Kendati Optimistis, Aprindo Waspadai Ancaman Konflik di Laut Merah
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyebut kondisi pengusaha yang bersemangat dan optimistis menghadapi 2024. Meski demikian, pengusaha tetap mewaspadai gejolak politik di Timur Tengah.
“Yang krusial itu (konflik) yang terjadi di Israel dan Palestina. Itu bagian dinamikadari waktu ke waktu (terjadi). Yang terbaru ini, yang ada di Yaman,” kata Roy kepada Investrotrust.id, saat ditemui di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (25/1/2024).
Roy mengatakan konflik diperairan Laut Merah, Yaman, yang melibatkan kelompok Houthi, akan membelenggu arus barang dan komoditas. Akibatnya, perjalanan bermacam-macam barang dan komoditas bertambah sekitar 2-3 pekan karena mereka harus menghindari Terusan Suez yang pintu keluarnya mengarah ke kawasan Laut Merah. Begitu juga sebaliknya.
“Ini menjadi masalah baru,” kata dia.
Roy mengatakan, konflik di Laut Merah bisa saja mmendorong kenaikan harga minyak bumi. Harga minyak dunia yang kini berada di kisaran US$ 70-80 per barel dapat meningkat hingga US$ 100 per barel.
“Kalau ini terbelenggu (arus barang) ini akan mendorong eskalasi pada harga minyak, karena demand dan supply. Supply-nya terhambat karena waktu (pengiriman lebih lama),” ujar dia.
Baca Juga
Aprindo: Belanja Parpol Bisa Sumbang 3% ke Pertumbuhan Ritel 2024
Jika terjadi kenaikan harga minyak dunia, Roy memprediksi akan terjadi perfect storm. Di sektor ekonomi, istilah perfect storm merujuk pada kondisi krisis ekonomi dan keuangan secara sekaligus dan tak diketahui dampak dan skala yang akan terjadi.
“Artinya resesi nggak hanya di daerah yang bermasalah saja, tapi menyebar ke seluruh dunia,” kata dia.
Kenaikan minyak mentah hingga lebih dari US$ 100 akibat pasokan yang terhambat akan mendorong kenaikan harga barang. Harga barang mengalami kenaikan karena biaya transportasi ikut terkerek karena kenaikan harga bahan bakar.
“Itu akan membuat resesi. Ini yang kita jaga,” ujar dia.

