Gerakan Sempurna Menjadi Pemilih Rasional dan Cerdas
Oleh Ramdansyah,
Pimpinan Rumah Demokrasi
dan Ketua Panwaslu Provinsi DKI Jakarta Tahun 2008-2011
INVESTORTRUST.ID - Memasuki minggu tenang, ternyata tidak setenang yang diharapkan. Debat kandidat calon presiden dan wakilnya sudah berakhir, tetapi debat para pendukungnya masih berlanjut hingga minggu tenang.
Ini mungkin pertempuran terakhir sebelum akhirnya kita memutuskan untuk bergerak mencapai kesempurnaan. di tanggal 14 Februari 2024. Pada akhirnya, penulis yakin kita menyempurnakan diri sebagai pemilih rasional dan cerdas.
Pengetahuan tentang calon presiden diasumsikan sudah dikenal dengan baik. Ada sisi positif dan negatif dari masing-masing pasangan calon. Itu yang harus diakui oleh pemilih rasional. Pasalnya, mereka yang terlalu sempurna adalah malaikat, nabi, dan rasul yang telah dipilih Tuhan.
Pengetahuan yang tidak sempurna tentang masing-masing calon membuat kita semua menjadi subyektif. Kadang, pengetahuan juga tidak lagi menjadi sesuatu gambaran yang ada di benak kepala, tetapi sudah bertambah dengan emosi.
Baca Juga
NU dan Muhammadiyah Harap Pilpres 2024 Tetap Kondusif hingga Selesai
'Die Harder'
Pemilih yang memiliki preferensi A, maka akan mudah terpetakan dengan frekuensi posting-an di media sosial untuk memuja A. Terkadang, sesekali posting-an menyerang lawan pasangan calon A.
Demikian juga pemilih dengan preferensi B dan C. Bahkan, beberapa pendukung menjadi 'die harder' atau pembela mati-matian dari masing-masing pasangan calon.
Di group Whatsapp di mana penulis menjadi admin, yakni Forum Akselerasi Masyarakat Madani Indonesia (FAMMI), terdapat 'die harder' pasangan calon tertentu. Beberapa anggota meminta untuk meng-kick out yang bersangkutan, tetapi rapat para admin yang berjumlah lima orang sepakat bahwa seorang 'die harder' akan mencapai kesempurnaan pada akhirnya.
Yah, bisa 'mati lemas' karena jagoannya kalah, atau 'mati kegirangan' karena jagonya menang satu putaran. Yah, semua akan mencapai kesempurnaan, 'kematian'. Sebuah gerak sempurna.
Sementara itu, di group Whatsapp sekolah di mana penulis menjadi alumninya di Jakarta Utara, yakni grup SMA 13. masih ada yang minta petunjuk untuk mencapai gerak sempurna. Padahal, di group ini isinya orang-orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang para calon presiden di Pemilu 2024.
Keinginan untuk mendapatkan petunjuk siapa yang ingin dipilih menunjukkan mereka belum siap untuk menyempurnakan dirinya dan pilihannya. Pengumpulan data informasi calon presiden dan wakil presiden masih belum cukup, padahal informasinya sangat berlebih di era digital sekarang ini. Sikap empati dengan mendukung pasangan calon masih tetap membuat keraguan. Beberapa bahkan mulai hijrah mendukung pasangan calon lainnya.
Berbeda dengan 2 group Whatsapp yang sudah saya bahas di atas, group Whatsapp SMP 30 Jakarta dan SDN Lagoa 05 Jakarta Utara tidak terlalu membahas soal capres dan cawapres. Sejumlah anggota sesekali menulis pesan tentang Pemilu Damai 2024. Minggu tenang benar-benar tenang di sini.
Penulis tidak tahu apakah mereka terpapar dengan baik informasi tentang capres dan cawapres. Ketidakpedulian terhadap pasangan calon yang akan dipilih menjadi ciri dari kelompok ini.
Baca Juga
Dari gambaran 4 group Whatsapp yang dibahas oleh penulis memperlihatkan rentang subyektifitas para pemilih. Di group FAMMI yang berisikan kelompok tercerahkan karena berasal dari sejumlah aktivis dan akademisi terjadi perdebatan yang sehat, sehingga pembiaran terhadap 'die harder' untuk menggiring opini kepada pasangan calon tertentu tidaklah dianggap negatif.
Subyektiftas diperlukan sebagai empati terhadap pilihan yang akan diambil, meskipun dianggap berlebihan. Pada akhirnya, rasionalitas yang muncul adalah pilihan yang menguntungkan bagi 'die Harder', tetapi dapat di-counter dengan baik mereka yang memiliki kepentingan yang berbeda. Dari sini, penulis yakin tidak akan ada hijrah politik ke pasangan calon yang bukan pilihannya dari awaldi hari H pelaksanaan pemungutan suara
Sedangkan pada group SMA 13 subyektifitas terjadi, tetapi tidak terlalu dalam. Tidak ada 'die harder' yang memperjuangan pasangan calon presiden secara keras dan konsisten. Perdebatan terjadi lebih kepada selera, bukan pada rasionalitas yang menguntungkan bagi anggota group yang bersangkutan. Pada akhirnya, piihan akan jatuh menjelang masuk ke bilik suara tanggal 14 Februari 2024.
Pada group Whatsapp SMP dan SD yang tenang di minggu tenang, tanpa ada riak apa pun, maka potensi yang muncul adalah bisa saja mereka tidak ke tempat pemungutan suara (TPS). Alasannya, mereka tidak punya kepentingan apa pun terhadap masing-masing calon presiden dan wakil presiden. Mereka memiliki rasionalitas, bahwa selama tidak menguntungkan, lalu mager (males gerak), buat apa pergi ke TPS.
Dari keempat group tersebut, pada akhirnya, mereka akan tiba pada harakatul jauhariyah atau gerak sempurna untuk memilih atau tidak memilih di tanggal 14 Februari 2024. Akan sempurna rasanya setelah kita melewati tanggal 14 Februari.
Pemilih rasional tentunya akan memilih berdasarkan pengetahuan, empati, dan tindakan rasional apakah pilihannya menguntungkan secara ekonomi atau tidak bagi para pemilih tersebut. Mereka yang mager juga memiliki pilihan rasional itu. Indonesia pun akan indah pada akhirnya, dengan siapa pun presiden dan wakil presidennya.
Jadi, selamat memilih.
Jakarta, 13 Februari 2024

