Kisah di Balik Diam dan Tangis Presiden Prabowo yang Diungkap Asisten Khusus Dirgayuza
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan Dirgayuza Setiawan mengungkap cerita di balik momen diam dan tangis Presiden Prabowo Subianto, serta alasan di balik pengabdian dirinya untuk rakyat, bangsa, dan negara. Cerita tersebut dibagikan oleh Dirgayuza saat mengucapkan selamat ulang tahun ke-75 kepada Presiden Prabowo yang jatuh pada hari Sabtu, 17 Oktober 2026.
"Hari ini, 17 Oktober 2026. Pak Prabowo berulang tahun ke-75. Selama mengenal pribadinya dari HUT beliau ke-55, saya belajar bahwa kita dapat mengenal seseorang dari caranya terdiam," kata Dirgayuza dalam unggahannya di media sosial pribadinya, yang dikonfirmasi di Jakarta.
"Dari wajah yang ia pandangi lama. Dari kisah yang membuat suaranya berubah. Juga dari tulisannya: Apa yang ia pikirkan dan perjuangkan. Itulah yang saya dan Agung Gumilar hadirkan dalam buku Inilah Prabowo, Apa Adanya," sambung Yuza, panggilan akrab Dirgayuza.
Buku berjudul "Inilah Prabowo, Apa Adanya" tersebut ditulis oleh Dirgayuza bersama Asisten Khusus Presiden Bidang Analisis Data Strategis Agung Gumilar Saputra. Buku yang terbit pada tahun 2026 itu menceritakan kisah di balik layar berdasarkan pengalaman Yuza dan Agung selama mendampingi Presiden Prabowo.
"Salah satu kisah yang membekas adalah tentang Naila, anak kecil dari Palembang yang tinggal di gubuk pinggir sungai. Melihat fotonya dalam paparan Menteri Sosial, Prabowo terdiam. Lalu berkata: 'Kita harus bisa buat sekolah berasrama untuk Naila'," ujar Yuza dalam unggahannya.
Baca Juga
Vladimir Putin Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-75 kepada Presiden Prabowo
"Wajah itu terus dibawanya ke rapat. Ia ingin semua orang mengingat untuk siapa sekolah dibangun," kata Yuza dalam unggahan yang sama, seperti dikutip Antara, Sabtu (17/10/2026).
Bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden, sebanyak 182 Sekolah Rakyat (SR) di berbagai daerah serentak membuka pintunya untuk menggelar gelar griya (open house) kepada masyarakat. Langkah serupa juga dilakukan oleh Sekolah Garuda dan Sekolah Garuda Transformasi. Seluruh sekolah tersebut merupakan bagian dari program prioritas pemerintah di bidang pendidikan, khususnya dalam menyediakan akses sekolah berasrama (boarding school). Sekolah Rakyat dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga kategori Desil 1, sedangkan Sekolah Garuda difokuskan untuk anak-anak yang berprestasi.
Selain bercerita tentang momen terdiamnya Presiden, Dirgayuza turut membagikan kisah di balik air mata yang diteteskan oleh Kepala Negara.
"Kami juga mencatat tangisnya ketika seorang mahasiswi UNHAN (Universitas Pertahanan, red.) bercerita: Keluarganya dahulu tak berani bermimpi ia bisa menjadi dokter. Beasiswa membuka jalan itu. Hatinya tergerak ketika seseorang yang hampir kehilangan kesempatan akhirnya memperoleh jalan," kata Dirgayuza dalam unggahannya.
"Perhatian yang sama hadir saat ia memeriksa makanan prajurit, atau mengirim THR kepada mantan staf dan keluarga prajurit yang gugur. Orang yang pernah berjuang bersama tidak boleh dilupakan," sambung Yuza.
Lebih lanjut, Yuza mengungkap alasan kuat yang memotivasi Presiden Prabowo untuk mengabdikan sisa usianya bagi bangsa dan negara.
"Ia bercerita telah 14 kali berpapasan dengan maut. Keselamatan dimaknainya sebagai kesempatan dari Tuhan. Untuk apa sisa umur ini digunakan? Selamat ulang tahun, Pak Prabowo," ujar Dirgayuza mengakhiri tulisannya yang ditujukan kepada Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo Subianto lahir di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1951 dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar, sebagai anak ketiga dari pasangan tersebut. Prabowo telah mengabdikan hidupnya kepada bangsa dan negara sejak usia muda sebagai prajurit, sebelum akhirnya melanjutkan pengabdian sebagai Presiden sejak dilantik pada 20 Oktober 2024 bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
