Mimpi Bung Karno tentang Indonesia: Satu Bangsa Bersatu, Tak Terpecahkan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.com – Delapan puluh satu tahun silam, di sebuah ruang sidang sederhana Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), lahir sebuah gagasan besar yang kemudian menjadi fondasi Indonesia modern. Pada 1 Juni 1945, di hadapan para anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, Ir. Soekarno menyampaikan pidato monumental yang kelak dikenang sebagai pidato lahirnya Pancasila, sebuah visi tentang bangsa Indonesia yang bersatu, tidak tercerai-berai oleh suku, agama, ras, maupun golongan.
Pidato tanpa teks yang berlangsung pada sidang pertama BPUPKI di Jakarta itu bukan sekadar menawarkan dasar negara. Bung Karno sedang merumuskan mimpi besar tentang Indonesia merdeka: sebuah nationale staat atau negara kebangsaan yang berdiri di atas persatuan seluruh rakyat Nusantara.
“Kita hendak mendirikan suatu negara ‘semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan… tetapi semua buat semua,” ujar Bung Karno disambut tepuk tangan sidang, 1 Juni 1945. Tanggal itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Pancasila yang Berkeadilan
Bung Karno membuka pidatonya dengan membedakan antara kemerdekaan politik dan penyempurnaan masyarakat. Baginya, kemerdekaan adalah “jembatan emas” yang harus segera diseberangi, bukan hadiah yang menunggu seluruh persoalan bangsa selesai lebih dahulu.
Ia mengkritik sikap yang terlalu 'zwaarwichtig' atau terlalu rumit mempersyaratkan segala hal sebelum Indonesia merdeka.
“Kalau semua hal harus diselesaikan lebih dulu sampai njlimet, kita tidak akan mengalami Indonesia Merdeka sampai di lubang kubur,” kata Bung Karno.
Dalam pandangannya, negara merdeka tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian sejarah dan tekad politik rakyat untuk berdiri di atas kaki sendiri. Namun, bagian paling penting dari pidato itu bukan sekadar seruan kemerdekaan. Bung Karno sedang mencari apa yang ia sebut sebagai philosofische grondslag: dasar filsafat, jiwa terdalam, dan weltanschauung atau pandangan hidup yang akan menopang Indonesia merdeka agar “kekal dan abadi”.
Dari sanalah lahir lima prinsip yang kemudian dinamainya Pancasila: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang Berkebudayaan.
Baca Juga
Yassierli: Jadikan Pancasila Ideologi Hidup dan Jangkar Moral Global
Nama “Pancasila” sendiri, kata Bung Karno, diperoleh dari usulan seorang ahli bahasa. “Sila” berarti dasar atau asas, sedangkan “Panca” berarti lima. Tetapi lebih dari sekadar lima sila, Bung Karno menanamkan satu gagasan mendasar: Indonesia harus menjadi negara kebangsaan, bukan negara yang dimiliki kelompok tertentu.
Di sinilah muncul konsep yang hari ini kembali relevan: nationale staat. Bung Karno menegaskan bahwa Indonesia bukan negara Jawa, bukan Sumatra, bukan Bugis, Sunda, atau Minangkabau. Indonesia juga bukan negara untuk golongan kaya, bangsawan, atau agama tertentu.
“Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatra, tetapi kebangsaan Indonesia yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat,” tegasnya.
Bagi Bung Karno, bangsa lahir bukan hanya dari kesamaan sejarah dan kehendak untuk bersatu, sebagaimana teori Ernest Renan atau Otto Bauer, melainkan juga dari kesatuan geopolitik, persatuan antara manusia dan tanah airnya. Karena itu, Indonesia yang dimaksud bukan pulau atau kerajaan-kerajaan kecil, melainkan seluruh gugusan Nusantara “dari ujung Sumatra sampai Irian.”
Ia bahkan menyebut bahwa Nusantara hanya dua kali mengalami nationale staat dalam sejarah: pada masa Sriwijaya dan Majapahit.
“Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya,” katanya.
