25 Tahun Gagal, Indonesia Kini Punya Peluang Masuk Dewan Penerbangan Sipil Global ICAO
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia kembali membidik kursi Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) setelah 25 tahun gagal kembali menduduki posisi tersebut. Peluang kali ini terbuka setelah jumlah kursi Dewan ICAO bertambah dari 36 menjadi 40 kursi.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Lukman F Laisa mengungkapkan, satu dari empat kursi tambahan tersebut diperuntukkan bagi negara-negara kawasan Asia Pasifik.
"Mudah-mudahan kita kali ini yang sudah 25 tahun sejak 2001 hingga 2026 ini belum berhasil menjadi anggota ICAO, tahun ini pada kesempatan ini dengan penambahan empat seat dari 36 seat menjadi 40 seat, bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi anggota ICAO Council," kata Lukman kepada awak media di kantor Kemenhub, Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026).
Untuk merebut kursi tersebut, pemerintah Indonesia tengah melakukan pendekatan kepada sejumlah negara untuk memperoleh dukungan. Pendekatan dilakukan ke negara-negara Afrika, Arab, Eropa, hingga Asia Pasifik.
Lukman menyampaikan, Indonesia telah melakukan pendekatan dengan negara-negara Afrika melalui pertemuan di Maroko dan Kairo. Pemerintah juga telah bertemu dengan negara-negara Arab serta para duta besar negara-negara Eropa yang dipimpin oleh Duta Besar Uni Eropa.
"Kita sedang bekerja keras, melakukan pendekatan dengan beberapa negara. Pertama kita hadir di Maroko, pertemuan di Maroko kita melakukan pendekatan dengan negara-negara Afrika. Juga kita hadir di Kairo untuk juga pada acara AFCAC (African Civil Aviation Commission)," ungkapnya.
Baca Juga
Gejolak Global Ancam Penerbangan, AHY Susun Tiga Skenario Antisipasi
Upaya lobi akan dilanjutkan dalam konferensi Director General of Civil Aviation (DGCA) di Kuala Lumpur pada 6-11 September 2026. Forum tersebut akan dihadiri negara-negara Asia Pasifik dan kawasan Timur Tengah.
"Kita juga akan melakukan pertemuan bilateral untuk bagaimana supaya kita bisa mendapatkan satu dukungan untuk harapan kita untuk menjadi anggota ICAO ini bisa berhasil," tutur Lukman.
Menurut Lukman, Indonesia telah memperoleh sejumlah dukungan. Pemerintah RI telah menerima surat dukungan dari Singapura dan Timor Leste. Selain itu, dukungan juga disampaikan langsung oleh Menteri Transportasi Mesir.
"Kita sudah menerima beberapa surat dari negara lain ya, kita sudah terima surat dari Singapura, kemudian dari Timor Leste," ujarnya.
Indonesia juga mengandalkan kontribusi di bidang peningkatan kapasitas penerbangan untuk mendapatkan dukungan. Lukman menyebut Tanah Air telah memberikan bantuan pelatihan dan capacity building kepada negara-negara Afrika.
Dikatakan Lukman, kontribusi Indonesia pada 2015-2017 mencapai US$ 400.000. Sementara pada 2017-2026, Indonesia akan memberikan kontribusi dalam bentuk jasa/aset (in-kind contribution) dengan nilai sekitar US$ 400.000.
"Hal ini mendapatkan apresiasi dan perhatian yang luas di Afrika karena memang mereka butuhkan transfer pengetahuan yang kita miliki yang bisa kita bagi melalui training," jelas Lukman.
Indonesia tercatat pernah menjadi anggota Dewan ICAO selama 12 periode berturut-turut sejak 1962 hingga 2001. Setelah itu, Indonesia belum kembali menduduki kursi tersebut.
Lukman berharap momentum penambahan empat kursi Dewan ICAO dapat membuka peluang Indonesia untuk kembali menjadi anggota.
"Kita optimis ya, tapi saya mohon doanya mudah-mudahan kali ini mendapatkan dukungan dan kita bisa berhasil duduk sebagai anggota ICAO Council," ucapnya.
Jika terpilih, Lukman menambahkan, Indonesia dapat menyampaikan kepentingan dan inisiatifnya secara langsung dalam forum Dewan ICAO tanpa harus melalui negara lain.
"Kalau dulu kita nitip negara lain untuk menyampaikan ide kita, inisiatif kita, atau intervensi kita, maka dengan duduknya kita sebagai anggota dewan otomatis kita sendiri yang menyampaikan," pungkasnya.
