Hidup Itu tentang Belajar, Bukan Menjadi Sempurna
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID – Banyak orang mengejar kesempurnaan, terutama dalam bekerja. Padahal, sejatinya, manusia butuh belajar dalam setiap fase kehidupan.
Lagi pula, orang yang mengejar kesempurnaan akan lebih mudah diserang stres dan cenderung skeptis. Sebaliknya, orang yang menjadikan setiap fase kehidupan sebagai bahan pembelajaran lebih antusias dalam menjalani kehidupan.
Prinsip ‘belajar dari kehidupan’ dipegang teguh President Director PT Bundamedik Tbk (BMHS), Agus Heru Darjono.
“Saya percaya, life is about learning, not being perfect. Kehidupan itu harus dimaknai sebagai sebuah pembelajaran, bukan untuk mencari kesempurnaan karena kesempurnaan hanya milik Tuhan,” ujar Agus kepada wartawan investortrust.id, Zsazya Senorita Mc Ramadhani, Defrizal, dan Abdul Aziz di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Agus Heru Darjono berpandangan bahwa prinsip tersebut justru akan membuat manusia antusias menjalani kehidupan, termasuk pekerjaan. Tidak seperti kesempurnaan, yang lebih sering menimbulkan stres dan tekanan.
Mengutip ungkapan John Maxwell, Agus menegaskan bahwa terkadang manusia bisa memenangi keadaan, namun terkadang juga belajar dari sebuah kegagalan (sometimes we win, sometimes we learn).
“Makanya dalam memimpin organisasi, saya bilang, ketika akan mengeksekusi sesuatu jangan terlalu berdebat di strategi. Punya analisis apa, cepat dilaksanakan, supaya belajar dari situ. Strategi yang baik adalah strategi yang dieksekusi,” tandas dia.
Agus Heru Darjono adalah salesman tulen. Sebelum menakhodai Bundamedik, eksekutif ini memulai karier sebagai medical representative. Jenjang karier Agus naik bertahap, mulai dari bagian frontliner hingga pucuk organisasi. Itu turut membentuk gaya kepemimpinan mantan direktur PT Pfizer Indonesia ini.
Bagi dia, meniti karier bukan perkara ‘naik jabatan’, melainkan tentang peningkatan kompetensi. Untuk bisa bertahan dan relevan di dunia kerja dalam jangka panjang, Agus menuntaskan pendidikannya hingga meraih gelar doktor.
“Karena nanti kompetensi first, ya price will follow. Di posisi presdir memang tantangan semakin kompleks namun just do the best, and then let God do the rest,” imbuhnya.
Dalam perjalanan menuju sukses, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut merasa bahwa sikap jujur dan suka memberi turut andil pada peningkatan taraf hidupnya. Pasalnya, kegiatan berbagi dalam bentuk apa pun, selalu berbalik menjadi berkat lebih bagi Agus dan keluarga.
“Saya percaya, Tuhan itu butuh bendahara. Saat kita bisa menjadi penyalur (bantuan Tuhan) dengan baik, ya kita kecipratan banyak juga. Jadi, ketika saya sibuk mikirin orang lain, seperti karyawan dan perusahaan, Tuhan akan mikirin keluarga saya,” tutur dia. Berikut penuturan lengkapnya:
Bagaimana Anda memulai karier?
Saya lulusan analis kesehatan, se-level SMA. Waktu itu ambil analis supaya cepat kerja, bantu orang tua. Analis kesehatan itu kerjanya bisa di laboratorium rumah sakit atau di pabrik sebagai quality control analis kimia.
Pertama kerja di laboratorium pabrik gula daerah Pati, ternyata cuma bisa enam bulan karena tidak sesuai dengan personality saya. Di laboratorium kan mengecek kadar gula, kadar air, padahal saya sukanya ketemu orang.
Suatu saat, kakak kelas yang dulu di analis itu, menginformasikan mau nggak menjadi medical representative, basis yang detailer, kelilingan ke dokter, menawarkan obat. Itulah awal karier saya di Pfizer sebagai frontliner banget, level terbawah kalau dari sisi sales structure.
Saya 22 tahun di sana (Pfizer). Bersyukur banyak kesempatan, dari medical representative di divisi sales, kemudian diminta pindah ke training sampai sales director. Kemudian ditawari di marketing, human resource, strategic planning, business development, hingga jadi business operation director di Pfizer dan selanjutnya pegang Pfizer regional lima negara.
Jadi, saya pegang Indonesia, Singapura, Malaysia, Australia, New Zealand. Nggak sampai setahun, Pfizer Indonesia minta lagi saya balik untuk pegang marketing director.
Cara Anda meningkatkan kapasitas diri?
