Penguatan Harga Berlanjut, Ternyata Segini Target Harga Merdeka Battery (MBMA)
JAKARTA, Investortrust.id – Harga saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mendadak menguat bulan ini, khususnya pekan ini. Penguatannya juga diikuti dengan peningkatan volume dan nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penguatan harga saham MBMA juga diikuti dengan kenaikan harga saham induknya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) untuk periode sama. Berdasarkan data harga saham MBMA telah melesat dari penupan akhir pekan lalu Rp 735 menjadi Rp 810 pada penutupan kemarin. Begitu juga dengan harga saham MDKA melaju dari Rp 3.220 menjadi Rp 3.380.
Baca Juga
Hilirisasi Nikel Sudah Serap Investasi Rp 205 Triliun, Indonesia Jadi Eksportir HRC No 1 Dunia
Lalu, apa kata analis terkait prospek saham MBMA? Buana Capital dalam riset terbarunya menyebutkan MBMA merupakan perusahaan nikel raksasa dengan sumber daya sebanyak 1,1 miliar ton bijih yang mengandung sekitar 13,8 juta ton nikel dan 1 juta ton co.
MBMA juga memiliki ambisi besar untuk mendirikan pabrik HPAL dengan kapasitas produksi 240 ribu ton per tahun. Buana menyebutkan, strategi ini akan meningkatkan volume produksi nikel perseroan.
“Kami memperkirakan produksi nikel perseroan mencapai 92 ribu ton tahun 2023, diharapkan kembali meningkat menjadi 135 ribu ton pada 2024, dan mencapai 180 ribu ton pada 2025,” tulis analis Buana Caiptal Dennis Tay dalam riset yang diterbitkan belum lama ini.
Baca Juga
Sedangkan proyek AIM diperkirakan komersial pada kuartal IV-2023. Proyek tersebut akan memproduksi beragam barang tambang, seperti sulfer acid, saturated seteam, iron ore pellets, dan sponge copper, dan lain-lain.
Proyek Acid, Iron, Metal (AIM) adalah fasilitas pengolahan yang modern, terintegrasi, dan berlokasi strategis di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali, Sulawesi Tengah, Indonesia.
Baca Juga
Bagaimana Masa Depan Hilirisasi Nikel di Indonesia? Simak Apa Kata Ahlinya!
Terkait kinerja keuangan, Dennis Tay menjelaskan, laba bersih disesuaikan perseroan diprediksi meningkat menjadi US$ 37 juta tahun ini dan diharapkan melesat menjadi US$ 154 juta pada 2024. Sedangkan pendapatan diprediksi naik menjadi US$ 1,42 miliar tahun 2023 dan menjadi US$ 2,20 miliar pada 2024.
Potensi pertumbuhan yang pesat tersebut mendorong Buana Capital untuk mempertahankan rekomendasi beli saham MBMA dengan target harga Rp 870 per saham. Dengan penutupan MBMA Rp 810 kemarin, potensi penguatan saham ini masih terbuka hingga 7,5%.

