Saham Jaya Agra (JAWA) Melesat Dua Hari, Simak Faktor Pemicunya
JAKARTA, Investortrust.id - Penguatan harga saham PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) kembali berlanjut hingga auto reject atas (ARA) pada Rabu (4/10/2023), meski indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal transaksi telah anjlok lebih dari 95 poin (1,37%) menjadi 6.845.
Berdasarkan data perdagangan saham BEI, saham JAWA kembali melesat hingga ARA dengan penguatan Rp 28 (34,57%) menjadi Rp 109 hingga pukul 10.15 WIB. Saham ini bergerak dalam rentang Rp 76-109.
Baca Juga
Sejam Transaksi, IHSG Terjun 85 Poin Dipicu Sentimen Negatif Bursa Global
Penguatan harga saham JAWA berlangsung sejak kemarin dengan kenaikan Rp 14 (20,90%) menjadi Rp 81. Tak hanya itu, volume transaksi saham JAWA meningkat signifikan menjadi 40,37 juta saham kemarin dan lebih dari 42 juta hari ini. Dengan demikian, saham JAWA telah melesat 62,68% dalam dua hari perdagangan saham.
Lompatan harga saham JAWA tersebut sejalan dengan pengumuman resmi bahwa perseroan akan mengonversi sebagian utang menjadi saham melalui mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMHTHMEDT) dengan harga pelaksanaan Rp 100 per saham.
Perseroan akan menerbitkan sebanyak 12,45 miliar saham atau setara dengan 76,75% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Konversi utang tersebut diharapkan memperkuat posisi keuangan perseroan, sehingga nilai tambah bagi pemegang saham meningkat ke depan.
Baca Juga
Sekuritas Ini Revisi Naik Target Saham Medco (MEDC) Saat Laba Anjlok, Kok Bisa?
Melalui PMHTHMEDT tersebut, perseroan akan mengonversi utang sebanyak Rp 1,24 triliun menjadi 12,45 miliar saham baru. Utang yang dikonversi merupakan pinjaman dari pemegang saham pengendali perseroan. Dengan aksi tersebut total liabilitas perseroan turun tajam dari Rp 3,57 triliun menjadi Rp 2,32 triliun.
Dengan aksi korporasi tersebut, porsi kepemilikan PT Sarana Agro Investama di JAWA akan meningkat drastis dari 80% menjadi 95,34%. Sedangkan porsi saham publik tergerus dari 19,99% menjadi 4,65%.
“Dengan transkasi ini, perseroan dapat memperbaiki posisi keuangan, yaitu rasio utang akan lebih sehat, beban keuangan berkurang, serta arus kas yang lebih kuat di masa mendatang. Hal ini diharapkan meningkatkan nilai bagi para pemegang saham perseroan,” tulis manajemen dalam prospektus yang diterbitkan pekan lalu.
Baca Juga
4 Saham Syariah Ini Bisa Jadi Opsi Trading, Pantau Target Harga Berikut
Aksi korporasi tersebut akan direalisasikan setelah ada persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPSLB) perseroan pada 23 Oktober 2023.
Hingga semester I-2023, rugi bersih perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bertambah dari Rp 89,74 miliar menjadi Rp 173,46 miliar. Penurunan dipengaruhi atas besarnya beban keuangan hingga Rp 124,73 miliar bersamaan dengan penurunan penjualan menjadi Rp 446,72 miliar.

