Ketika Pasifik Tak Lagi Menjadi Batas
Fithra Faisal Hastiadi, Ph.D.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Ada masa ketika laut dipandang sebagai batas, garis biru yang memisahkan satu daratan dari daratan lainnya dan satu bangsa dari bangsa lainnya. Namun, di Vladivostok, Presiden Prabowo Subianto mengajak kita memandang Samudra Pasifik dengan cara berbeda. Pasifik, katanya, tidak memisahkan Indonesia dan Rusia, tetapi justru menghubungkan keduanya. Ia bukan tembok, melainkan jalan raya yang mempertemukan dua perekonomian.
Barangkali di situlah esensi pidato Presiden dalam Eastern Economic Forum kali ini. Pidato tersebut bukan semata-mata berbicara mengenai Rusia ataupun sekadar memaparkan daftar panjang peluang perdagangan, investasi, energi, pupuk, penerbangan langsung, dan proyek bersama. Vladivostok menjadi panggung tempat Indonesia perlahan menggambar ruang geraknya di tengah dunia yang sedang berubah dengan cepat.
Perdagangan kini semakin sering digunakan sebagai instrumen tekanan. Rantai pasok tidak lagi dibentuk semata-mata atas dasar efisiensi, tetapi juga oleh rasa percaya dan rasa curiga. Teknologi, energi, sistem pembayaran, bahkan pangan, semakin dibaca melalui lensa geopolitik. Dunia yang dahulu bercita-cita menjadi semakin datar kini justru kembali dipenuhi sekat.
Dalam situasi seperti itu, ruang gerak sebuah negara sering terasa semakin sempit. Tarikan kepentingan datang dari berbagai arah, seolah-olah setiap hubungan ekonomi dan diplomatik harus diterjemahkan sebagai bentuk keberpihakan. Indonesia tampaknya memilih jalan berbeda. Indonesia tidak menjauh dari satu pihak untuk mendekati pihak lainnya, tetapi terus memperluas ruang kerja sama dengan membuka lebih banyak pintu, membangun lebih banyak jembatan, dan menjaga kebebasan untuk menentukan kepentingannya sendiri. Seperti dikatakan Presiden, “Seribu kawan terlalu sedikit; satu musuh terlalu banyak.”
Ada sesuatu yang terasa akrab bagi saya ketika mendengar arah pidato tersebut. Lebih dari satu dekade lalu, ketika meneliti regionalisme Asia Timur, saya melihat bahwa integrasi ekonomi yang berkelanjutan tidak cukup tumbuh secara alamiah melalui perdagangan. Integrasi membutuhkan jembatan institusional yang menghubungkan berbagai pusat pertumbuhan.
Dalam penelitian mengenai triangular trade arrangement, saya melihat bagaimana hubungan ekonomi di antara beberapa negara dapat menciptakan limpahan manfaat atau spillover yang kemudian memperluas dampak integrasi kepada kawasan di sekitarnya. Konsep triangular trade tersebut tentu tidak persis sama secara terminologis dengan apa yang kemudian berkembang sebagai Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular. Namun, keduanya berasal dari keluarga pemikiran yang berdekatan, yakni bahwa kesejahteraan tidak harus selalu mengalir secara linear dari satu pusat menuju wilayah pinggiran.
Kesejahteraan juga dapat lahir dari jejaring, dari simpul-simpul yang saling melengkapi, dan dari kemampuan berbagai negara menghubungkan modal, pasar, teknologi, serta pengetahuan. Pemikiran itu semakin kuat ketika saya kemudian terlibat dalam kajian mengenai kerja sama pembangunan internasional dan Kerja Sama Selatan-Selatan.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Samudra Pasifik Penghuung Ekonomi Indonesia dan Rusia
Pada masa itu, arsitektur pembangunan global mulai memperlihatkan pergeseran dari pola lama Northern-led growth. Negara-negara berkembang perlahan tidak lagi ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan. Mereka mulai menjadi sumber pengalaman pembangunan, pengetahuan, investasi, dan solusi bagi sesama negara berkembang. Dari sanalah muncul paradigma beyond aid. Kerja sama tidak lagi semata-mata berbicara tentang siapa memberikan bantuan kepada siapa, melainkan tentang bagaimana perdagangan, investasi, teknologi, pembiayaan, dan knowledge sharing dapat membangun hubungan pembangunan yang lebih setara.
Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement
Dua belas tahun kemudian, di tepi Pasifik Rusia, gagasan lama itu seperti memperoleh panggung baru. Presiden menyebut Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement atau Indonesia–EAEU FTA sebagai sebuah arsitektur perdagangan Selatan-Selatan. Pilihan kata tersebut menarik karena yang sedang dibangun bukan sekadar jalur perdagangan antara Indonesia dan Rusia. Indonesia menawarkan dirinya sebagai pintu masuk Eurasia menuju ASEAN.
