Benang Merah Doktrin Hamilton, Chang dan Prabowo: Bagaimana Indonesia Jadi Negara Kaya?
JAKARTA, investortrust.id - Doktrin pemikiran Menteri Keuangan (Menkeu) pertama Amerika Serikat (AS) Alexander Hamilton, ekonom terkemuka Ha-Joon Chang, dan Presiden Prabowo Subianto ternyata memiliki benang merah. Ketig tokoh itu meyakini kemakmuran suatu negara tidak datang dengan sendirinya.
Hal itu diungkapkan Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan saat mengenang pertemuan Prabowo yang saat itu menjabat sebagai menteri pertahanan (menhan) dengan Ha-Joon Chang di London pada Oktober 2022 silam.
Dirgayuza menuturkan, beberapa hari sebelum pertemuan itu, Prabowo memintanya untuk menghubungi Ha-Joon Chang. Karya-karya Ha-Joon Chang sudah lama dibaca dan diskusikan Prabowo.
"Bagi pembaca buku-buku ekonomi, nama itu hampir seperti legenda. Profesor asal Korea Selatan yang mengajar di Cambridge itu dikenal karena keberaniannya menantang banyak dogma ekonomi yang selama puluhan tahun dianggap sebagai kebenaran mutlak," kata Dirgayuza dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Baca Juga
Kekayaan Indonesia Harus Kembali ke Rakyat, Prabowo: Tidak Boleh Ada Korupsi
Lantaran tidak memiliki nomor teleponnya, Dirgayuza mencoba menghubungi Ha-Joon Chang melalui email pada 11 Oktober 2022. Saat itu, Dirgayuza menanyakan kepada Chang mengenai kesediannya bertemu Prabowo pada 14 Juni 2022 malam.
"Balasan yang datang membuat saya tersenyum. 'My dinner after the LSE talk should end by 8pm, so I should be able to meet the general at 8:30pm'," kata Dirgayuza mengulang email jawaban Chang kepadanya.
Pertemuan kedua tokoh itu terjadi. Bagi sebagian orang, pertemuan Prabowo dan Chang mungkin hanya pertemuan biasa. Namun, bagi Dirgayuza, pertemuan itu seperti menyaksikan sebuah adegan dalam film tentang sejarah ekonomi dunia.
"Karena yang sedang berbincang malam itu bukan seorang ekonom dan seorang politisi. Yang berbincang adalah dua orang yang sama-sama menghabiskan puluhan tahun membaca sejarah kebangkitan bangsa-bangsa," tuturnya.
Dikatakan, banyak hal yang dibicarakan Prabowo dan Chang dalam pertemuan itu. Namun, salah satu yang membuat Dirgayuza tertegun adalah saat keduanya membicarakan kisah seorang anak yatim dari Karibia bernama Alexander Hamilton.
Hamilton merupakan menteri keuangan pertama AS yang wajahnya tertera pada uang kertas 1 dolar Amerika. Ketika berbicara nilai tukar mata uang terhadap 1 dolar, hal itu berarti membandingkan secarik kertas dengan wajah Hamilton.
"Ketika Amerika baru merdeka, sebagian besar rakyatnya adalah petani. Industrinya hampir tidak ada. Inggris jauh lebih maju dalam teknologi, manufaktur, dan perdagangan. Banyak orang saat itu berkata, 'biarkan pasar bekerja'. Hamilton berpikir sebaliknya," katanya.
Hamilton meyakini negara harus mengintervensi, membantu, dan membangun industri nasional. Negara harus membangun sistem keuangan yang kuat. Negara harus melindungi industri-industri muda (infant industries) sampai cukup kuat untuk bersaing.
Dua abad kemudian, Ha-Joon Chang menghabiskan sebagian besar karier akademiknya menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Hamilton sebenarnya adalah pola yang hampir selalu muncul dalam sejarah pembangunan negara-negara maju.
Dalam bukunya yang terkenal, Kicking Away the Ladder, Chang berargumen hampir semua negara kaya menggunakan tarif, subsidi, pembiayaan negara, perlindungan industri, dan kebijakan industri aktif ketika mereka masih berkembang. Namun setelah menjadi kaya, mereka justru menyarankan negara-negara berkembang untuk tidak melakukan hal yang sama.
