Kenapa Bank Big Cap Kecipratan Rezeki Pilpres 1 Putaran? Ini Alasannya
JAKARTA, Investortrust.id – Seperti diduga banyak kalangan, berlangsungnya pilpres yang diprediksi bakal terjadi dalam satu putaran bakal diikuti oleh bergairahnya perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia.
Penghitungan secara riil hasil pemilihan umum pada 14 Februari 2024 memang belum tersaji secara komprehensif. Namun hampir semua kelompok termasuk para pelaku pasar telah menganggap hasil hitungan cepat atau quick count merupakan cerminan dari hasil hitungan riil yang akan dilansir oleh Komisi Pemilihan Umum.
Pada perdagangan sesi pertama Kamis 15 Februari 2023, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat sebanyak 113,07 poin (1,57%) menjadi 7.322,81. IHSG bergerak di zona hijau sepanjang sesi dengan nilai transaksi Rp 8,43 triliun.
Menanggapi bergairahnya perdagangan saham pada Kamis ini, Hans Kwee, Direktur PT Anugerah Mega Investamamenyebut bahwa pasar menanggapi amat positif berlangsungnya pilpres selama satu putaran, sebagai gambaran tereliminasinya salah satu faktor ketidakpastian dari dalam negeri. Secara psikologis sejatinya pasar masih terganggu oleh risiko geopolitik dan masih tingginya tingkat suku bunga acuan The Fed, serta anjloknya harga komoditas.
“Risiko fluktuasi pasar dinilai akan sangat minimal jika pilpres berlangsung hanya dalam satu putaran. Para pelaku pasar mengapresiasinya karena pilpres satu putaran akan diartikan sebagai proses bisnis yang akan segera berjalan kembali selama masa tunggu jelang pemilu,” ujar Hans Kwee. “Para pelaku pasar setidaknya bisa menikmati hilangnya satu risiko di dalam negeri, yakni ketidakpastian,” ujarnya.
Risiko ketidakpastian pun sebenarnya juga dialami banyak pasar di sejumlah negara yang tengah menghadapi pemilu. Nah ketika pemilu di Indonesia dinilai berlangsung aman, dan hanya terjadi dalam satu putaran, akibatnya banyak dana asing yang menunggu masuk ke sejumlah negara akhirnya mengalir lebih dulu ke pasar Tanah Air, utamanya pasar saham.
“Para investor pun berbondong-bondong masuk ke saham-saham big cap, salah satunya tentu sektor perbankan. Maka bisa dipahami sejumlah bank berkapitalisasi besar hari ini menikmati kenaikan harga saham yang cukup signifikan,” imbuhnya.
Baca Juga
Top! Empat Saham Bank Besar Ini Kompak ATH hingga Akhir Perdagangan di BEI
Faktor Suku Bunga The Fed
Mengapa saham perbankan berkapitalisasi besar menikmati lungsuran dana investor, alasannya tentu terkait dengan sentimen yang dipicu oleh isu penurunan suku bunga The Federal Reserve.
Sekadar gambaran saja, ketika suku bunga The Fed (Federal Reserve) turun, pilihan investasi para investor akan mengarah ke saham-saham perbankan di pasar negara berkembang karena sejumlah alasan. Salah satunya adalah, turunnya suku bunga dapat merangsang pinjaman dan aktivitas kredit. Ini tentu dapat menguntungkan sektor perbankan karena mereka dapat memperoleh dana dengan cost of fund rendah dan kemudian akan digunakan untuk kucuran kredit pada industri. Pendapatan dan laba perbankan tentunya berpotensi makin gemuk.
Penurunan suku bunga The Fed juga dinilai bisa merangsang pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pastinya berdampak positif pada sektor perbankan, karena lebih banyak orang dan perusahaan yang membutuhkan layanan keuangan untuk pengembangan usaha mereka.