Rusia memiliki gandum, pupuk, energi, ilmu pengetahuan, dan teknologi rekayasa maju. Indonesia memiliki minyak sawit, kopi, hasil perikanan, karet, tekstil, furnitur, barang konsumsi, tenaga kerja muda, sekaligus pintu menuju pasar ASEAN yang dihuni sekitar 680 juta manusia. Kedua perekonomian itu tidak harus serupa untuk dapat bekerja bersama. Justru karena berbeda, keduanya dapat saling melengkapi.
Eurasia bertemu ASEAN, Timur Jauh Rusia bersentuhan dengan Indo-Pasifik, modal bertemu pasar, dan teknologi bertemu kebutuhan pembangunan. Dari sana, perlahan terbentuk sebuah simpul baru dalam jejaring ekonomi dunia yang semakin multipolar. Tak perlu terlalu keras mengatakan bahwa posisi Indonesia menjadi penting karena geografi, demografi, dan kekuatan ekonominya telah berbicara sendiri.
Perdagangan bilateral Indonesia–Rusia pada 2025 telah mendekati US$5 miliar, meningkat 21,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Presiden kini mengajukan tantangan untuk melipatgandakannya dalam periode peninjauan pertama Indonesia–EAEU FTA. Perjanjian tersebut mencakup penghapusan atau penurunan bea masuk terhadap 11.882 pos tarif, yang merepresentasikan lebih dari 90% barang yang diperdagangkan. Namun, menurut saya, bagian terpenting dari pidato tersebut bukanlah angka-angkanya, melainkan keinginan untuk membuat diplomasi segera turun ke bumi.
Presiden berbicara mengenai pengiriman percontohan, pembeli, jalur logistik, dan sistem pembayaran. Ada gagasan membuka pelayaran langsung antara Vladivostok dan Indonesia serta penerbangan langsung kedua negara. Ada pula peluang kerja sama di bidang minyak dan gas, energi terbarukan, smart grid, nuklir untuk tujuan damai, teknologi pertanian, pupuk, hilirisasi, farmasi, pendidikan, antariksa, hingga transportasi.
Danantara juga ditempatkan sebagai jembatan antara modal dan kepentingan strategis kedua negara bersama Russian Direct Investment Fund. Pesannya cukup tegas bahwa kerja sama tidak boleh berhenti pada identifikasi peluang. Setiap proyek harus memiliki nilai ekonomi, skema pembiayaan, dan tahapan pelaksanaan yang jelas.
Di sinilah semangat beyond aid menemukan bentuknya yang lebih matang. Hubungan Selatan-Selatan tidak dapat terus hidup dari romantisme solidaritas negara berkembang. Kerja sama tersebut harus menghasilkan kapal yang benar-benar berlayar, investasi yang benar-benar masuk, teknologi yang benar-benar berpindah, industri yang tumbuh, dan lapangan kerja yang tercipta. Solidaritas tanpa transaksi mudah berubah menjadi seremoni, tetapi transaksi tanpa kemanusiaan juga akan kehilangan arah.
Mungkin karena itu, saya justru paling menyukai bagian ketika Presiden mengatakan bahwa pembangunan harus diukur dari meja makan keluarga biasa: apakah anak memperoleh makanan bergizi, petani mendapatkan pupuk dan harga yang layak, keluarga memiliki rumah yang pantas, anak muda memperoleh pekerjaan, serta listrik menjangkau setiap rumah di setiap desa. Pertumbuhan, pada akhirnya, memang harus pulang kepada manusia.
Kita, para ekonom, terkadang membiarkan pertumbuhan terlalu lama tinggal di dalam tabel. Kita melihatnya sebagai angka, proyeksi, model, dan grafik. Padahal, bagi sebagian besar manusia, pertumbuhan tidak pernah hadir dalam bentuk persentase. Pertumbuhan hadir sebagai nasi yang masih mengepul di atas meja makan, uang sekolah yang dapat dibayar, pekerjaan pertama seorang anak, dan seorang ayah yang pulang tanpa terlalu banyak kecemasan mengenai apa yang akan dimakan keluarganya esok pagi. Pertumbuhan kehilangan maknanya apabila hanya mempercantik statistik. Ia menemukan jiwanya ketika mengubah kemiskinan menjadi martabat.