Chang menyebut hal itu sebagai menendang tangga setelah berhasil memanjatnya. Ha-Joon Chang kemudian memperluas gagasan tersebut melalui buku-buku lainnya, seperti Bad Samaritans, 23 Things They Don’t Tell You About Capitalism, Economics: The User’s Guide, hingga Edible Economics.
"Salah satu kutipannya yang paling terkenal berbunyi, 'making rich people richer doesn’t make the rest of us richer'. Membuat orang kaya semakin kaya tidak otomatis membuat seluruh masyarakat menjadi lebih sejahtera," kata Dirgayuza mengutipa Chang.
Dalam buku lain, kata Dirgayuza, Chang bahkan menulis mesin cuci memiliki dampak yang lebih besar terhadap perubahan masyarakat dibanding internet. Hal ini karena teknologi yang meningkatkan produktivitas masyarakat secara luas sering kali jauh lebih penting daripada teknologi yang paling glamor. Saat membaca karya-karya Chang, Dirgayuza mengaku kerap teringat pada dua buku yang ditulis Prabowo, yakni Paradoks Indonesia dan Strategi Transformasi Bangsa. Hal inilah yang menjadi benang merah pemikiran Hamilton, Ha-Joon Chang, dan Prabowo.
"Jika Hamilton bertanya dan mengupayakan bagaimana Amerika berhenti menjadi koloni ekonomi Inggris, dan Ha-Joon Chang bertanya bagaimana negara-negara berkembang mengejar negara maju, maka pertanyaan yang selalu muncul dalam pemikiran Prabowo adalah bagaimana Indonesia bisa jadi negara kaya? Inilah benang merah yang menghubungkan Hamilton, Chang, dan Prabowo. Ketiganya percaya bahwa kemakmuran tidak datang dengan sendirinya.
Ketiganya meyakini kemakmuran harus dibangun. Bukan hanya melalui perdagangan, tetapi melalui produksi. Bukan hanya melalui konsumsi, tetapi melalui produktivitas. Bukan hanya dengan mengandalkan sumber daya alam, tetapi dengan mengubah sumber daya alam menjadi industri, teknologi, dan lapangan kerja.
Untuk itu, Dirgayuza mengaku sering tersenyum saat membaca kritik yang menyebut pemerintahan Prabowo terlalu aktif dalam perekonomian dan negara atas arahan Prabowo terlalu banyak campur tangan, Danantara terlalu berperan, atau pemerintah terlalu agresif membangun industri, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan menciptakan lapangan kerja. Menurutnya, kritik-kritik tersebut bukan hal baru jika membaca sejarah ekonomi dunia dan membaca buku-buku Chang.
Baca Juga
Di Munas NU, Prabowo Tegaskan Tak Ada Negara Selamat jika Sumber Dayanya Dikeruk Terus
"Perdebatan yang sama pernah terjadi pada masa Alexander Hamilton lebih dari 200 tahun yang lalu. Perdebatan yang dipelajari dan dijelaskan kembali oleh Ha-Joon Chang dalam puluhan buku dan penelitiannya. Dan kini perdebatan yang sama muncul kembali di Indonesia. Negara sebagai penonton atau negara sebagai arsitek pembangunan," katanya.
"Hamilton memilih yang kedua. Ha-Joon Chang memilih yang kedua. Dan jelas, Prabowo juga memilih yang kedua," kata Dirgayuza menegaskan.
Dirgayuza mengatakan, pertemuan Prabowo dengan Chang di London pada malam hari yang dingin pada 2022 itu tidak menghasilkan perjanjian besar yang ditandatangani. Tidak ada juga konferensi pers atau pidato resmi. Pertemuan itu, katanya, hanya sebuah percakapan hangat antara dua pembaca sejarah ekonomi dunia.
"Empat tahun kemudian, saya menjadi saksi di garis terdepan transformasi ekonomi Indonesia, saya sering teringat kembali malam tersebut. Karena mungkin yang saya bantu atur malam itu bukan sekadar sebuah pertemuan biasa. Melainkan pertemuan antara tiga arus pemikiran yang terhubung melintasi dua abad. Pemikiran Hamilton membangun Amerika. Pemikiran Ha-Joon Chang. Dan pemikiran Prabowo yang sekarang berusaha menerapkan pelajaran yang sama untuk Indonesia jadi kaya, walau ditentang oleh para penganut doktrin yang berbeda," katanya.
