Dirgayuza tentang Impian Prabowo: Indonesia Jangan Lagi Jadi Bangsa yang Menunggu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sebuah percakapan di tengah taman futuristik Gardens by the Bay, Singapura, pada 24 September 2012, terus membekas dalam ingatan Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan. Empat belas tahun kemudian, percakapan tersebut ia nilai menjadi gambaran tentang gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto: berani memutuskan, segera bekerja, kemudian menyempurnakan kebijakan sambil berjalan.
Saat itu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan impiannya agar Indonesia tidak lagi menjadi a nation in waiting atau bangsa yang terus menunggu akhirnya mulai menemukan wujudnya. Menurut Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan, berbagai program pemerintah memang masih membutuhkan penyempurnaan, pengawasan, transparansi, dan tata kelola yang kuat.
Namun, kekurangan pada tahap awal tidak boleh menjadi alasan untuk terus menunda kebijakan yang dibutuhkan masyarakat.
“Presiden Prabowo tidak menunggu semuanya sempurna. Yang penting diputuskan, dikerjakan, lalu disempurnakan sambil berjalan,” tulis Dirgayuza dalam catatannya Sabtu, (18/7/2026), seraya menegaskan, “Sekarang, Indonesia is no longer in waiting.”
Baca Juga
Dari CCS Masela hingga PLTS 100 GW, Prabowo Dinilai Berpeluang Jadi Presiden Terhijau Indonesia
Dalam catatan yang diterima Investortrust.id, Dirgayuza mengenang perjalanannya bersama Prabowo di Gardens by the Bay, Singapura, hampir 14 tahun lalu. Saat itu, Gardens by the Bay baru beberapa bulan dibuka. Taman seluas sekitar 100 hektare dengan deretan supertree dan kubah-kubah kaca tersebut telah menjadi simbol kemampuan Singapura membangun ruang publik berkelas dunia meskipun memiliki keterbatasan wilayah dan sumber daya alam.
Di tengah perjalanan santai melihat kawasan Marina Bay, Prabowo menyampaikan keinginannya agar masyarakat Indonesia segera memiliki taraf hidup yang tidak kalah dibandingkan masyarakat Singapura.
“Yuza, saya ingin rakyat Indonesia segera punya taraf hidup yang tidak kalah dengan rakyat Singapura,” kata Prabowo, sebagaimana dituturkan kembali oleh Dirgayuza dalam catatannya.
Menurut Dirgayuza, pernyataan tersebut terdengar serupa dengan cita-cita yang sering disampaikan banyak tokoh politik. Namun, penjelasan Prabowo setelahnya membuat percakapan itu terus ia ingat.
Prabowo, kata dia, menekankan bahwa Indonesia membutuhkan decisive leadership atau kepemimpinan yang berani mengambil keputusan. Indonesia dinilai tidak kekurangan gagasan, penelitian, kajian maupun konsep pembangunan. Persoalan yang kerap muncul justru terletak pada lambannya pengambilan keputusan dan kurangnya keberanian untuk memulai pelaksanaan.
Baca Juga
Prabowo Beberkan Hasil Nyata Potensi Indonesia, dari B50 hingga Motor Listrik Nasional
Dalam percakapan itu, Prabowo juga mengutip prinsip kepemimpinan, “Do not let the perfect be the enemy of the good.” Prinsip tersebut berarti pemerintah tidak seharusnya menunggu seluruh kondisi menjadi sempurna sebelum mengambil keputusan. Kebijakan yang baik harus segera diputuskan dan dilaksanakan, kemudian diperbaiki serta disempurnakan dalam perjalanannya.
Dari Gagasan Menjadi Keputusan
Dirgayuza menilai prinsip tersebut tercermin dalam cara Prabowo memimpin pemerintahan. Berbagai program dan proyek yang selama bertahun-tahun berhenti pada tahap perencanaan, menurut dia, mulai mendapatkan keputusan dan kepastian pelaksanaan.
Salah satunya adalah proyek gas Lapangan Abadi Masela. Dirgayuza menyebut proyek yang telah dibahas sejak akhir 1990-an itu akhirnya memasuki tahap pembangunan pada Juli 2026.
Ia juga menyoroti pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara pada Februari 2025. Lembaga tersebut dinilai menjadi realisasi dari gagasan pembentukan dana investasi dan pengelolaan aset negara yang telah lama dibicarakan.
Proyek Refinery Development Master Plan atau RDMP Balikpapan juga masuk dalam daftar capaian yang disorot. Menurut Dirgayuza, proyek peningkatan kapasitas dan kualitas kilang tersebut akhirnya dapat diselesaikan pada Januari 2026 setelah menghadapi berbagai hambatan.
Di sektor keuangan, pemerintah juga merealisasikan pembentukan layanan bank emas atau bullion bank pada Februari 2025. Kebijakan tersebut diharapkan membangun ekosistem industri emas nasional, mulai dari produksi, penyimpanan, pembiayaan hingga perdagangan.
“Berbagai gagasan yang selama puluhan tahun hanya berpindah dari meja rapat ke meja rapat akhirnya benar-benar jalan,” ujar Dirgayuza.