Waktu masih jadi sales, saya pindah-pindah dari Semarang, Surabaya, kemudian Bali. Capai insentif gitu ya, dapat reward sana-sini, nggak kepikiran untuk kuliah. Saya merasa, sudah fine-fine saja.
Sampai suatu saat yang mengubah hidup saya adalah ketika sore-sore di tempat kos di Bali sambil minum kopi gitu, muncul pertanyaan. Agus Heru yang saat ini dibanding lima tahun lalu, yang berubah apa sih? Nah, ya juga ya? Bahasa Inggris saya nggak bergerak. Ilmu saya gitu-gitu aja.
Di situ saya tahu jebakannya adalah saya hanya bertumbuh secara angka (sales). Tetapi secara individual saya nggak bertumbuh apa-apa. Nah, sejak saat itu saya nggak bisa nih begini. Saya harus upgrade.
Mulailah mikir sekolah untuk S1. Kemudian ambil kursus bahasa Inggris. Kalau di Bali enak, habis kursus bahasa Inggris terus ke pantai, praktik langsung. Saya mulai kasih target kepada diri saya. Setahun satu buku, setahun dua buku, setahun tiga buku. Kemudian sebulan satu buku. Sampai akhirnya sebulan dua buku. Sampai buku itu jadi makananlah gitu.
Saya selesaikan S1, tetapi dipindah ke Jakarta. Jadi, saya selesaikan S1 di Sekolah Tinggi Ekonomi Jakarta. Dari sini, setiap dapat reward atau insentif, saya langsung mengalokasikan untuk menabung, ambil S2. Saya selesaikan S2 di PPM.
Proses Anda meniti karier?
Setelah di Pfizer selama 22 tahun, merasa juga kok kelamaan ya. Ternyata karena setiap dua tahun pasti ada perubahan, antara dipindah lokasi, dipindah divisi, atau dapat promosi. Itu yang membuat waktunya nggak terasa.
Hikmahnya saat di divisi sales, ditawari ke marketing, kemudian human capital, saya nggak pernah tanya berapa gajinya. Karena bagi saya, ini adalah kesempatan yang baik untuk saya belajar hal baru, punya kompetensi baru.
Jabatan saya berikutnya, suppose to be country manager Pfizer. Namun secara historis, posisi ini tidak pernah diisi oleh orang lokal. Makanya waktu saya kasih surat resign ditahan oleh atasan saya orang Amerika, saya bilang my next position is your position and most likely impossible.
Rencananya saya mau istirahat sebentar dari industri farmasi. Namun di tengah proses mengundurkan diri dari Pfizer, ada tawaran dari Merck Sharp and Dohme (MSD) untuk menjadi direktur. Setelah selesai S2, saya merasa harus belajar lagi, maka saya ambil S3 di IPB.
Kuliah dan karier bisa berjalan beriringan?
Waktu di MSD, saya pegang komersial yang banyak event di hari Sabtu dan Minggu. Sementara kuliah di IPB itu Sabtu offline. Saya pikir, nggak bisa nih. Saya harus pilih salah satu.
Singkat cerita, ya sudah, saya pikir sekolah saja. Jadi, saya mengajukan resign tetapi sudah menabung untuk kuliah ini. Ternyata bos di regional MSD nggak kasih izin. Tapi saya bilang, nggak bisa dong, masa setiap Sabtu pasukan saya berperang di event, leader-nya nggak ada. Karena bagi saya, leader itu harus hadir. Singkat cerita, saya resign namun diminta six month notice.
Mirip kejadian di Pfizer. Waktu masa resign, saya dihubungi headhunter yang menawarkan pekerjaan di PT Darya-Varia Laboratoria untuk posisi direktur juga.
Agak anehnya, ketika di akhir obrolan, bos di Darya, yang orang Filipina bilang, saya mau tawarin kamu jadi direktur HRD. Padahal pengalaman saya di HRD hanya sebagai manajer.
Mereka berencana merombak organisasi, sehingga mencari HRD yang mengerti bisnis. Kebetulan, pekerjaan HRD ini kan nggak kerja di akhir pekan.
Untungnya, kalau mendapat tawaran saat masih menjadi karyawan di perusahaan sebelumnya, nilai jual kita lebih tinggi. Karena tawarannya cocok, pindahlah saya ke Darya dan menyelesaikan kuliah.
Namun saya sudah berpesan, one day mungkin 2-3 tahun saya akan balik ke komersial karena kalau tidak ada target angka, adrenalin tidak naik. Setelah saya benahi human capital di Darya, benar saja di tahun ketiga ada tawaran untuk komersial. Tapi di tempat lain.
