Takdir Prabowo: Benang Kusut Menjelma Menjadi Benang Merah
Oleh Justino Djogo, MA MBA,
Direktur Eksekutif FDN
INVESTORTRUST.ID– Prabowo Subianto disambut aneka tanya dan sindiran publik, semenjak kepulangan dari pengungsian politik di Yordania awal tahun 2000-an pascajatuhnya Presiden Soeharto. Menurut beberapa sumber terpercaya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Taufik Kiemas, dan Susilo Bambang Yudhoyono yang berhasil meyakinkan Prabowo kembali ke pangkuan Bumi Pertiwi.
Tak perlu saya jelaskan lebih detail soal ini. Pelan tapi pasti, Prabowo mulai menjahit kembali benang kusut karier militer yang berakhir secara tak menggembirakan, dan mulai merajut helai demi helai benang merah perjuangan politiknya.
Secara implisit, para pengeritiknya menamakan momen 'pengembaraan' politik dan mengembalikan citra heroik sebagai prajurit pun datang. Singkatnya, ketika ada perusahaan raksasa nasional yang bangkrut dan hampir saja dilelang ke konsorsium perusahaan asing, muncullah Prabowo di Istana Wapres RI untuk bertemu Jusuf Kalla, dengan segudang hasrat untuk menyelamatkan perusahaan tersebut. Daripada jatuh ke tangan asing, mending kembali ke pundak anak negeri sendiri. Jiwa heroik dan nasionalisme Prabowo jelas kelihatan.
Baca Juga
Rekapitulasi KPU di 32 Provinsi: Prabowo Unggul 45,2 Juta Suara dari Anies
Takdir pun menyirami ladang dedikasi Prabowo, seiring didapuk menjadi Ketua HKTI. Ya, kita bisa panggil beliau Jenderal Petani, Komando Para Nelayan.
Pengembaraan Politik Prabowo
Seiring detak jantung demokrasi yang memacu lahirnya banyak parpol, Prabowo pun mendirikan Partai Gerindra. Saya tidak mengatakan ini sebagai akibat kekalahannya dalam konvensi Golkar tahun 2004, namun saya pandang sebagai pintu gerbang takdir Prabowo yang mengantarkannya 20 tahun kemudian di tahun 2024 menjadi pemenang (masih versi quick count) pilpres.
Lagi-lagi takdir berpihak pada Prabowo. Karena sampai sebulan sebelum pendaftaran ke KPU, beliau tidak dapat memutuskan siapa cawapresnya. Akhirnya, kita tahu siapa cawapresnya yang meskipun diselimuti sejuta misteri dan polemik terkait cawapres, toh takdir memenangkan Prabowo, meski masih sebagai hasil quick count.
Minimal kita dapat menyaksikan jejak takdir yang memuluskan langkahnya melalui JK dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang bahkan rela menyodorkan putranya untuk menjadi cawapres Prabowo. Kali ini, saya fokus hanya pada jalan panjang pengembaraan politik Prabowo.
Takdir Tambahan: Jenderal Kehormatan Bintang 4
Saya masih ingat momen Prabowo menerima takdir dengan senyuman, menyalami jajaran Dewan Kehormatan Perwiral (DKP), yang dulu memberhentikannya dengan hormat. Bahkan, beberapa jenderal kawakan, Wiranto, Agum Gumelar, Hendropriyono, dan SBY, kini ada di pihaknya dalam kontestasi Pilpres 2024.
Saya sangat tidak yakin bahwa Prabowo pernah mengira akan mendapat anugerah jenderal kehormatan bintang empat. Pemberian bintang empat jenderal kehormatan ini bukanlah karunia yang tiba-tiba jatuh dari langit. Pasalnya, di tahun 2022, beliau sudah diberi Bintang Yudha Dharma Utama, penghargaan tertinggi dalam dunia militer di Indonesia.
