Fenomena Pilkada DKJ dan Peluang Pasangan Aman
Oleh Prof Didik J Rachbini, MSc, PhD
Rektor Universitas Paramadina
INVESTORTRUST.ID - Kehadiran eksperimen pasangan Anies Baswedan - Shohibul Iman (Aman) begitu menarik perhatian publik dan menjadikan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Jakarta (DKJ) lebih bergema secara nasional, hampir setara Pemilihan Presiden (Pilpres).
Mengapa? Karena Pilkda DKJ menjadi barometer nasional dan para gubernurnya menjadi tokoh kaliber nasional yang potensial menjadi presiden pada periode berikutnya.
Yang menarik dan juga menjadi perhatian publik adalah karena Shohibul Iman (Partai Keadilan Sejahtera/PKS) dan Anies Baswedan, dua-duanya, merupakan mantan rektor Universitas Paramadina.
Universitas Paramadina tidak besar dengan jumlah mahasiswa yang sangat banyak, tetapi juga tidak kecil karena saat ini jumlah mahasiswanya hampir 6.000 orang. Dengan kehadiran tokoh-tokoh yang hebat, Universitas Paramadina ke depan akan semakin dikenal, dipercaya, serta diminati masyarakat dan publik secara luas sehingga akan menjadi universitas yang besar.
Baca Juga
PKS Putuskan Usung Anies Baswedan dan Sohibul Iman di Pilkada Jakarta 2024
Ada JK dan Sandiaga
Sebenarnya tidak hanyaAnies dan Shohibul Iman yang tampil di panggung nasional dan ikut membesarkan nama Paramadina. Selain mereka, di Paramadina ada nama Sudirman Said yang pernah menjadi Menteri ESDM dan berniat juga menjadi calon gubernur DKJ -- tetapi lebih dominan Anies dalam kancah perpolitikan Jakarta saat ini.
Ada juga Sandiaga Uno (PPP), Bendahara Yayasan Wakaf Paramadina, sangat aktif di dalam politik, termasuk Jusuf Kalla sendiri yang sekarang menjadi Ketua Badan Pembina Yayasan Wakaf Paramadina.
Tidak kalah dari semuanya, ada pula Tia Rahmania (PDIP), Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, yang terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2024-2029, dari daerah pemilihan (dapil) Banten.
Lalu apa yang menarik? Paramadina secara faktual ada yayasan, universitas, pengajian, dan aktivitas kemasyarakatan lainnya. Paramadina yang didirikan Nurcholich Madjid dan kawan-kawannya ini adalah sebuah gerakan pemikiran, intelektual, sosial pendidikan, aktivisme dan lainnya.
Paramadina tidak sekadar kampus, yang memang lebih dikenal, tetapi sejatinya adalah gerakan yang luas, sehingga tidak aneh muncul tokoh-tokoh berbagai warna.
Ketika Anies Baswedan menjadi calon gubernur atau calon presiden, di Paramadina ada yang memilihnya, ada pula yang tidak, sesuai keyakinan masing-masing. Paramadina seperti ini karena memang bukan partai politik. Orang-orang yang berkegiatan di Paramadina ketika masuk ke dalamnya tidak berpolitik praktis sehingga bisa menerima semua kalangan.
Kembali ke Pilkada DKJ, ini menarik sekali bukan hanya karena Anies, Iman, dan PKS yang memenangi pemilihan legislatif (pileg) di Jakarta. Di kota ini, pilkada berlangsung dengan suasana seperti pilpres sehingga menarik perhatian semua kalangan pengamat, media, luar negeri, dan masyarakat sendiri.
Dalam pilkada DKJ sudah jelas Anies paling tinggi daya jual dan elektabilitasnya. PKS dalam hal ini bergerak lebih awal dengan semangat merebut lebih dahulu ketimbang Nasdem dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sudah berniat semi terbuka untuk mencalonkannya.
Karena tidak merupakan hasil musyawarah, beberapa analis menyatakan pasangan Aman tidak aman. Memang begitulah politik, sebelum penetapan resmi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), siapa pun bakal calon di pilkada ini masih bisa berubah total terbalik dari rencana semula. Ini ciri politik Indonesia yang sama sekali tidak memiliki ideologi apa pun, kecuali transaksional belaka.
Persiapan Menuju 2019
Bagi Anies Baswedan sendiri, pilkada ini turun pangkat, tetapi penting untuk persiapan Pilpres 2029. Jika mundur dari politik sudah pasti namanya lenyap dari peredaran, seperi Wiranto, Agum Gumelar, Hatta Rajasa, dan lain-lain.
PKS paling sukses dan paling tinggi perolehan suaranya di Jakarta. Tetapi untuk urusan pencalonan gubernur tidak bisa sendiri sehingga memerlukan kawan partai lain. PKS juga berhasil merebut perhatian publik. Tetapi bukan tidak mungkin ini menjadi bumerang bagi pasangan Aman, mereka bubar ketika lobi-lobi lanjutan terjadi.
Baca Juga
PKS Usung Anies Baswedan-Sohibul Iman di Pilkada DKI, Rektor Paramadina Bilang Begini
Nasdem dan PKB tentu tidak bisa menelan begitu saja semacam “corporate action” ini. Lobi akan terus berlangsung dengan interest yang pasti kuat dari partai-partai lainnya.
Pasangan Aman bisa bubar karena proses lobi yang intensif, atraktif, bahkan liar. Tetapi Anies tetap akan menjadi rebutan sehingga menjadi calon paling potensial jadi, kecuali ada konspirasi kekuatan jahil untuk meruntuhkannya.
Ridwan Kamil akan mengambil peluang ini dan keberuntungan untuk tahun 2029. Jadi, Pilkada DKJ sangat jelas berhubungan langsung dengan politik 2029, khususnya pilpres.
Bagaimana jika Ahok masuk gelanggang dan diusung kembali oleh partai seperti PDIP? Action seperti ini perkara baru, yang bisa membangunkan lagi radikalisme tertentu dan akan menular lebih luas, akan mengulang pengalaman Pilkada 2017. ***
