Program Desa Emas Ubah Singkong Jadi Sumber Pemberdayaan Ekonomi Desa
Poin Penting
|
MAGELANG, investortrust.id – Program pemberdayaan Desa Emas yang digagas Yayasan Indonesia Setara (YIS) bersama Inotek mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui pengembangan usaha berbasis singkong. Salah satu penerima manfaat, Nurlaela, berhasil mengembangkan usaha olahan singkong yang kini mampu meningkatkan pendapatan petani dan kelompok usaha perempuan di wilayahnya.
Nurlaela mengolah singkong menjadi keripik singkong presto dan nori berbahan daun singkong. Berkat pelatihan, pendampingan, serta bantuan peralatan produksi yang diberikan melalui program Desa Emas, kapasitas produksinya meningkat signifikan dari sekitar 5 kilogram per hari menjadi 1 kuintal per hari.
"Alhamdulillah saya mendapatkan pelatihan mulai dari pengembangan produk, perbaikan kemasan, fotografi produk, hingga pelatihan ekspor. Saya juga mendapat bantuan alat produksi dan kesempatan mengikuti pameran di Jakarta sehingga produk kami semakin dikenal," katanya dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).
Baca Juga
Prabowo Bidik RI Mandiri Energi dari Batubara hingga Singkong dalam 2 Tahun
Peningkatan kapasitas usaha tersebut berdampak langsung pada perekonomian masyarakat sekitar. Nurlaela bersama warga membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Rejeki yang menjadi wadah pemberdayaan perempuan melalui pengolahan pangan berbasis komoditas lokal.
Melalui KUB tersebut, anggota yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp20.000-Rp25.000 per hari kini dapat memperoleh pendapatan Rp50.000-Rp60.000 per hari dari kegiatan produksi keripik singkong dan nori daun singkong.
Tidak hanya meningkatkan pendapatan perempuan desa, perkembangan usaha tersebut juga memberikan manfaat bagi petani lokal. KUB Sari Rejeki membeli singkong dari petani dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram, jauh di atas harga pasar sebelumnya yang hanya berkisar Rp500 per kilogram.
Kenaikan harga jual tersebut mendorong peningkatan pendapatan petani sekaligus memicu kembali minat masyarakat untuk membudidayakan singkong sebagai komoditas pertanian.
Baca Juga
Tuntaskan Konflik Petani, Mentan Amran Tetapkan Harga Singkong hingga Larangan Impor
Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan kisah Nurlaela menunjukkan bahwa inovasi berbasis potensi lokal mampu menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat.
"Dari singkong dan daun singkong yang dulu dianggap biasa, kini tumbuh harapan baru bagi perempuan, petani, dan keluarga desa untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera," ujar Sandiaga.