Karena di Darya belum ada kebutuhan di posisi komersial, pindahlah saya ke Metro Drug Indonesia (Zuellig Group) sebagai presiden direktur. Akhirnya selesai juga S3 pada tahun 2018.
Dengan banyak kesibukan, Anda punya cukup waktu untuk keluarga?
Saya punya anak cuma satu, perempuan. Begitu dia lulus SMA, karena saking sibuknya (saya). Tiba-tiba dia datang ke saya bahwa dia sudah dapat beasiswa, diterima di lima universitas, dua di Amerika, dua di Kanada, satu di Australia.
Dia presentasikan, pilihan universitas dengan matrik kesesuaian fakultas, sampai keamanan negara. Dia pilih Kanada.
Setelah itu, saya feeling guilty karena anak cuma satu tapi dia cari kuliah sendiri, apa-apa sendiri. Saya kok kayak gak ngurus sih. Terus saya bilang ke istri, kita temani dia 2-3 bulan. Untuk ini, saya rencana resign dulu.
Sempat ditahan juga, disuruh unpaid leave saja. Sama, juga saya bilang, nggak bisa jadi leader yang sudah closing tahun, tiba-tiba saya masuk. Yang berjuang anak buah saya. Setelah menemani anak, merasa sudah menebus rasa bersalah, saya kembali ke Indonesia.
Setelah istirahat, bagaimana kelajutan karier Anda?
Nggak sampai seminggu, saya dihubungi Bernofarm Pharmaceutical, produsen Vitalong C. Saya diajak join menjadi vice president (VP) yang menangani internasional business, pegang product development, dan lain-lain.
Tadinya saya agak ragu karena ini akan menjadi perusahaan lokal pertama yang saya masuki. Dibelikanlah saya tiket, saya disuruh lihat dulu pabrik mereka di Surabaya. Luar biasa, perusahaan lokal tetapi tidak ada satu pun mesinnya yang dari China atau Taiwan. Semua Jerman, Eropa. Di situ saya yakin, berarti produknya bagus kan.
Masuk deh saya ke Bernofarm, kemudian Covid-19 datang. Baru enam bulan, Darya-Varia tahu juga kalau saya sudah tidak di Zuellig Pharma. Darya-Varia menawarkan posisi direktur strategi di komersial. Saya bilang, nggak bisa karena saya masih baru di sini. Saya tetap kerja di Bernofarm satu tahun.
Ternyata saya ditungguin Darya, mereka bilang butuh saya. Jadi, saya izin dulu ke Bernofarm. Izinnya dapat, tapi harus tunggu 3-4 bulan. Saya berpikir, sudahlah nggak mau pindah lagi, saya mau menyelesaikan pekerjaan di sini (Darya) sampai pensiun.
Ternyata Anda pindah lagi?
Bertahan 1,5 tahun. Tiba-tiba, saya ‘dilirik’ oleh BUMN. Saya bertemu Pak Pahala Mansuri, waktu itu Wakil Menteri BUMN. Beberapa hari kemudian, nama saya muncul terpilih sebagaiDirektur Utama Indofarma melalui rapat pemegang saham.
Akhirnya saya izin ke atasan untuk resign. Bos saya bilang, “Ya mau gimana lagi, your country is calling.”
Setelah masuk, Indofarma saya coba benahi. Tetapi saya merasa tidak mendapat dukungan dari pemilik saham mayoritas, sehingga saya memutuskan untuk mundur. Saat masih proses resign tersebut, saya dihubungi dua perusahaan, kemudian saya akhirnya pilih Bundamedik.
Apa titik terendah dalam hidup Anda?
Ketika mengawali karier di Pfizer, saya tidak memahami wilayah. Dari Semarang ditempatkan di Surabaya, kemudian Bali. Itu merasa loneliness luar biasa. Ada kompetisi yang ketat juga kan. Di Bali, saya single fighter. Jadi, kalau kerjanya bagus, ya kelihatan banget. Dari situ, jabatan naik, naik.
Waktu menjalani S3, saya sibuk dan mental sempat down karena banyak yang dipikirin, karyawan, kuliah. Disertasi itu mentok. Sempat berpikir juga untuk tidak melanjutkan S3 saya.Saya kan udah punya jabatan juga di pekerjaan.
Suatu saat, tujuh bulan kemudian, sepertinya saya diingatkan lagi bahwa jika sekolah saya tidak selesai, apa contoh yang bisa saya kasih ke anak? Akhirnya saya putuskan untuk selesaikan penelitian, waktu itu mengukur tingkat keberdayaan pasien (empowerment index).
Siapa role model Anda?
Saya suka baca biografi, di salah satu seri buku tentang Mohammad Hatta, diceritakan Bu Hatta menabung untuk beli mesin jahit. Setelah uangnya terkumpul, muncul kebijakan separuh, nilainya jadi nggak cukup lagi.
