agenda strategis pemerintah, mulai dari peningkatan nilai investasi, ekspansi ekspor, hilirisasi industri, hingga penguatan sektor UMKM.
Lebih lanjut, Anin menjelaskan bahwa sektor riil saat ini terus memacu kinerja ekspor demi memperbesar surplus neraca perdagangan sekaligus menambah pasokan devisa negara. Langkah strategis lain yang terus didorong oleh Kadin adalah memfasilitasi masuknya investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) untuk memperkuat kapasitas struktur industri nasional.
"Kami melihat optimisme tetap ada. Tantangan memang besar, tetapi peluang juga terbuka lebar. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, BI, perbankan, dan dunia usaha, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk menjaga stabilitas sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi," kata Anin menambahkan.
Merespons dukungan tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan komitmen penuh bank sentral untuk bekerja total dalam menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan nasional. Di tengah tingginya ketidakpastian global, BI memastikan bahwa seluruh instrumen kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran akan dikerahkan secara optimal untuk melindungi nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, memperkuat sistem keuangan, serta mendukung ekspansi dunia usaha.
"Kami ingin setelah pertemuan ini selesai, kita semua keluar dari ruangan ini dengan optimisme bahwa ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh, rupiah menguat, inflasi terkendali, dan kredit terus meningkat," kata Perry di hadapan para pengusaha.
Perry menggarisbawahi bahwa seluruh bauran kebijakan BI diarahkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi serta menyukseskan berbagai program strategis yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Pesan kami sederhana. Pertama, optimistis. Kedua, BI all out menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketiga, kami akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)," ucap Perry menjabarkan langkah strategisnya.
Baca Juga
Konflik Selat Hormuz Mereda BI Optimistis Rupiah Makin Menguat
BI senantiasa mengedepankan pendekatan pro-bisnis, tidak hanya bagi industri perbankan melainkan juga sektor riil. Memanfaatkan jaringan 46 kantor perwakilan di seluruh wilayah tanah air, BI siap berkolaborasi dengan Kadin di daerah untuk menggerakkan roda investasi, ekspor, industri pengolahan, dan ekonomi kerakyatan. Walau berkomitmen mendukung hilirisasi dan investasi, BI tetap menempatkan stabilitas makroekonomi sebagai prioritas utama agar pencapaian pembangunan nasional tidak terganggu oleh gejolak global.
"Kami mendukung penuh garis kebijakan Bapak Presiden. Saat terjadi tekanan eksternal dan gejolak pasar keuangan, tugas BI adalah memastikan stabilitas tetap terjaga agar kemajuan ekonomi yang telah dicapai tidak tergerus," tutur Perry secara tegas.
Membahas kondisi global, Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar, memaparkan situasi pasar internasional yang masih dihantui ketidakpastian tinggi. Meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata sementara pada 14 Juni 2026, dunia masih dibayangi oleh gangguan logistik global, ketegangan geopolitik, serta tingginya harga komoditas strategis yang berisiko menekan pertumbuhan ekonomi global.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat menjadi kisaran 3,0% pada tahun 2026 dari angka 3,4% pada tahun sebelumnya, dibarengi potensi kenaikan inflasi global ke level 4,4%. Fenomena ini memaksa bank sentral negara maju, khususnya Federal Reserve di AS, untuk mempertahankan sikap moneter yang ketat (hawkish). Kebijakan tersebut memicu penguatan dolar AS dan mendorong terjadinya pembalikan modal (capital outflow) dari pasar negara berkembang ke negara maju.
"Tekanan eksternal tersebut menjadi tantangan bagi seluruh emerging markets, termasuk Indonesia," ungkap Firman menjelaskan risiko eksternal yang ada.
Kendati demikian, Firman meyakinkan bahwa fundamental ekonomi domestik Indonesia masih berada dalam kondisi yang kokoh. Hal ini tecermin dari konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, realisasi stimulus fiskal pemerintah yang berjalan baik, indeks keyakinan dunia usaha yang konsisten di zona ekspansi, serta investasi yang terus merangkak naik. Atas dasar itulah, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini tetap tangguh pada kisaran 4,9% hingga 5,7%.
Baca Juga
Jurus Makroprudensial Baru BI untuk Genjot Sektor Perumahan, Apa Itu?
Sebagai langkah mitigasi menahan tekanan eksternal, BI secara agresif telah memperkuat bauran kebijakan moneter sejak Mei 2026. Setelah mengerek BI Rate sebesar 50 basis poin pada Mei dan kembali menaikkannya sebesar 25 basis poin dalam rapat tidak terjadwal pada 9 Juni, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin lagi pada Rapat Dewan Gubernur Juni hingga menyentuh level 5,75%.
Selain memainkan instrumen suku bunga, BI juga mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing, meningkatkan daya tarik imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memperluas operasi moneter, serta menyalurkan insentif untuk menarik aliran modal asing kembali ke pasar keuangan domestik.
"Kebijakan yang kami tempuh mulai menunjukkan hasil positif. Aliran modal asing ke SRBI dan Surat Berharga Negara mulai meningkat, rupiah menguat, dan cadangan devisa tetap kuat," kata Firman memaparkan indikator perbaikan modal asing. Dari sisi inflasi, perkembangannya masih sangat terkendali, di mana per Mei 2026 tercatat berada di level 3,08% secara tahunan, yang berarti masih berada dalam koridor target sasaran BI sebesar 2,5% plus minus 1%.
Pada fungsi intermediasi dan pertumbuhan ekonomi, BI konsisten menerapkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Hasilnya, pertumbuhan kredit perbankan per Mei 2026 mampu tumbuh dua digit di level 11,5% secara tahunan, ditopang oleh pembiayaan sektor investasi dan program produktif pemerintah.
Demi mempercepat penyaluran kredit, BI memperbesar alokasi insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang per Juni 2026 realisasinya telah menembus Rp418 triliun. Stimulus likuiditas ini diberikan khusus kepada perbankan yang aktif menyalurkan pembiayaan ke sektor prioritas seperti proyek hilirisasi, UMKM, ketahanan pangan, sektor perumahan, dan pengembangan ekonomi hijau. Selain itu, BI turut melonggarkan pengelolaan likuiditas bank serta menaikkan batas Rasio Pendanaan Luar Negeri guna memperluas opsi pembiayaan bagi sektor riil yang produktif.
Agenda diskusi strategis ini juga dihadiri oleh jajaran petinggi pengurus Kadin Indonesia, antara lain Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah (OKP) Erwin Aksa, WKUK Bidang Pangan Mulyadi Jayabaya, WKUK Bidang Pengembangan Ekspor Juan Permata Adoe, serta WKUK Bidang Hukum dan HAM, Sarana/Prasarana M. Azis Syamsuddin.

