Koleksi Buku Bung Karno Ungkap Cetak Biru Intelektual Pendiri Bangsa
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rak buku pribadi Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, yang kini ditempatkan di Istana Bogor, bukan hanya kumpulan buku tua. Di balik ribuan halaman yang memenuhi perpustakaan itu tersimpan peta intelektual yang membentuk cara berpikir sang Proklamator dalam mendirikan negara, membangun bangsa, dan menempatkan Indonesia di tengah percaturan dunia.
Hal itu disampaikan Dirgayuza, Staf Khusus Presiden Prabowo Subianto, dalam catatan yang ditulis pada 3 Juli 2026. Menurutnya, koleksi buku Bung Karno merupakan jendela yang membuka cara berpikir salah satu pemimpin paling berpengaruh pada abad ke-20.
“Buku-buku yang dibaca Presiden Sukarno memberikan gambaran luar biasa mengenai fondasi intelektual pendiri bangsa Indonesia. Koleksi itu bukan sekadar perpustakaan pribadi, melainkan hasil pencarian intelektual seumur hidup untuk memahami bagaimana peradaban bangkit, negara dibangun, revolusi berhasil, dan pemimpin membentuk sejarah,” tulis Dirgayuza.
Ia menjelaskan, koleksi tersebut mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari politik, sejarah, ekonomi, sosiologi, agama, filsafat, teknik, arsitektur, strategi militer, pertanian, hingga studi peradaban dunia. Sebagian besar buku diterbitkan antara dekade 1920-an hingga awal 1960-an, ditambah sejumlah karya klasik abad ke-19, dengan bahasa yang beragam, yakni Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, dan Indonesia.
Menurut Dirgayuza, tema terbesar yang mendominasi perpustakaan Bung Karno adalah pembangunan bangsa (nation-building) dan perjuangan antikolonialisme. Di antaranya karya George McTurnan Kahin Nationalism and Revolution in Indonesia (1952), Dorothy Woodman The Republic of Indonesia (1955), Jawaharlal Nehru melalui The Discovery of India (1946), hingga karya Karl W. Deutsch Nationalism and Social Communication (1953). Pilihan bacaan tersebut menunjukkan bahwa Bung Karno mempelajari perjuangan Indonesia dalam konteks kebangkitan bangsa-bangsa Asia pascakolonial.
Tidak hanya itu, perpustakaan tersebut juga memperlihatkan keluasan wawasan Bung Karno dalam mempelajari berbagai mazhab pemikiran politik. Ia membaca karya Niccolò Machiavelli, Bertrand Russell, Vladimir Lenin, Mao Zedong, hingga tokoh sosialis Rosa Luxemburg. Menurut Dirgayuza, hal itu menunjukkan bahwa Bung Karno tidak mengurung diri pada satu ideologi tertentu, melainkan mempelajari berbagai aliran pemikiran untuk memahami praktik kepemimpinan dan pembentukan negara.
“Yang menarik bukan karena koleksi ini mempromosikan satu pandangan dunia, melainkan justru mempertemukan berbagai pandangan yang saling bertentangan dalam satu perpustakaan,” ujarnya.
Kajian mengenai agama dan peradaban juga menempati porsi besar dalam koleksi tersebut. Bung Karno membaca karya Lin Yutang, Syed Ameer Ali, Romain Rolland yang menulis biografi Ramakrishna dan Mahatma Gandhi, serta berbagai karya tentang Islam, Hindu, dan peradaban Asia. Koleksi tersebut menunjukkan besarnya perhatian Bung Karno terhadap dimensi spiritual dan kebudayaan dalam membangun sebuah bangsa.
Baca Juga
Sementara itu, buku-buku sejarah dunia dan hubungan internasional juga mendominasi rak perpustakaannya. Karya-karya mengenai sejarah Eropa, Asia Timur, diplomasi Perang Dunia, hingga perkembangan Asia Tenggara memperlihatkan bahwa Bung Karno memandang masa depan Indonesia tidak secara sempit, tetapi dalam perspektif sejarah global dan geopolitik internasional.
Dirgayuza juga menyoroti banyaknya buku akademik berbahasa Belanda mengenai Indonesia yang tetap dikoleksi Bung Karno bahkan setelah Indonesia merdeka. Menurutnya, hal itu mencerminkan sikap intelektual Bung Karno yang tetap menghargai sumber-sumber ilmiah terbaik, meskipun berasal dari negara bekas penjajah.
Di antara berbagai buku tersebut, terdapat sejumlah kutipan yang dinilai menggambarkan cara berpikir Bung Karno. Misalnya, Machiavelli menulis bahwa keselamatan sebuah republik tidak dijaga hanya dengan itikad baik, melainkan melalui kewaspadaan yang bijaksana. Karl W. Deutsch menyatakan bangsa adalah masyarakat yang mampu berkomunikasi secara efektif. Bertrand Russell menulis bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang diinspirasi oleh kasih dan dipandu oleh pengetahuan. Sementara Winston Churchill menyebut bahwa “kekaisaran masa depan adalah kekaisaran pikiran.”
Bung Karno dan Prabowo
Bagi Dirgayuza, temuan paling menarik justru muncul ketika membandingkan perpustakaan Bung Karno dengan koleksi buku Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kemiripan keduanya bukan terletak pada judul buku yang sama, melainkan pada pertanyaan-pertanyaan besar yang menjadi pusat pencarian intelektual masing-masing.
“Kedua perpustakaan sama-sama dibangun di atas pertanyaan mengenai bagaimana membangun negara, memahami sejarah, menguasai teori politik, strategi militer, peradaban Asia, agama, dan hubungan internasional. Keduanya juga sama-sama membaca berbagai tradisi intelektual yang berbeda, mulai dari Machiavelli, Churchill, Nehru, Lenin, Mao hingga literatur Islam,” tulisnya.
Dirgayuza menilai, jika perpustakaan Bung Karno mencerminkan perjalanan intelektual seorang pemimpin yang mendirikan Republik Indonesia, maka perpustakaan Presiden Prabowo menggambarkan pencarian intelektual seorang pemimpin yang berupaya memperkuat dan mentransformasi republik yang telah dibangun tersebut.
“Dalam pengertian itu, kedua koleksi tersebut memiliki kesamaan yang luar biasa, yaitu sama-sama berorientasi pada sejarah, pembangunan bangsa, dan pencarian jawaban atas pertanyaan mendasar tentang bagaimana sebuah negara dapat menjadi kuat, berdaulat, dan makmur,” pungkasnya.
