Kasus Febrie Adriansyah, Kejagung Sita 38 Aset Tanah Senilai Rp 846 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Tim 9 Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menyita 38 aset berupa objek tanah terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat mantan Jaksa Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Puluhan aset tanah itu ditaksir senilai Rp 846 miliar.
“Terkait dengan progres penyitaan, dari tahap penyidikan kemarin, telah disita kurang lebih 38 objek aset tanah dan/atau bangunan,” kata Koordinator Tim 9 sekaligus Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) Rudi Margono dikutip dari Antara, Selasa (15/9/2026).
Baca Juga
Ferry Boboho Kembalikan Uang Rp 5 Miliar ke Kejagung Terkait Kasus Febrie Adriansyah
Meski demikian, Rudi belum mengungkap luasan maupun pemilik puluhan tanah tersebut.
Tak hanya aset berupa tanah, penyidik juga menyita 27 lembar saham perusahaan serta sejumlah uang valuta asing yang sebelumnya disita oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri dan Polda Metro Jaya.
“Kemudian, dokumen-dokumen yang berasal dari Kortastipidkor dan Polda Metro sebanyak 1.150 lembar,” imbuhnya.
Rudi mengatakan tindak pidana asal perkara TPPU tersebut adalah dugaan korupsi dan pencucian uang oleh oknum penyelenggara negara dalam perkara kasus PT Asabri dan/atau PT Asuransi Jiwasraya.
Saat ini penanganan perkara tersebut sudah pada tahap finalisasi. Dengan demikian, berkas perkara dan tersangka akan segera dilimpahkan kepada tim penuntut umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan. Dalam perkara dugaan TPPU tersebut, penyidik Tim 9 telah menetapkan dua tersangka, yakni mantan Jampidsus Febrie Adriansyah dan pihak swasta Nurman Herin.
Penyidikan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) Nomor Print-03/F.2/Fd.2/07/2026 yang diterbitkan pada 20 Juli 2026.
Baca Juga
Diperiksa Kejagung selama 7 Jam, Febrie Adriansyah Dicecar soal Tan Kian
Sprindik itu diterbitkan setelah Kejagung menerima pelimpahan berkas perkara dan barang bukti dari Polri berupa emas seberat 74 kilogram serta uang valuta asing senilai ratusan miliar rupiah.
Sebelumnya, Kejagung juga menerbitkan tiga sprindik setelah menerima pengalihan perkara dari Polri. Sprindik tersebut mencakup dugaan tindak pidana korupsi dan TPPU di PT KNI, dugaan korupsi tata kelola batu bara di PLTU yang diduga memicu pemadaman listrik, serta dugaan korupsi dan TPPU dalam penanganan perkara PT ASABRI dan/atau Jiwasraya.
Dalam kasus korupsi penanganan perkara, Polri menetapkan Febrie Adriansyah sebagai tersangka dugaan korupsi dan TPPU, sedangkan Don Ritto selaku pengacara ditetapkan sebagai tersangka TPPU.
