Perkuat Transisi Energi, Tripatra Terlibat Studi Global ICAO yang Akui POME Bahan Baku SAF
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Tripatra Engineering, perusahaan rekayasa teknik yang menjadi bagian Indika Energy Group, meningkatkan fokus pada proyek energi baru terbarukan (EBT), termasuk sustainable aviation fuel (SAF), bahan bakar pesawat berkelanjutan, sebagai upaya mendukung penurunan emisi di sektor transportasi udara dan memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi global.
Langkah tersebut diwujudkan melalui keterlibatan Tripatra dalam Studi Global Committee on Aviation Environmental Protection ke-14 International Civil Aviation Organization (CAEP/14 ICAO) terkait Life Cycle Assessment (LCA) jalur Palm Oil Mill Effluent–Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (POME–HEFA) yang berbasis di Indonesia. Studi ini diajukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dengan dukungan Kementerian Luar Negeri serta tim ahli dari Tripatra dan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, International Civil Aviation Organization (ICAO) mencantumkan palm oil mill effluent (POME) sebagai bahan baku SAF dalam dokumen resmi “Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels.” Pengakuan ini menempatkan POME sebagai feedstock yang memenuhi kriteria keberlanjutan ICAO.
President Director & CEO PT Tripatra Engineering Raymond Rasfuldi mengatakan, limbah cair industri kelapa sawit yang selama ini berpotensi menghasilkan emisi metana juga dapat dikonversi menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan SAF dengan emisi lebih rendah, seperti telah diakui oleh ICAO.
"Pendekatan ini menggambarkan penerapan ekonomi sirkular bahwa limbah industri diolah menjadi produk energi bernilai tinggi yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menekan dampak lingkungan," kata dia dalam keterangannya, Rabu (17/12/2025).
Baca Juga
Sambut Libur Nataru 2025–2026, Kemenhub Pangkas Biaya Tambahan Bahan Bakar Pesawat
Melalui keterlibatan dalam studi internasional dalam pengembangan POME di Indonesia, Tripatra menegaskan komitmen dan posisinya sebagai katalis kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem SAF dan mendukung visi Indonesia menuju transisi energi yang berkelanjutan dan berdaya saing. "Selain itu, hasil tersebut menunjukkan peran strategis Tripatra sebagai pengembang SAF berbasis POME yang berkontribusi terhadap upaya dekarbonisasi sektor transportasi dan energi nasional,” kata Raymond.
Dengan pengalaman lebih 50 tahun di proyek energi, Tripatra telah menginvestasikan sumber daya untuk mengembangkan teknologi dan infrastruktur biofuel nasional, termasuk SAF. “Tripatra percaya bahwa penguatan industri biofuel nasional adalah kunci mencapai ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan jangka panjang. Dengan dukungan dan sinergi yang kuat dari berbagai pihak, kami optimistis Indonesia dapat menjadi key player dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya ekosistem industri SAF,” kata dia.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri penerbangan global menghadapi tekanan untuk menurunkan emisi karbondioksida. Data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan sektor ini menyumbang sekitar 3% dari total emisi karbondioksida global yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil pesawat dan menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan nitrogen oksida.
Sebagai respons, ICAO menginisiasi CORSIA untuk mendorong penurunan emisi dan mencapai net-zero carbon emissions pada 2050, salah satunya melalui penggunaan SAF pada penerbangan internasional. SAF dinilai strategis karena dapat digunakan langsung tanpa modifikasi mesin pesawat maupun infrastruktur bandara, serta dapat diproduksi dari berbagai bahan baku terbarukan, termasuk POME yang ketersediaannya melimpah di Indonesia.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F Laisa menyampaikan Indonesia berkomitmen menjadi salah satu produsen utama SAF dunia.
“Persetujuan ICAO ini menegaskan bahwa POME secara resmi diakui sebagai bahan baku SAF dengan nilai emisi yang sangat kompetitif, mampu memberikan emission saving hingga 80% dibandingkan bahan bakar fosil. Ini adalah momentum besar bagi Indonesia untuk memasuki pasar SAF global,” jelasnya.
Baca Juga
Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Resmi Layani Penerbangan Internasional ke Kuala Lumpur
Lukman menambahkan keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas institusi. “Kami berterima kasih atas dukungan Kementerian Luar Negeri serta kontribusi teknis dari Tripatra dan IPOSS. Upaya lintas institusi ini menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam memperjuangkan posisi nasional di forum internasional.”
Proses pengajuan POME dimulai sejak November 2024 dan mencakup pengumpulan data lapangan di pabrik kelapa sawit, penyusunan working paper untuk ICAO Working Group 5, serta diskusi teknis dengan negara anggota. POME diajukan sebagai residu pengolahan sawit yang tidak memiliki beban indirect land use change (ILUC), sehingga dinilai sesuai prinsip keberlanjutan jalur HEFA.
Setelah evaluasi teknis selama satu tahun, termasuk perbandingan dengan studi akademik Hasselt University dan verifikasi oleh Joint Research Centre (JRC), POME memperoleh nilai LCA sebesar 18,1 gCO₂e/MJ, lebih rendah dibandingkan avtur konvensional dan dapat digunakan sebagai nilai default dalam skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA).

