IHSG Tetap Menguat Meski Dibayangi Konflik AS–Venezuela, January Effect Jadi Penopang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih melanjutkan tren penguatan meskipun dibayangi sentimen geopolitik global, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai penguatan IHSG terjadi karena pelaku pasar belum melihat konflik tersebut sebagai faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan global dalam jangka pendek.
Baca Juga
Naiknya Harga Bitcoin Picu Masifnya Perusahaan Asuransi Global Masuk ke Aset Digital
“Menurut saya, IHSG tetap menguat karena pasar menilai konflik AS–Venezuela belum berdampak luas terhadap stabilitas keuangan dan perekonomian global, setidaknya dalam jangka waktu pendek,” ujar Reydi kepada investortrust.id, Selasa (6/1/2025).
Ia menambahkan, sentimen geopolitik kerap hanya menjadi gangguan sementara bagi pergerakan pasar. Menurutnya, optimisme domestik di awal tahun justru lebih dominan mendorong IHSG hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, seiring dengan efek Januari (January effect).
“Sentimen geopolitik ini cenderung dianggap sebagai noise oleh pasar. Optimisme domestik di awal tahun lebih dominan mendorong pergerakan indeks hingga mencetak all time high terkait January effect,” jelasnya.
Baca Juga
IHSG Sesi I kembali Torehkan ATH 8.905, Saham INPC hingga ADMR Perkasa
Meski demikian, Reydi menegaskan bahwa untuk mendorong IHSG menembus level psikologis 9.000, dibutuhkan dukungan yang lebih kuat, terutama dari arus dana asing dan kinerja fundamental emiten berkapitalisasi besar.
“Untuk IHSG menembus 9.000, dibutuhkan arus dana asing yang konsisten dan kinerja fundamental emiten big caps,” katanya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, IHSG tercatat terus menguat selama tiga hari perdagangan di awal 2026. Pada sesi I perdagangan Selasa (6/1/2025), IHSG melesat 23,25 poin atau 0,26% ke level 8.882,44. Indeks bahkan sempat mencatatkan rekor intraday tertinggi baru di level 8.905.
Baca Juga
Tarif Trump Bayangi Pasar Kripto, Bagaimana Dampaknya pada Bitcoin dan Ethereum di Awal 2026?
Kiwoom Research mencatat sektor barang baku, energi, dan transportasi menjadi tiga penggerak utama penguatan IHSG.
Namun demikian, penguatan indeks masih minim dukungan dari investor asing. Kiwoom mencatat belanja bersih asing hanya sebesar Rp 38,87 miliar di seluruh pasar, di tengah nilai tukar rupiah yang berada di level Rp 16.730 per dolar AS.
Meski demikian, Kiwoom Research tetap optimistis efek Januari dapat mengawal pergerakan IHSG menuju level 9.000. Menurut Kiwoom, karakter bursa saham Indonesia yang berbasis komoditas menjadi faktor pendukung di tengah isu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela.