Ada gema kecil yang menarik dari perjalanan ke Vladivostok itu. Pada hari yang sama, rupiah bergerak menguat dan Indeks Harga Saham Gabungan kembali melanjutkan reli. Tentu terlalu sederhana apabila kita mengatakan bahwa pasar bergerak hanya karena satu pidato. Pasar keuangan adalah organisme dengan jutaan saraf. Pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi global, harga komoditas, arus modal, kebijakan moneter, dan persepsi risiko berlangsung secara bersamaan. Korelasi waktu tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia Tingkatkan Kerja Sama dengan Rusia
Namun, ekonomi mengenal sesuatu yang sering kali lebih sulit dimasukkan ke dalam persamaan, yaitu confidence atau kepercayaan. Kepercayaan tumbuh dari serpihan-serpihan kecil berupa arah kebijakan yang dapat dibaca, stabilitas institusi, kemampuan membuka pasar baru, kualitas diplomasi, konsistensi reformasi, dan persepsi mengenai ke mana sebuah negara sedang berjalan. Satu serpihan mungkin tidak mengubah keseluruhan gambar. Namun, ketika serpihan-serpihan itu mulai membentuk pola, pasar biasanya mencoba membacanya lebih dahulu.
Karena itu, perjalanan ke Vladivostok menarik bukan hanya karena apa yang dapat ditandatangani hari ini, tetapi juga karena ruang yang sedang dibuka untuk hari esok. Indonesia tidak sedang mengganti satu ketergantungan dengan ketergantungan yang lain. Presiden menegaskan kembali prinsip politik luar negeri bebas aktif, yakni bekerja sama dengan Timur, Barat, Utara, dan Selatan sebagai mitra yang berdaulat dan setara. FTA dengan Eurasia pun ditempatkan bukan sebagai aliansi untuk melawan siapa pun, melainkan sebagai kemitraan untuk menciptakan kemakmuran bersama.
Barangkali inilah bentuk paling relevan dari semangat Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular dalam dunia hari ini. Tujuannya bukan membangun blok baru untuk menggantikan blok lama ataupun menukar satu pusat gravitasi dengan pusat gravitasi lainnya. Tujuannya adalah memperbanyak jalur agar modal, pengetahuan, teknologi, dan perdagangan dapat bergerak tanpa membuat Indonesia kehilangan kebebasan untuk menentukan ke mana ia ingin pergi.
Dalam dunia yang semakin multipolar, kekuatan sebuah negara mungkin tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa besar negara itu mampu memengaruhi pihak lain. Kadang-kadang, kekuatan justru terletak pada kemampuannya menjadi ruang pertemuan, tempat berbagai kepentingan yang berbeda masih dapat menemukan bahasa yang sama.
Di situlah politik luar negeri bebas aktif memperoleh relevansinya kembali. Bebas aktif bukan sikap berdiri canggung di antara berbagai kutub, melainkan kemampuan untuk tetap memiliki banyak pintu ketika dunia mulai sibuk menutupnya satu per satu. Indonesia tidak harus memilih isolasi untuk mempertahankan kemandirian. Sebaliknya, kemandirian justru diperkuat dengan memperluas pilihan dan mencegah ketergantungan yang berlebihan kepada satu pusat kekuatan.
Namun, pada akhirnya, diplomasi hanya akan bermakna apabila hasilnya kembali kepada mereka yang jarang hadir di ruang-ruang perundingan: petani yang menunggu pupuk dengan harga terjangkau, pekerja yang berharap pabrik tetap menyala, anak muda yang mencari pekerjaan pertamanya, serta keluarga yang hanya ingin percaya bahwa kehidupan esok akan sedikit lebih baik daripada hari ini.
Karena itu, saya teringat pada salah satu kalimat paling sederhana dalam pidato Presiden: generasi muda kelak tidak akan terlalu bertanya kita dahulu berada di blok mana. Mereka akan bertanya apa yang telah kita bangun. Mungkin memang begitulah sejarah bekerja. Sejarah tidak terlalu lama mengingat siapa duduk di sebelah siapa dalam sebuah forum internasional. Ia lebih sabar menunggu apakah pertemuan itu kemudian melahirkan kapal yang benar-benar berlayar, perdagangan yang tumbuh, teknologi yang berpindah, investasi yang masuk, dan pekerjaan yang tercipta.
Vladivostok bukanlah sebuah akhir. Ia hanya satu titik dalam perjalanan panjang Indonesia mencari tempatnya di dunia yang terus berubah. Dari St. Petersburg menuju Vladivostok, dari ASEAN menuju Eurasia, serta dari gagasan beyond aid menuju jejaring ekonomi yang semakin multipolar, kita seperti sedang belajar kembali bahwa laut tidak selalu menjadi batas dan jarak tidak selalu berarti keterpisahan.
Justru ketika dunia semakin terbelah, kemampuan untuk tetap terhubung menjadi semakin berharga. Barangkali di situlah Indonesia perlahan menemukan perannya, bukan dengan berdiri paling keras di salah satu sisi, melainkan dengan memastikan bahwa ketika sebagian dunia memilih membangun tembok, masih ada jalan yang dapat dilewati, pintu yang tetap terbuka, dan jembatan yang menghubungkan.