Namun Bung Karno juga mengingatkan bahaya nasionalisme yang sempit. Ia menolak chauvinisme ala Eropa yang memandang bangsanya paling unggul. “Kebangsaan yang kita anjurkan bukan chauvinisme… Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia,” ujar Bung Karno, mengutip Mahatma Gandhi: My nationalism is humanity. Karena itu, nasionalisme Indonesia menurutnya harus selalu hidup berdampingan dengan internasionalisme dan perikemanusiaan.
Dalam soal agama, Bung Karno menawarkan gagasan yang tidak kalah penting. Ia mengusulkan prinsip “Ketuhanan yang berkebudayaan”, yaitu kehidupan beragama yang menghormati keyakinan satu sama lain. “Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Almasih, yang Islam menurut Nabi Muhammad SAW… tetapi marilah kita semuanya bertuhan… dengan tiada egoisme agama,” katanya.
Negara Indonesia, menurut Bung Karno, harus menjamin kebebasan beribadah dan hidup berdampingan secara beradab. Pidato 1 Juni 1945 kemudian berkembang melalui perumusan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945 oleh Panitia Sembilan yang dipimpin Soekarno, sebelum akhirnya dasar negara disahkan dalam Pembukaan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945.
Baca Juga
Karena itu, sejarah lahirnya Pancasila kerap menjadi ruang perdebatan akademik. Sejumlah tokoh seperti Mohammad Yamin dan Soepomo juga menyampaikan gagasan dasar negara dalam sidang BPUPKI. Pada era Orde Baru bahkan muncul kontroversi mengenai tanggal dan rumusan Pancasila yang “otentik”.
Namun sejumlah kajian sejarah, termasuk Panitia Lima yang dipimpin Mohammad Hatta, mengakui bahwa Soekarno merupakan tokoh pertama yang memperkenalkan istilah Pancasila serta menyampaikan pidato lengkap tentang dasar negara pada 1 Juni 1945.
Meski demikian, Bung Karno sendiri menolak disebut sebagai pencipta Pancasila. Dalam pidato penerimaan gelar doktor honoris causa di Universitas Gadjah Mada serta amanat di Surabaya pada 24 September 1955 berjudul "Apa Sebab Negara Republik Indonesia Berdasarkan Pancasila", ia menegaskan bahwa dirinya hanya penggali.
“Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Pancasila dari buminya bangsa Indonesia,” kata Bung Karno.
Ia menggambarkan Pancasila sebagai “lima mutiara” yang telah lama hidup dalam jiwa bangsa Indonesia, namun terkubur oleh kolonialisme selama ratusan tahun. Karena itu, Hari Lahir Pancasila sejatinya bukan sekadar mengenang lahirnya lima sila. Ia adalah peringatan atas sebuah mimpi besar: Indonesia sebagai rumah bersama, negara gotong royong, dan bangsa yang tak terpecahkan oleh perbedaan.
Bahkan di penghujung pidatonya, Bung Karno memeras Pancasila menjadi Trisila, lalu Ekasila dan menemukan satu kata yang menurutnya paling Indonesia: gotong royong.
“Indonesia buat Indonesia —semua buat semua… Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong,” tegasnya.
Di tengah dunia yang kembali dipenuhi polarisasi identitas, politik sektarian, dan pertarungan kepentingan sempit, pesan Bung Karno pada 1 Juni 1945 terdengar kembali menggema: Indonesia hanya dapat bertahan bila tetap menjadi nationale staat, bangsa yang bersatu, satu nasib, satu tanah air, dan satu tekad untuk hidup bersama.
Sumber: Pidato “Lahirnya Pancasila” 1 Juni 1945 (Oesaha Goentoer, 1945); Naskah Persiapan UUD 1945 (Mohammad Yamin); A.B. Kusuma, Lahirnya UUD 1945 (2004); Amanat Presiden Soekarno di Surabaya, 24 September 1955; Pembukaan UUD 1945; serta kajian Kontroversi Historis Lahirnya Pancasila Secara Yuridis.

