Dunia Seni Indonesia Berduka, Aktor Kawakan Ray Sahetapy Meninggal Dunia
JAKARTA, Investortrust.id – Industri seni dan film Tanah Air kini berduka, dengan meninggalnya aktor kawakan Ray Sahetapy. Meninggalnya Ray Sahetapy pada hari ini, Selasa (1/4/2025) diumumkan puteranya, Surya Sahetapy lewat akun instagram.
Surya membagikan foto bersama sang ayah di akun pribadinya, dan menulis "Selamat jalan, Ayah! @raysahetapy . We always cherish the memories of our time with you.”
Sementara sang menantu, Merdianti Octavia menyampaikan kabar duka yang sama. Ia menulis, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang Ayah, Kakek kami, Farence Raymond Sahetapy (Ray Sahetapy) bin Pieter Sahetapy, pada pukul 21.04. Kami mohon doanya dan mohon dimaafkan segala kesalahannya.”
Ferenc Raymon Sahetapy semasa hidupnya adalah seorang aktor Indonesia. Ia adalah salah satu aktor paling populer dan disegani di generasinya, dan sering memerankan pria kompleks dengan nuansa dan karakter yang dalam.
Karier beraktingnya membentang lebih dari empat dekade, penampilannya yang mengesankan termasuk yang paling diapresiasi saat itu, dalam film-film drama seperti “Ponirah Terpidana” (1983), “Tatkala Mimpi Berakhir” (1987) dan “Jangan Bilang Siapa-Siapa” (1990).
Ia telah dinominasikan untuk Piala Citra di Festival Film Indonesia tujuh kali, enam di antaranya untuk Aktor Terbaik, dan memegang rekor nominasi terbanyak dalam kategori tersebut tanpa kemenangan.
Aktor yang beken dengan sapaan Ray Sahtapy ini menghabiskan masa kecilnya di Panti Asuhan Yatim Warga Indonesia, Surabaya. Ia telah menyimpan cita-cita menjadi aktor begitu ia beranjak remaja, Sehingga meneruskan kuliah di Institut Kesenian Jakarta pada 1977, masih seangkatan dengan Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok.
Ketika kariernya menanjak sebagai aktor, ia menikahi Dewi Yull pada tanggal 16 Juni 1981 Pasangan ini mempunyai empat orang anak, yakni Giscka Putri Agustina Sahetapy (1982—2010), Rama Putra Sahetapy (1992), Surya Sahetapy (1994), dan Muhammad Raya Sahetapy (2000). Setelah bercerai dengan Dewi Yull pada 24 Agustus 2004, almarhum menikah dengan pengusaha katering Sri Respatini Kusumastuti.
Lewat film Noesa Penida yang tayang pada tahun 1988, Ray dinominasikan sebagai aktor terbaik pada Festival Film Indonesia 1989. Selain itu, ia juga pernah dinominasikan sebanyak tujuh kali dalam ajang yang sama, yakni melalui film Ponirah Terpidana (Festival Film Indonesia 1984), Secangkir Kopi Pahit (Festival Film Indonesia 1985), Kerikil-Kerikil Tajam (Festival Film Indonesia 1985), Opera Jakarta (Festival Film Indonesia 1986), Tatkala Mimpi Berakhir (Festival Film Indonesia 1988), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (Festival Film Indonesia 1990).
Ketika industri film Indonesia mengalami mati suri, Ray membangun sanggar teater di pinggiran kota dan membentuk komunitas teater.
Pada pertengahan 2006, ia kembali aktif di dunia film dengan membintangi Dunia Mereka. Bahkan, kongres PARFI pada tahun yang sama memilih Ray menjadi salah satu ketuanya.

