Sumarecon (SMRA) Ungkap Strategi Redam Efek Pelemahan Rupiah pada Bisnis Properti
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menmebus Rp 18.000 per dolar AS belum mendorong kenaikan harga rumah, terutama untuk segmen rumah tapak. Pengembang properti tersebut mengaku mampu menjaga biaya konstruksi tetap terkendali berkat strategi kontrak jangka panjang dengan pemasok dan kontraktor besar.
Presiden Direktur Summarecon Agung Adrianto P. Adhi menjelaskan bahwa langkah antisipasi terhadap gejolak nilai tukar sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum rupiah mengalami tekanan. Perseroan secara konsisten bekerja sama dengan pemasok berskala besar untuk memperoleh harga yang lebih kompetitif melalui volume pembelian yang besar.
"Sejak sebelum ada pelemahan rupiah, secara konsisten kami setiap tahun itu dengan suplier-suplier besar telah bekerja sama, supaya kita mendapatkan harga yang bagus, karena kita punya volume yang besar, sehingga dengan volume gede, kita dealing sama suplier besar, sama captive market-nya ada di kami," ujar Adrianto P. Adhi saat konferensi pers seusai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) SMRA di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga
Menurutnya, skala pembelian yang besar memberikan posisi tawar lebih kuat dalam negosiasi harga sehingga perusahaan dapat memperoleh biaya terbaik. "Jelas, pasti, kami pun juga bisa mendapatkan harga terbaik. Itu sudah kita lakukan sebelum ada guncangan rupiah. Itu yang menolong kami ketika kita sudah punya perjanjian jangka panjang, baik dengan suplier maupun kontraktor," katanya.
Dia mengatakan, Summarecon telah mengikat sejumlah pekerjaan pembangunan dalam kesepakatan harga yang telah ditentukan sebelumnya. "Sepanjang kontrak yang sudah kita tangani, memang itu tidak terlalu banyak perubahan," ujarnya.
Meski demikian, perusahaan mulai melihat adanya potensi kenaikan biaya pada sejumlah komponen pendukung akibat naiknya biaya transportasi material.
"Memang sudah ada tanda-tanda bahwa karena solar naik, berarti pengangkutan pasir, material alam juga akan berubah. Mereka ada tanda-tanda naik, tapi sejauh ini belum berdampak kepada misalnya cost construction kita naik, kemudian harga (rumah) jadi naik, belum sampai sana," katanya.
Dia menegaskan bahwa kondisi tersebut masih dapat dikelola karena sebagian besar pekerjaan saat ini masih menggunakan kontrak lama yang telah disepakati sebelumnya. "Karena ini masih kita manage, dan masih banyak pekerjaan-pekerjaan yang dengan deal lama," ujarnya.
Adhi menilai rumah tapak memiliki eksposur yang lebih kecil terhadap fluktuasi nilai tukar dibandingkan proyek apartemen bertingkat tinggi. "Kalau landed house, itu komponen dolarnya lebih sedikit. Tapi kalau kita bangun high-rise, itu kan yang jelas ada lift, ada teknologi-teknologi," katanya.
Ia menjelaskan bahwa rumah tapak tetap menggunakan beberapa komponen impor, tetapi porsinya tidak sebesar proyek apartemen. "Nah kita kan sekarang banyak membangun landed, karena apartemen kurang bagus, kita belum membangun apartemen, jadi belum menjadi satu isu akan ke sana, tapi kita sudah mengantisipasi," ujarnya.
Dukung Program 3 Juta Rumah
Di sisi lain, Summarecon memandang program 3 juta rumah yang digagas Presiden Prabowo sebagai kebijakan yang memiliki dampak sosial besar. "Program 3 juta rumah ini pasti juga sesuatu yang bagus. Presiden Prabowo ketika menelorkan program ini lebih kepada pengentasan kemiskinan," katanya.
Menurutnya, penyediaan hunian layak akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang selama ini belum memiliki rumah yang memadai. "Dengan masyarakat yang tidak punya rumah layak dihuni, diberikan program ini, ada pengentasan kemiskinan, ada peningkatan kualitas hidup masyarakat yang mendapat program 3 juta rumah ini. Saya appreciate terhadap Presiden Prabowo dengan program ini," ujarnya.
Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan rumah baru, tetapi juga mencakup renovasi rumah yang sudah ada. "Summarecon sudah masuk di 500 rumah di Bekasi dan itu kita manfaatkan," katanya.
Saat ini, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman masih menyusun formula yang tepat agar pengembang swasta dapat terlibat lebih luas dalam program tersebut.
Baca Juga
Gandeng Buddha Tzu Chi dan Kemensos, Summarecon (SMRA) Perluat Komitmen Berkelanjutan
"Sekarang Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman sedang fokus bagaimana membuat rumah-rumah untuk masyarakat dalam program 3 juta rumah ini memakai tanah-tanah pemerintah, BUMN dan sebagainya," ujarnya.
Summarecon mengaku terus terlibat aktif dalam berbagai pembahasan dengan pemerintah guna mencari model kerja sama yang saling menguntungkan. "Walaupun sampai saat ini memang belum ketemu skemanya bagaimana kalau pengembang itu ikut dalam pengembangan program 3 juta rumah," katanya.
Perusahaan bahkan telah menyiapkan sejumlah usulan yang saat ini masih dibahas bersama pemerintah. "Summarecon secara aktif diskusi dan terus mengirimkan wakil untuk mengurus diskusi itu. Summarecon sendiri sebetulnya juga sudah punya usulan, skema yang bagaimana yang cocok untuk pengembang sekarang sedang digodok," ujarnya.