“Maka bisa dipahami, investor banyak mengincar saham perbankan di Tanah Air. Terlihat dari saham Bank Mandiri yang melesat 4,27% ke level Rp 7.325. Bahkan BMRI masuk ke posisi keempat saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI, melewati BYAN,” ujar Hans Kwee.
Sementara itu di sisi lain saham-saham berbasis komoditas dan batu bara memang tengah turun. Tentunya hal ini amat terkait dengan tren harga batu bara dan komoditas mineral lainnya yang merosot, menyusul pelemahan ekonomi China yang selama ini menjadi sumber transaksi dan perdagangan komoditas asal Indonesia.
Baca Juga
Sekadar catatan, pada sesi pertama perdagangan hari ini, kamis (15/2/2024), harga saham empat bank papan atas dengan kapitalisasi pasar terbesar melesat, bahkan mencetak rekor harga tertinggi baru (all time high/ATH).
Keempat bank tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Penguatan tertinggi dialami saham BBNI dengan kenaikan Rp 300 (5,11%) menjadi Rp 6.175 hingga pukul 11.30 WIB. Diikuti BMRI yang sempat mencapai kenaikan Rp 325 (4,63%) menjadi Rp 7.325. Penguatan juga dialami induk holding ultra mikro BBRI sebesar 150 poin atau 2,50% menjadi Rp 6.150. Sedangkan BBCA melesat 200 poin atau terkerek 2,06% menjadi Rp 9.925.
Sama halnya dengan Hans, Deputy President Director Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma menyebut berlangsungnya pilpres dalam satu putaran lebih memberikan kepastian kepada pasar. “Sementara jika berlangsung selama dua putaran, pasar masih harus menunggu kepastian selama 4 bulan,” ujarnya kepada Investortrust.
Terbentuknya kepastian di pasar berikutnya terefleksi pada masuknya investor asing ke emiten-emiten perbankan berkapitalisasi besar, seperti BMRI dan BBNI, BBRI, serta BBCA.
“Investor asing biasanya pertama kali akan menyerbu saham big banks khususnya. Apalagi harga-harga sahamnya sudah lama tidak begitu bergerak, walaupun semuanya mencatatkan laba bersih tertinggi dalam sejarah,” kata Suria.
Pasar Positif pada 3 Paslon
Soal seputar berlangsungnya pilpres yang diikuti oleh penghitungan cepat yang memenangkan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, sejatinya kata Hans, pasar memandang positif pada ketiga paslon.
Baca Juga
Saham BBTN Lanjutkan Penguatan, Target Harga Saham masih Tinggi
Berbeda dengan kondisi pada pemilu 2019, ketika pasar jauh merasa optimistis jika Joko Widodo yang memenangkan Pilpres. “Pilres kemarin pasar netral kok. Hal terpenting bagi pelaku pasar adalah pemilu berjalan jujur dan adil, damai, tidak diikuti demo-demo anarkis, tak seperti tahun 2019,” kata Hans.
Hans juga menyebut pasar juga selalu mengapresiasi hasil final pilpres, siapapun pemenangnya. Hanya saja jika terjadi dua putaran, pada putaran pertama pasar akan diwarnai koreksi, namun pada hasil finalnya di putaran kedua, pasar dipastikan mengapresiasinya dengan maraknya transaksi perdagangan.
“Baik satu atau dua putaran, pasar akan mengapresiasi hasil final pilpres,” ujar Hans.
Berikutnya di tengah euforia pilpres satu putaran yang terefleksi pada perdagangan di bursa saham, Hans justru mengingatkan para investor untuk berhati-hati. Pasalnya sejumlah saham big cap telah mencapai rekor harga saham tertinggi.
“Belum lagi biasanya sentimen pasca pilpres itu hanya berlangsung jangka pendek, sebaiknya para investor berhati-hati memilih saham. Untuk saham-saham yang mengalami penguatan tertinggi, tentu sebaiknya buy on weakness,” ujarnya.

