Polda Jatim Tangkap Provokator dan Tetapkan 42 Tersangka Kerusuhan Surabaya
Poin Penting
|
SURABAYA, Investortrust.id – Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) menangkap dua orang terduga provokator yang diduga menggerakkan massa dalam kerusuhan dan pembakaran Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada akhir Agustus lalu.
Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi Jules Abraham Abast, menyebut kedua pelaku berperan menyebarkan ujaran kebencian di media sosial serta memprovokasi aksi anarkis. "Dari pengembangan ada dua pelaku yang mengaku mengerahkan atau mengajak massa kurang lebih 70 orang untuk bersama melakukan perusakan dan pembakaran di Gedung Grahadi," ujarnya di Surabaya, Minggu (7/9/2025) seperti dikutip Antara.
Menurut Abast, para pelaku mengumpulkan massa di sebuah warung kopi sebelum bergerak ke pusat kota. Polisi kini mendalami isi ponsel kedua orang tersebut dan menelusuri jaringan kelompok yang terlibat dalam perusakan Gedung Grahadi, Mapolsek Tegalsari, serta sejumlah pos lalu lintas di Surabaya.
Sebelumnya, Polda Jatim telah menetapkan 42 tersangka dalam kerusuhan 29–31 Agustus 2025. Dari jumlah itu, sembilan ditangani langsung oleh Polda Jatim, termasuk delapan anak yang kedapatan membuat dan melempar bom molotov ke sisi barat Gedung Grahadi hingga menyebabkan kebakaran. Sementara 33 tersangka lain ditetapkan Polrestabes Surabaya, enam di antaranya juga anak-anak. Total 315 orang sempat diamankan dalam peristiwa tersebut.
Baca Juga
Komnas HAM Didesak Bentuk Tim Pencari Fakta Kerusuhan Massal
"Yang kami temukan dari hasil penyidikan memang ada dugaan upaya oleh kelompok tertentu untuk menciptakan kerusuhan. Kelompok ini harus dibedakan dari pengunjuk rasa yang menyampaikan aspirasinya dengan benar," kata Abast. Ia menambahkan, polisi juga mengidentifikasi kelompok serupa yang melakukan aksi di Kediri dan Tulungagung.
Di tengah upaya penegakan hukum, ratusan relawan dari Barisan Gus dan Santri Jawa Timur (Baguss Jatim) turun tangan membersihkan sisa kebakaran di Gedung Negara Grahadi, Minggu (7/9). Sebanyak 117 relawan yang terdiri atas 17 pengasuh pondok pesantren dan 100 santri membersihkan ruang kerja Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, ruang Kabiro Umum, protokoler, Kabag Rumah Tangga, staf, dan gudang Biro Umum.
"Gedung bersejarah ini perlu dirawat dengan senang hati dan jiwa ksatria. Santri mencerminkan akhlak," ujar Sekretaris Baguss Jatim, Gus Mohaimin. Ia menegaskan keterlibatan santri merupakan wujud kecintaan kepada Tanah Air sebagaimana diajarkan para ulama pendiri bangsa.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menilai Pemerintah Kota Surabaya juga telah menunjukkan tanggung jawab dalam mengatasi dampak kerusuhan. Ia menuturkan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, hadir di lapangan saat situasi memanas, bahkan membantu mengatur lalu lintas. "Dalam kondisi chaos begitu, tidak semua orang berani hadir, tapi wali kota memilih bersama warganya," kata Fathoni.
Keesokan harinya, lanjut Fathoni, Wali Kota langsung meninjau kerusakan dan memimpin pembersihan sejumlah ruas jalan. Ia menilai langkah itu sebagai bukti tanggung jawab kepemimpinan yang menenangkan masyarakat. "Pemkot tidak hanya hadir sesaat, tapi benar-benar bertanggung jawab sampai tuntas," ujarnya.
Menurut Fathoni, momen ini bisa menjadi titik balik untuk memperkuat kepercayaan antara warga dan pemerintah. "Dalam demokrasi, kritik itu sah dan harus dihargai. Namun jangan sampai kritik menutup ruang bagi kita untuk melihat fakta positif yang juga ada. Justru dengan saling percaya, kota ini bisa lebih cepat pulih dan bangkit," tutupnya.