Pak Hatta jawab, kebijakan tersebut adalah urusan negara, tidak bisa digabung dengan urusan keluarga. Pak Hatta khawatir rencana kebijakan baru tersebut bocor ke masyarakat.
Jadi, integritas itu penting saya jaga dalam perjalanan karier saya. Karena posisi direksi itu sudah bukan memikirkan jangka pendek, tetapi jangka panjang 10-50 tahun. Jadi, saya ingin mewariskan integrity legacy, bukan semata-mata achievement.
Ada peran orang tua dalam kesuksesan Anda?
Pertama, kejujuran. Kedua, soal memberi. Orang tua saya, dari kakek saya itu sudah saya lihat sejak kecil. Meski keluarga kami minim, kalau ada tamu, kakek saya bisa potong ayam.
Kemudian suka kumpulin uang kecil dan duduk di depan rumah. Kalau ada anak sekolah lewat, selalu ditanya sudah punya sangu belum? Dikasihlah ke anak-anak. Hal itu membentuk saya bahwa hidup harus memberi. Dengan tetap memiliki integritas tentunya.
Cara Anda menangani keterbatasan SDM bidang kesehatan?
Pertama, kita harus punya program untuk yang existing SDM. Kami punya integrated retention program. Kami buatkan career path masing-masing profesi, sehingga ada jenjangnya. Ada promosi yang equal opportunity-nya. Employee turnover rate perusahaan kemudian bisa kami tekan dari 23% pada 2023 menjadi 10% pada Januari-September 2025.
Kami juga bekerja sama dengan beberapa instansi pendidikan. Agar dilirik oleh SDM-SDM kompeten, kami siapkan teknologi yang mereka butuhkan. Makanya Bunda (BMHS) termasuk salah satu yang pioner soal robotik. Kami sudah menangani 800 kasus menggunakan teknologi ini sejak 2012.
Ada pula transfer knowledge dengan rumah sakit di negara lain, salah satunya untuk fasilitas NICU, mengingat angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi. Kami punya juga sekolah keperawatan. Di Bundamedik sendiri, angka kematian bayi sudah kami tekan sampai di bawah 3%.
Obsesi Anda yang belum tercapai?
Saya sudah tidak punya obsesi pribadi. Namun sebagai perusahaan, organisasi itu harus punya obsesi, yakni berkelanjutan (sustain).
Tugas saya mengorkestrasi, memotivasi karyawan karena di perusahaan itu seharusnya people first and profit will follow. Dua tahun lalu turnover employee BMHS sekitar 23% tetapi sampai semester I-2025 sudah turun jadi 9%.
Ketika leader masih sibuk mikir dirinya sendiri, dia akan menggunakan anak buahnya agar bekerja untuk dia. Anak buah itu pasti terasa, kalau dimanfaatkan untuk keuntungan bosnya saja.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya sangat situasional. Di awal, saya biasa observasi supaya ketemu full puzzle-nya. Kedua, saya cenderung demokratis dalam keadaan organisasi stabil. Let's discuss and we decide. Tetapi begitu ada situasi kritis, saya otoriter karena butuh cepat, jadi I decide.
Tetapi karyawan bisa menurut ketika sudah membangun relationship trust. Mereka akan merasa kok, atasannya punya intensi pribadi apa nggak? ***
BIODATA
Nama lengkap: Agus Heru Darjono.
Pendidikan:
* IPB University School of Business – Doctoral (2019).
* PPM School of Management Jakarta - Magister Management (2005).
* STIE PBM Jakarta – Bachelor of Management (2001).
Karier:
* Direktur Utama PT Bundamedik Tbk & Wakil Direktur Utama PT Morula Indonesia (Mei 2024 - sekarang).
* Direktur Utama PT Indofarma (Persero) Tbk (2023).
* Direktur Strategi Korporat PT Darya Varia Laboratoría (2021-2023).
* Wakil Presiden PT Bernofarm Group Pharmaceutical Company (2020-2021).
* Chief Operating Officer Commercial PT Anügrah Pharmindo Lestari - Zuellig Pharma (2018-2019).
* Direktur Utama PT Metro Drug Indonesia - Zuellig Group (2017-2018).
* Direktur Organisasi & Pengembangan Sumber Daya Manusia PT Darya Varía Laboratoria Unilab (2014-2017).
* Direktur Operasi dan Pengembangan Komersial PT Merck Sharp and Dohme (2012-2014).
* Direktur Operasi Bisnis dan Perencanaan Strategis, Direktur Pemasaran PT Pfizer Indonesia (2009-2012).

