Aprindo Ingatkan Ancaman 'Climate Change' pada Pasokan Pangan Indonesia
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengingatkan pemerintah mengenai ancaman climate change atau perubahan iklim yang terjadi di dunia. Akibat kondisi itu, produktivitas tanaman pangan di seluruh dunia akan terdampak.
“Ini mempengaruhi masa tanam dan masa panen di mana produk hortikultura atau produk makanan pokok penting yang dikonsumsi masyarakat Indonesia dan luar itu akan terdampak produktivitasnya,” ujar Roy kepada Investortrust.id saat ditemui di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (25/1/2024).
Roy mengatakan dampak perubahan iklim ini akan membuat negara-negara yang memiliki produktivitas komoditas pangan lebih akan memprioritaskan menjaga ketahanan pangan di wilayahnya, dan membatasi kebijakan ekspornya. Langkah ini setidaknya telah dilakukan sejumlah negara seperti India, Bangladesh, Pakistan, Rusia dan Myanmar. Dengan kondisi seperti ini, negara yang membutuhkan pasokan komoditas pangan penting, seperti Indonesia, tentunya akan menghadapi kesulitan.
“Kita baru meeting dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bahwa kondisi kebutuhan masyarakat Indonesia itu 30 juta ton per tahun, tetapi itu belum termasuk bansos dan (bantuan) bencana alam,” kata dia.
Baca Juga
Impor Beras 3 Juta Ton di 2023, Bos Pangan Sebut Rp30 T Mengalir ke Negara Orang
Target itu tentu tidak akan cukup jika mengandalkan panen semata. Oleh karena itu, kata Roy, pemerintah pada 2023 lalu mengandalkan impor beras dari Thailand dan Vietnam. Pada 2024 ini, Indonesia akan menunggu pasokan beras dari India.
“Karena cadangan beras pemerintah di Bulog itu tinggal 1-2 juta ton jadi perlu ditambah. Masa panen di bulan April dan Maret, kita harapkan dapat berhasil,” ujar dia.
Roy mengatakan, pada musim panen tersebut seharusnya musim hujan telah mereda. Tetapi, jika ternyata prediksi ini keliru, ancaman gagal panen akan menghantui.
“Mudahan-mudahan, (impor beras dari India) bisa masuk di kuartal pertama atau kuartal kedua ini. Karena itu untuk dipakai mengobati situasi panen di Maret yang belum kita ketahui,” kata dia.
Selain beras, Roy juga menyebut kelangkaan bisa terjadi pada gula. Saat ini, dia mencermati Harga Eceran Tertinggi (HET) gula telah mencapai Rp 14.800 per kilogram. “Bagaimana mem-balancing ini, juga menjadi catatan,” ujar dia.
Baca Juga
Melonjak 613,61%, Impor Beras 2023 Tertinggi Selama 5 Tahun Terakhir
Sekadar informasi, Presiden Jokowi beberapa waktu lalu telah menyebutkan bahwa sebanyak 22 negara telah menerapkan larangan ekspor untuk produk pangan, demi menjaga ketahanan pangan di dalam negeri mereka.
Presiden Joko Widodo dalam kesempatan pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDI-P di Jakarta International Expo medio September tahun lalu (29/9/2023) mengungkapkan bahwa terdapat 22 negara yang menghentikan ekspor bahan pangan, yang mengakibatkan melambungnya harga pangan di banyak negara.
“Yang sekarang terjadi menyebabkan pangan semakin naik harganya adalah 19 negara sekarang ini sudah tidak mengekspor pangan. Bahkan, tadi pagi saya baca lagi bukan 19 lagi, tetapi 22 negara saat ini sudah tidak mau mengekspor bahan pangannya," kata Jokowi hari itu.

