Mengintip Koleksi Buku Perpustakaan 2 Lantai di Hambalang: Jantung Intelektual Prabowo
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Dalam pidatonya saat meresmikan lima bendungan di sejumlah daerah yang dipusatkan di Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/7/2026), Prabowo mengungkapkan hobinya belajar sejarah. Hobi itu terus dilakukannya hingga saat ini.
"Saya kebetulan, saya ini, suka belajar sejarah. Itu hobi saya. Saya belajar sejarah terus, tidak pernah berhenti sampai hari ini," kata Prabowo dalam sambutannya saat itu.
Dari sejarah peradaban manusia yang dipelajarinya, Prabowo menyatakan, bangsa yang berhasil, bangsa yang besar adalah bangsa yang bersatu. Bangsa yang berhasil adalah bangsa yang berjiwa besar, bukan jiwa kecil.
"Bukan bangsa yang punya dendam, bukan bangsa yang terpecah-pecah, terkotak-kotak. Bukan bangsa yang penuh dengki, penuh curiga. Bukan bangsa yang hanya mikir diri sendiri, kelompoknya. Cinta kita adalah cinta tanah air, cinta Merah Putih. Hanya dengan cinta tanah air kita harus hormati dan cintai bangsa kita sendiri," tegasnya.
Baca Juga
Hari Ini, Prabowo Diagendakan Hadiri Peringatan Hari Koperasi Nasional di GBK
Kegemaran Prabowo untuk terus belajar, termasuk mengenai sejarah peradaban manusia tercermin dari isi perpustakaan dua lantai di rumah pribadinya di Hambalang, Bogor. Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan menyebut perpustakaan itu sebagai jantung intelektual Presiden Prabowo.
"Ada banyak cara mengenal seorang pemimpin. Sebagian orang melihat pidatonya. Sebagian lagi melihat kebijakan yang diambilnya. Namun, ada cara yang sering kali lebih jujur daripada semua itu, melihat buku-buku yang ia baca. Di Hambalang, terdapat sebuah ruangan yang mungkin menjadi jantung intelektual Presiden Prabowo Subianto, perpustakaan dua lantai pribadi beliau," kata Dirgayuza dalam keterangannya, Minggu (12/7/2026).
Dirgayuza mengatakan, di perpustakaan tersebut, Prabowo bekerja. Di ruangan itu, Prabowo menerima tamu negara, berdiskusi dengan para menteri, membaca laporan, menyusun gagasan, menikmati waktu istirahat, bahkan makan siang dan makan malam.
"Perpustakaan ini sekaligus menjadi ruang kantor, ruang rapat, ruang makan, dan ruang kontemplasi. Boleh dikatakan, perpustakaan ini adalah nerve center kediaman pribadi beliau di Hambalang," ungkapnya.
Dirgayuza mengatakan, kecintaan Prabowo terhadap buku bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Pada 1968, Prabowo merupakan satu-satunya murid berkulit cokelat saat bersekolah di American School in London. Di lingkungan yang sangat kompetitif itu, Prabowo justru dipercaya menjadi ketua tim debat sekolah. Ia juga menjadi kapten tim sepak bola sekaligus editor majalah dinding sekolahnya.
"Tiga peran yang tampaknya berbeda itu sesungguhnya memiliki satu benang merah. Kemampuan berpikir, memimpin, dan berkomunikasi. Perpustakaan Hambalang hari ini seolah menjadi kelanjutan alami dari tradisi intelektual yang telah tumbuh sejak masa remajanya," tuturnya.
Bagi Dirgayuza, rak-rak perpustakaan pribadi Prabowo di Hambalang seperti sebuah peta besar perjalanan peradaban manusia. Di perpustakaan itu, dapat ditemukan buku-buku, seperti Ghost Empire, SPQR, Ancient Egypt, Classical Greece, Crusades, The Great Plague, Renaissance World, hingga The Fall of the Ottomans. Ada juga buku The Plantagenets, Royal Stuarts, The Victorians, Louis XIV, Napoleon, dan Wellington. Rak lain dipenuhi buku-buku tentang Rusia, Tiongkok, Jepang, India, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, hingga Asia Tenggara.
"Seolah seluruh peradaban dunia berkumpul dalam satu ruangan," unglapnya.
Tak hanya peradaban dunia, buku-buku mengenai Indonesia memperoleh tempat yang istimewa di Hambalang. Ada buku-buku, seperti Java in a Time of Revolution, Java: A History, The Indonesian National Revolution, The Indonesia Reader, Indonesian Etc., Nathaniel’s Nutmeg, dan A History of Modern Indonesia berdiri berdampingan.
