Anindya Bakrie Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Kuat Tahun Depan
Poin Penting
| ● | Anindya Bakrie optimistis ekonomi Indonesia 2026 menguat berkat stabilitas global dan suku bunga ramah. |
| ● | Sektor konsumsi, pariwisata, manufaktur, dan hilirisasi dinilai jadi pendorong utama pertumbuhan. |
| ● | Anin tekankan kolaborasi pemerintah–BUMN–swasta untuk dorong ekonomi dan perbaikan likuiditas usaha. |
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie optimistis perekonomian Indonesia pada 2026 akan tumbuh lebih kuat. Ia menyebut kombinasi stabilitas geopolitik global dan lingkungan suku bunga yang lebih bersahabat akan menjadi angin positif bagi dunia usaha.
Pria yang akrab disapa Anin itu menekankan, kepemimpinan Amerika Serikat di G20 pada Desember 2026, serta China di APEC pada Oktober akan menjadi katalis terciptanya iklim global yang lebih kondusif. “Dunia tentu akan lebih datar, lebih kondusif,” kata Anin di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Dari sisi domestik, Anin menilai Indonesia berada dalam posisi makro yang solid. Di sisi lain, lingkungan suku bunga global yang mulai bersahabat, menurutnya, akan menjadi motor tambahan pertumbuhan.
"Untungnya Indonesia inflasinya terjaga, dua persenan. Nah, jadi dari itu semua pun kalau kita lihat dari sisi isilahnya jumlah hutangnya pemerintah dan juga dunia usaha digabung itu masih dalam level 45 persenan. Jadi masih dalam kondisi yang sangat baik," jelasnya.
Saat ditanya sektor-sektor mana yang pendorong pertumbuhan, Anin melihat industri yang terkait belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga akan bergerak lebih cepat. Sementara sektor pariwisata disebut sebagai salah satu yang paling potensial, seiring membaiknya mobilitas dan akses.
"Industri manufaktur juga akan terdorong oleh perluasan akses dagang melalui CEPA dengan Uni Eropa dan Kanada. Tekstil, alas kaki, furniture, elektronik ini akan besar,” sambungnya.
Baca Juga
Ketum Anindya Bakrie Salurkan Langsung Bantuan Kadin ke Aceh, Sumut, dan Sumbar
Selain perdagangan, ia menilai momentum hilirisasi mineral kritis perlu dijaga dengan insentif dan deregulasi yang konsisten. Sektor energi terbarukan, menurutnya, memasuki fase menarik karena teknologi semakin efisien dan pasar domestik terus berkembang.
Meski optimistis, Anin juga mengingatkan bahwa tahun depan akan menjadi tahun ujian bagi pemerintahan baru, terutama dalam mengejar pertumbuhan di atas 5,5%. Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat fondasi kolaborasi antar-pemangku kepentingan.
"Jadi (tahun 2026) ini akan menarik. Sebelum masuk ke stimulus mungkin masuk ke mindset dulu, bahwa mindset public private partnership itu benar-benar mesti dilaksanakan, dipercayai dan ini juga merupakan aspek dari Indonesia Incorporate," jelas Ketum Kadin Indonesia.
Menurut Anin, implementasi nyata kerja sama pemerintah, BUMN, dan swasta juga akan memberi dorongan besar bagi aktivitas ekonomi. Kolaborasi di tingkat operasional dinilai lebih berdampak daripada sekadar kesepakatan investasi di level atas.
Ia juga menilai peningkatan likuiditas lewat instrumen pembiayaan dan percepatan pembayaran BUMN kepada pelaku usaha akan memperbaiki arus kas sektor riil. “Itu akan membantu sekali untuk cash flow dari teman-teman di dunia usaha,” ujarnya.
Dengan modal stabilitas makro, perbaikan iklim global, dan kolaborasi yang lebih erat antar-stakeholder, Anin percaya diri ekonomi Indonesia pada 2026 memasuki fase lebih optimis. “Kalau Indonesia Incorporate dijalankan, saya rasa itu akan membawa angin segar,” pungkasnya.

