Sastrawan dan Sosiolog Ignas Kleden Meninggal Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Sastrawan sekaligus sosiolog dan filsuf Ignas Kleden meninggal dunia, Senin (22/1/2024). Ignas Kleden meninggal dunia dalam usia 75 tahun di RS Suyoto, Jakarta Selatan sekitar pukul 03.46 WIB.
Kabar duka itu disampaikan Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero dalam unggahan melalui akun Facebook.
"IFTK Ledalero dengan penuh dukacita menyampaikan belasungkawa atas kepergian alumnus kami, Dr Ignas Kleden. Beliau menyelesaikan pendidikan di STFK Ledalero pada tahun 1972 dan melanjutkan studi magister dan doktoralnya di Jerman," tulis akun Facebook IFTK yang dikutip, Senin (22/1/2024).
Baca Juga
Dalam unggahan itu, Rektor IFTK Ledalero, Pater Dr Otto Gusti Madung, SVD mengatakan, Ignas adalah seorang sosiolog dan filsuf sekaligus. Paduan dua disiplin ilmu ini menghasilkan pendekatan sosiologis yang tidak hanya terpaku pada data empirik positivistik, melainkan juga kritis. Filsafatnya tidak bersifat abstrak di awang-awang, tetapi selalu diajak berdialog dengan realitas sosial. Selain itu, pendekatan ilmiah Ignas selalu bersifat solidaritas terhadap mereka yang paling menderita, menjadikannya sebagai ilmuwan yang profetis.
"Ignas Kleden akan terus dikenang sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Indonesia. Doa dan penghormatan kami menyertai perjalanan terakhirnya. Semoga beliau beristirahat dalam damai abadi. Selamat jalan, Dr Ignas Kleden," katanya.
Dikutip dari berbagai sumber, Ignas Kleden lahir di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 19 Mei 1948. Setelah menyelesaiakan pendidikan di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, Larantuka, Ignas Kleden melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT Ledalero, Maumere, Flores, Ignas Kleden meraih gelar magister filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman pada 1982 dan meraih gelar doktor bidang sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman.
Ignas pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di penerbit Nusa Indah, Ende, Flores dan sebagai editor pada yayasan Obor Jakarta, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta, dan Society For Political and Economic Studies, Jakarta. Ignas turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur pada tahun 2000.
Selain sebagai sosiolog dan filsuf, Ignas Kleden juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Sejak masih menjadi mahasiswa, ignas aktif menulis di Majalah Vox. Ignas pernah menjadi kolumnis tetap majalah Tempo. Esainya mengenai sastra dimuat di majalah Basis, Horison, Budaya Jaya, Kalam, harian Kompas, dan lainnya.
Buku Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan Kompas 1997) juga memuat esainya, "Simbolis Cerita Pendek". Kumpulan esai tentang perbukuan, Buku dalam Indonesia Baru (1999), memuat salah satu tulisannya, "Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Politik tentang Kebudayaan".
Baca Juga
Buku kumpulan esainya adalah Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1988) dan Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (2004). Ia menulis kata pengantar untuk mempertimbangkan Tradisi karya Rendra (1993), Catatan Pinggir 2 karya Goenawan Mohamad (1989), dan Yel karya Putu Wijaya (1995).
Pada 2003, Ignas bersama sastrawan Sapardi Djoko Damono menerima Penghargaan Achmad Bakrie. Penghargaan ini diberikan karena Ignas dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tajam melalui esai dan kritik kebudayaannya.