"Seolah mengingatkan bahwa memahami Indonesia berarti memahami perjalanan panjang bangsa ini sejak masa kerajaan, kolonialisme, revolusi, hingga menjadi negara modern," katanya.
Baca Juga
Buku "Presiden Solusi" Resmi Versi Inggris Diluncurkan dengan Judul "Problem Solver"
Dirgayuza mengungkapkan salah satu bagian paling mengesankan di perpustakaan Prabowo di Hambalang itu adalah koleksi sejarah perang. Di rak-raknya berjajar The Guns of August, The Sleepwalkers, Paris 1919, The Great War, The First World War, Battle Cry of Freedom, trilogi The Civil War karya Shelby Foote, Gettysburg, Grant, Lincoln, The Rise and Fall of the Third Reich, The Longest Day, A Bridge Too Far, Citizen Soldiers, An Army at Dawn, World War II, The Liberation Trilogy, Vietnam: A History, A Bright Shining Lie, Dispatches, hingga Embers of War.
Dirgayuza mengatakan, buku-buku itu bukan sekadar menceritakan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mereka berbicara tentang bagaimana pemimpin mengambil keputusan ketika semua pilihan sama-sama buruk. Bagaimana logistik menentukan nasib sebuah bangsa, bagaimana moral pasukan sering kali lebih penting daripada jumlah tentaranya, dan bagaimana kesalahan kecil dapat mengubah arah sejarah dunia.
"Seperti ditulis Barbara Tuchman dalam The Guns of August: 'Human beings, like plans, prove fallible in the presence of danger, death, and live ammunition.' Kalimat-kalimat seperti itulah yang memenuhi rak-rak Hambalang, pengingat bahwa sejarah bukan hanya kisah masa lalu, tetapi guru yang paling jujur bagi para pemimpin," katanya.
Namun, Dirgayuza mengatakan, koleksi perpustakaan pribadi Presiden Prabowo tidak berhenti pada sejarah. Pada bagian rak lainnya terdapat buku The Republic karya Plato, The Muqaddimah karya Ibn Khaldun, The Origins of Political Order, The Changing World Order, Capital and Ideology, Kissinger, The Gene, The Song of the Cell, Behave, An Immense World, The Sixth Extinction, hingga Why Nations Fail.
"Seolah-olah setiap pertanyaan melahirkan pertanyaan berikutnya. Setelah memahami sejarah, seseorang perlu memahami negara. Setelah memahami negara, ia perlu memahami manusia. Setelah memahami manusia, ia perlu memahami alam," katanya.
Yang menarik, kata Dirgayuza, di antara buku-buku tentang perang, diplomasi, dan filsafat, terselip rak-rak besar mengenai kuliner dunia. Terdapat buku The Food Lab, Salt, Fat, Acid, Heat, Flavor, Plenty, Thai Food, Classic Italian Cooking, The World Atlas of Coffee, serta karya-karya Anthony Bourdain. Peradaban,
"Rupanya, tidak hanya dibangun oleh perang dan politik, tetapi juga oleh makanan, budaya, dan cara manusia hidup bersama," ungkapnya.
Melihat keseluruhan koleksi buku di perpustakaan tersebut, Dirgayuza mengatakan, perpustakaan Hambalang bukanlah sekadar tempat Prabowo menyimpan buku. Perpustakaan itu menjadi ruang tempat berbagai zaman saling berdialog.
Napoleon berdampingan dengan Sun Tzu. Ibn Khaldun berbicara dengan Francis Fukuyama. Plato bertemu Robert Sapolsky. Anthony Reid berdiskusi dengan Barbara Tuchman. Anthony Bourdain berjalan melewati rak-rak yang juga memuat karya Siddhartha Mukherjee.
"Semuanya hadir dalam satu ruangan. Barangkali itulah sebabnya banyak keputusan penting, diskusi strategis, hingga percakapan santai berlangsung di perpustakaan ini. Karena bagi seorang pembaca, buku bukanlah pajangan. Buku adalah lawan bicara," katanya.
Tak tertutup kemungkinan, ketika suatu hari nanti sejarah Indonesia menuliskan bagaimana berbagai keputusan besar lahir pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sebagian jejaknya dapat ditelusuri kembali ke sebuah ruangan di Hambalang.
"Sebuah perpustakaan yang menjadi kantor, ruang rapat, ruang makan, ruang istirahat, sekaligus pusat saraf dari kediaman Presiden ke-8 Republik Indonesia yang berupaya dan berhasil menyelesaikan berbagai persoalan kronis bangsa melalui kekuatan gagasan, pembelajaran, dan keputusan," katanya.
