PWS: Mayoritas Publik Ingin Pilpres 2024 Satu Putaran, Ini Alasannya
JAKARTA, Investortrust.id - Mayoritas publik menginginkan Pilpres 2024 berlangsung satu putaran saja. Lembaga survei Political Weather Station (PWS) pun merangkum alasannya.
Direktur Riset PWS, Sharazani menyebut 57,4% responden survei yang dilakukan pada 21-25 Januari 2024 menginginkan Pilpres satu putaran. Sementara 12,4% lainnya setuju dua putaran.
"Hasil survei PWS menegaskan mayoritas publik atau 57,4% responden menghendaki Pilpres 2024 satu putaran. Sedangkan 30,2% responden tak mempermasalahkan apakah Pilpres berlangsung satu atau dua putaran," kata Sharazani dalam rilis hasil survei secara daring, Jumat (26/1/2024).
Baca Juga
Survei PWS: Prabowo-Gibran Tampil Paling Baik dalam 2 Debat Terakhir
Sharazani pun mengungkap alasan-alasan yang disampaikan responden. Pertama, agar keuangan negara lebih efisien.
Kedua, agar ketegangan dan ketidakpastian politik segera usai. Ketiga, agar perekonomian kembali bergulir normal.
"Sedangkan responden yang menginginkan dua putaran memiliki alasan untuk tidak memberikan ruang kepada kecurangan serta menjamin keadilan bagi paslon yang bersaing," tuturnya.
PWS mengungkap data itu pun sejalan dengan elektabilitas masing-masing pasangan capres-cawapres. Dia menjelaskan dalam survei kali ini, paslon 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka meraih elektabilitas 52,3%.
Prabowo-Gibran unggul jauh dari paslon 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dengan elektabilitas 21,3%. Sementara paslon 03, Ganjar Pranowo-Mahfud MD meraih elektabilitas 19,7%.
"Hasil survei menunjukkan bahwa seandainya Pilpres dilaksanakan saat ini, pasangan Prabowo-Gibran keluar sebagai pemenang dengan keterpilihan 52,3%. Sementara responden yang belum menentukan pilihan 6,7%," katanya.
PWS menilai, jika tren ini bertahan hingga hari pemungutan suara pada 14 Februari 2024, maka Pilpres 2024 hanya akan berlangsung 1 putaran.
Survei dilaksanakan 21-25 Januari 2024 yang diikuti 1.200 responden dengan metode systematic random sampling di 34 provinsi di Indonesia. Margin of error sekitar 2,83% dengan tingkat kepercayaan 95%.

