Dirgayuza: Koperasi Merah Putih Miliki Benang Merah Pemikiran Tiga Generasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id–Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih tidak hanya dapat dipahami sebagai sebuah kebijakan ekonomi pemerintah, tetapi juga sebagai bagian dari kesinambungan pemikiran panjang mengenai pembangunan ekonomi berbasis desa yang telah berkembang lintas generasi. Fakta ini diperkuat oleh penemuan sejumlah arsip lama Lembaga Pembangunan ketika berada di kediaman pribadi Presiden Prabowo Subianto di Hambalang. Arsip yang berasal dari periode 1971–1973 itu berisi notulen rapat, laporan proyek, rencana anggaran, hingga evaluasi berbagai program pembangunan masyarakat desa yang pernah dijalankan organisasi tersebut.
Demikian Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan RI dalam catatan yang ditulis pada 31 Juli 2026. Menurut dia, penemuan arsip lama Lembaga Pembangunan ketika berada di kediaman pribadi Presiden Prabowo Subianto di Hambalang itu mengingatkannya pada wawancara Presiden Prabowo dalam program “Prabowo Bicara” yang disiarkan SCTV pada 28 Oktober 2024. Dalam wawancara itu, Prabowo menceritakan bahwa semasa muda, sebelum memasuki Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), ia bersama Soe Hok Gie dan sejumlah aktivis mendirikan Lembaga Pembangunan dengan tujuan membantu masyarakat pedesaan keluar dari kemiskinan.
Setelah mempelajari arsip tersebut, Dirgayuza kemudian menemukan tesis doktoral Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang ditulis pada 1943 di Netherlands School of Economics, Belanda. Dalam tesis tersebut, Soemitro menegaskan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia harus bertumpu pada pemberdayaan masyarakat desa melalui koperasi dan bank rakyat agar petani kecil terbebas dari ketergantungan kepada tengkulak dan pedagang besar.
Bagi Dirgayuza, kedua dokumen tersebut memperlihatkan adanya “benang merah” yang menghubungkan pemikiran tiga generasi, mulai dari gagasan Prof. Soemitro pada 1943, praktik pembangunan desa melalui Lembaga Pembangunan pada awal 1970-an, hingga berbagai kebijakan pembangunan desa yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo saat ini.
Baca Juga
Dukung Program Prabowo, Kemenkop Dorong Koperasi Susu Jadi Pemain Utama Program Makan Bergizi Gratis
Ia menjelaskan bahwa Lembaga Pembangunan bukan sekadar kelompok diskusi mahasiswa. Organisasi itu memiliki struktur kelembagaan yang lengkap dengan dewan direksi yang dipimpin Dr. Emil Salim, sistem administrasi, pembagian wilayah kerja, pengelolaan keuangan, serta mekanisme evaluasi proyek yang rinci.
Berbagai program yang dijalankan pun berfokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat, antara lain peternakan kambing, lebah, babi, dan ayam kampung, pembibitan cengkeh, pompanisasi pertanian, pembangunan poliklinik desa, bengkel, koperasi sepatu, hingga rencana pembentukan koperasi simpan pinjam bagi peternak. Seluruh program, menurut Dirgayuza, dibangun atas filosofi membantu masyarakat meningkatkan produktivitas, bukan sekadar memberikan bantuan.
Dirgayuza juga menyoroti bahwa setiap proyek didokumentasikan secara terbuka, termasuk berbagai kegagalan, kerusakan akibat banjir, persoalan teknis, maupun penyimpangan pengelolaan. Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan budaya evaluasi yang bertujuan memperbaiki pelaksanaan program berikutnya.
Meski demikian, Dirgayuza menegaskan bahwa arsip tersebut tidak membuktikan kebijakan pemerintah saat ini merupakan kelanjutan langsung dari Lembaga Pembangunan. Namun, menurutnya, dokumen-dokumen tersebut memperlihatkan adanya kesinambungan cara berpikir mengenai pembangunan ekonomi rakyat.
“Yang berubah hanyalah skalanya. Dulu satu desa, sekarang satu negara. Dulu satu koperasi, sekarang puluhan ribu koperasi. Dulu satu proyek pompanisasi, sekarang menjadi program nasional. Tetapi arah pandangnya terasa sama, yakni membangun Indonesia dari desa melalui koperasi, peningkatan produktivitas, penguatan pertanian, peternakan, kesehatan, dan ekonomi rakyat,” tulisnya.
Di bagian akhir catatannya, Dirgayuza juga mengenang persahabatan antara Soe Hok Gie dan Prabowo pada masa muda. Ia menuturkan bahwa setelah Gie meninggal dunia saat mendaki Gunung Semeru pada 16 Desember 1969, Prabowo melanjutkan pengabdiannya melalui jalur militer, sementara gagasan pembangunan desa yang pernah mereka perjuangkan tetap hidup melalui berbagai inisiatif pembangunan masyarakat.
Bagi Dirgayuza, memahami arah pembangunan Indonesia saat ini tidak cukup hanya melihat kebijakan yang sedang berjalan, tetapi juga menelusuri akar pemikiran yang telah berkembang selama puluhan tahun. Menurutnya, arsip-arsip lama tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi berbasis desa, koperasi, dan pemberdayaan rakyat bukanlah gagasan baru, melainkan sebuah visi yang telah diwariskan lintas generasi dan kini diwujudkan dalam skala nasional.