Baca Juga
Dari Gaji Hakim hingga Kredit UMKM
Dirgayuza juga menyoroti keputusan pemerintah menaikkan penghasilan hakim pada Juni 2025. Kebijakan tersebut disebut mengakhiri periode panjang tanpa penyesuaian pendapatan yang memadai bagi para hakim. Menurut dia, kenaikan kesejahteraan hakim merupakan bagian dari upaya memperkuat integritas dan kualitas sistem peradilan.
Di sektor energi, Dirgayuza menyebut penerapan program biodiesel B50 pada Juli 2026 sebagai langkah strategis menuju swasembada bahan bakar diesel. Kebijakan pencampuran 50% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dengan solar tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Pemerintah, lanjut dia, juga menjalankan program makan bergizi gratis (MBG) secara nasional sejak Januari 2025. Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki kualitas gizi anak, ibu hamil, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan sekaligus menggerakkan rantai pasok pangan dalam negeri.
Pada masa awal pemerintahan, Prabowo juga mengambil kebijakan penghapusan atau penyelesaian kredit macet tertentu bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Langkah tersebut dinilai memberi kesempatan kepada pelaku UMKM untuk kembali mengakses pembiayaan formal.
Dirgayuza juga menyampaikan bahwa hingga Juli 2026, sebanyak 1.000 dari target 5.000 jembatan desa telah dibangun. Infrastruktur tersebut dipandang penting untuk membuka akses masyarakat terhadap pusat produksi, sekolah, layanan kesehatan, dan pasar.
Sekolah Unggul dan Industri Strategis
Di bidang pendidikan, Dirgayuza membandingkan program Sekolah Unggul Garuda dengan program pendidikan bagi siswa berbakat yang telah lama dikembangkan Singapura.
Menurut dia, penerimaan angkatan pertama Sekolah Unggul Garuda pada Juli 2026 menjadi tonggak pembangunan pendidikan unggulan yang dapat diakses oleh anak-anak berprestasi dari berbagai latar belakang ekonomi.
Sekolah tersebut diharapkan melahirkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat global, khususnya dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Baca Juga
PM Wong Undang Siswa Sekolah Garuda Ikuti Pertukaran Pelajar ke Singapura
Dirgayuza juga meyakini sejumlah industri strategis yang sebelumnya hanya muncul dalam seminar dan kajian akan mulai berubah menjadi proyek nyata, pabrik, produk, dan lapangan kerja melalui dukungan pembiayaan Danantara.
Indonesia, kata dia, tengah mempersiapkan pengembangan sepeda motor listrik nasional dan mobil listrik nasional. Penguatan industri tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Pangan dan Kesejahteraan Petani
Dirgayuza turut menyoroti peningkatan indikator sektor pangan dan pertanian. Ia menyebut nilai tukar petani dan cadangan beras pemerintah telah mencapai tingkat tertinggi, disertai pencapaian swasembada pada sejumlah komoditas pangan strategis.
Menurut dia, pencapaian tersebut menunjukkan pentingnya keputusan yang cepat dan terkoordinasi dalam mengelola produksi, distribusi, cadangan, serta stabilitas harga pangan.
Kebijakan tersebut juga diharapkan memperbaiki kesejahteraan petani, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi kerentanan Indonesia terhadap gangguan rantai pasok global.
Di bidang ekspor, Dirgayuza menilai kebijakan konsolidasi pemasaran sejumlah komoditas melalui badan usaha milik negara dapat memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar internasional.
Pemerintah juga terus mendorong penggunaan produk nasional. Salah satu simbolnya, menurut Dirgayuza, terlihat dari penggunaan kendaraan rancangan dan produksi anak bangsa dalam kegiatan kepresidenan.
Baca Juga
Tak Lagi Menjadi Bangsa yang Menunggu
Bagi Dirgayuza, berbagai kebijakan tersebut memperlihatkan pola yang sama: keputusan diambil tanpa harus menunggu seluruh kondisi menjadi sempurna.
Kebijakan kemudian dijalankan, diawasi, dievaluasi, dan disempurnakan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Ia mengakui bahwa seluruh program pemerintah tetap membutuhkan perbaikan, pengawasan, transparansi, dan tata kelola yang kuat. Namun, kekurangan pada tahap awal tidak boleh menjadi alasan untuk terus menunda kebijakan yang dibutuhkan masyarakat.
Dirgayuza mengaitkan pandangan tersebut dengan istilah a nation in waiting yang pernah digunakan Indonesianis Adam Schwarz untuk menggambarkan Indonesia sebagai bangsa dengan potensi besar yang terlalu lama menunggu realisasi.
Menurut Dirgayuza, kepemimpinan yang berani mengambil keputusan menjadi syarat agar potensi Indonesia dapat berubah menjadi kesejahteraan, industri, lapangan kerja, dan pelayanan publik yang nyata.
“Presiden Prabowo tidak menunggu semuanya sempurna. Yang penting diputuskan, dikerjakan, lalu disempurnakan sambil berjalan,” tulisnya.
Empat belas tahun setelah percakapan di Gardens by the Bay, Dirgayuza melihat cita-cita yang pernah disampaikan Prabowo mulai diterjemahkan ke dalam kebijakan dan proyek konkret.
“Sekarang, Indonesia is no longer in waiting,” tegas Dirgayuza.
