Pengamat Ini Sebut January Effect Sedang Berlangsung, Tetapi IHSG Masih Merah, kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – Perdagangan saham bulan Januari tinggal tersisa sepekan lagi. Para investor di lantai bursa pun bertanya-tanya, masih adakah peluang January effect? Bukan apa-apa, indeks harga saham gabungan (IHSG) selama tahun berjalan (year to date/ytd) masih minus 0,60%.
January effect adalah fenomena saat harga saham naik pada bulan Januari. Siklus ini nyaris terjadi setiap bulan Januari. Para investor di lantai bursa biasanya memborong saham pada bulan Januari dengan ekspektasi, spirit, dan kocek baru setelah menutup perdagangan pada akhir tahun sebelumnya.
Baca Juga
Tinggal Seminggu, IHSG Masih Merah, Apakah January Effect Masih Berpeluang Muncul?
Berdasarkan catatan investortrust.id, IHSG dalam 13 tahun terakhir lebih banyak mengalami January effect. Namun, tahun lalu, January effect tidak terjadi.
Pengamat pasar modal dan Founder WH Project, William Hartanto menegaskan, January effect sesungguhnya sedang terjadi. Namun, saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) tengah dilanda volatilitas tinggi. Alhasil, IHSG pun tertekan.
“January effect menurut saya ada dan sedang terjadi. Cuma, kalau kita fokus ke IHSG akan kelihatan bahwa January effect gagal (tidak terjadi),” tandas William kepada investortrust.id, Rabu (24/01/2024).
Baca Juga
William Hartanto mengakui, sejauh ini belum ada sentimen yang signifikan untuk memicu munculnya January effect. “Tahun 2024 memiliki perbedaan yang berarti, mengingat selama 20-30 tahun terakhir penguatan IHSG selalu disokong oleh net buy asing, sedangkan tahun ini tidak,” ujar dia.
Alhasil, menurut William Hartanto, market seperti kurang tenaga untuk melanjutkan penguatan. “Pada bulan Januari tahun-tahun sebelumnya, penguatan IHSG hampir selalu didorong net buy asing,” tandas dia.