Baca Juga
Sebelumnya, banyak analis menilai karier militernya mulai berakhir ketika alm BJ Habibie, presiden ke-3 RI, menandatangani surat pemberhentiannya dengan hormat sebagai Pangkostrad. Saya pun yakin, Prabowo tidak menyangka dan juga tak akan dendam terhadap pak BJ Habibie yang menandatangani pemberhentiannya sebagai Pangkostrad atas rekomendasi Panglima ABRI Jenderal Wiranto saat itu.
Sejarah yang mengkondisikannya. Bukan oleh siapa-siapa, namun oleh takdir Ilahi.
Setelah mengikuti 4 kali kontestasi pilpres, dapat dikatakan bahwa Prabowo bukanlah pendendam. Dia baik-baik saja ketika orang kepercayaannya Menteri Sandiaga Uno dan mantan Menteri Sudirman Said yang di tahun 2019 berjibaku bersamanya, pindah ke panggung lain di Pilpres 2024.
Mereka pisah baik-baik dan itu pun akan baik-baik saja setelah pemilu. Apalagi, kita dengar akan terjadi Koalisi Besar Prabowo- Gibran Rakabuming Raka, yang bahkan diwanti-wanti Sudirman Said. Apakah ini pertanda baik? Janganlah kita ceroboh menilainya.
Pelan tapi pasti, bisa kita tarik benang kusut yang menjelma kembali oleh takdir menjadi benang merah yang kuat, dalam perjalanan militer dan politik seorang Prabowo. Kita tak dapat menyalahkan siapa pun, tapi menyaksikan jiwa patriotnya.
Sekali lagi, Prabowo bukanlah pendendam dan mengutamakan kepentingan nasional. Apalagi, Panglima TNI 2015-2018 Jenderal Moeldoko mengatakan bahwa, jika di kemudian hari ada bukti yang bisa menganulir pemberian bintang jasa militer seseorang, maka itu pun akan berlaku untuk Prabowo.
Kita memang menganut egalitarianisme, meskipun sedikit kadang dikejutkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Tentang ini kita bahas di kesempatan lain.
Bukankah kita saksikan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) putra SBY, baru saja dilantik menjadi Menteri ATR/Kepala BPN. Ini hak prerogatif Presiden. Tentu ada jasa Prabowo dalam hal ini.
Siapa meragukan kedekatan Prabowo dan Jokowi? Meski hak prerogatif Presiden Jokowi mengangkat AHY menjadi menteri, kita paham bahwa Partai Demokrat itu bukan di kubu Jokowi tahun 2019.
Mengapa Jokowi buru-buru mengangkat AHY sebagai menteri untuk 8 bulan sisa masa jabatannya? Lagi-lagi, pertanyaan, apakah ini ada 'restu' Prabowo?
Ya, tentu saja. Bukankah saat hari pendaftaran sebelum ke KPU, Prabowo masih menyempatkan bertemu SBY beberapa menit, meski Partai Demokrat baru saja bergabung mendukungnya.
Mari kita tarik benang merahnya. Atau beberapa momen ketika Prabowo berinteraksi dan berdiskusi di Kadin Indonesia atau ketika ada acara di Partai Golkar dengan Ilham Habibie, putra alm BJ Habibie, yang menurutnya akan meneruskan cita-cita BJ Habibie mengembangkan industri dirgantara nasional. Tidak ada sekat emosional masa lalu. Yang ada hanyalah masa depan bangsa ini.
Prabowo memang tokoh nasionalis dan patriotik. Tanpa ada aura dan aroma dendam politik.
Sebagai bangsa yang besar, kita butuh presiden penyatu dan nasionalis sejati. Benang kusut yang telah kembali dijahit, sudah dilanjutkan lagi menjahit benang merah yang kita saksikan saat ini.
Kita doakan Prabowo akan menjadi RI 1, presiden ke-8 NKRI. Hanya takdirlah yang membuatnya menjadi mungkin. (pd)

