Harga GZCO Melejit 300%, Tiga Analis Ini Soroti Prospek CPO dan Arah Baru Industri Sawit Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Gozco Plantation Tbk (GZCO) mencatat lonjakan spektakuler lebih dari 300% dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan hasil kombinasi antara sentimen akuisisi strategis dan prospek cerah harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global sejalan dengan kebijakan pemerintah di bidang persawitan nasional.
Hal itu diungkapkan analis pasar modal yang juga Founder Republik Investor Hendra Wardana, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, dan pengamat pasar modal Reydi Octa. Mereka dihubungi investortrust.id secara terpisah di Jakarta, baru-baru ini.
Hendra Wardana menilai lonjakan harga GZCO didorong dua katalis besar, yakni rencana akuisisi oleh PT Energi Melayani Negeri (EMN) dan tren penguatan harga CPO dunia.
Baca Juga
IHSG Berpotensi Lanjut Rebound, Saham CPO Jadi Pilihan Teratas Hari Ini
“Kabar rencana akuisisi sekitar 50% saham GZCO oleh EMN, perusahaan yang disebut terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro, suami Ketua DPR RI Puan Maharani, memicu euforia pasar,” ujar Hendra saat dihubungi investortrust.id, baru-baru ini.
Dia menambahkan, langkah ini sejalan dengan arah kebijakan energi nasional berbasis biodiesel. “Pemerintah ingin menghentikan impor solar dalam dua tahun ke depan. Berarti kebutuhan CPO untuk bahan bakar biodiesel (FAME) akan meningkat signifikan,” kata dia.
Dari sisi fundamental, menurut Hendra, potensi upside saham GZCO masih terbuka, terutama jika akuisisi EMN benar-benar terealisasi dan menciptakan sinergi bisnis energi hijau. “Secara teknikal, saham GZCO masih dalam tren naik kuat dengan target harga Rp 450, ditopang volume transaksi tinggi dan minat investor ritel yang melonjak,” jelas Hendra.
Dibandingkan pemain besar seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Tbk (LSIP), kata Hendra Wardana, GZCO unggul dari sisi momentum harga, sementara AALI dan LSIP tetap lebih solid dari sisi fundamental.
Dengan alasan tersebut, dia merekomendasikan buy untuk AALI dengan target harga Rp 9.000, buy untuk LSIP di Rp 1.475, dan buy untuk SSMS di level harga Rp 1.300.
CPO Global Masih Bullish
Hendra Wardana mengungkapkan, secara teknikal, penguatan harga CPO terlihat jelas pada grafik Crude Palm Oil Futures (MYX). Per 16 Oktober 2025, harga CPO berada di level RM 4.514 per ton, mendekati level resistance kuat di posisi RM 4.761 (Fibonacci retracement 0,382).
Baca Juga
Mentan Amran Sebut Indonesia Siap Kendalikan Harga CPO Dunia Lewat B50
Jika level ini berhasil ditembus, harga berpeluang melanjutkan kenaikan menuju RM 5.237 (Fibo 0,5) dan RM 5.714 (Fibo 0,618). “Namun, bila gagal, CPO berpotensi konsolidasi dengan support di level RM 4.172,” tutur dia.
Hendra menjelaskan, struktur channel naik masih terjaga sejak 2023, menandakan tren jangka menengah yang positif. Indikator MACD juga menunjukkan momentum bullish, sementara pergerakan MA 50, 100, dan 200 mingguan mulai berpotongan di bawah harga, mengindikasikan dukungan teknikal yang kuat.
Secara fundamental global, menurut dia, kenaikan harga CPO didorong permintaan tinggi dari India dan China, dua konsumen terbesar dunia serta ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok dan membuat investor beralih ke aset riil berbasis pangan.
“Dengan kombinasi faktor tersebut, harga CPO berpotensi menguat ke kisaran RM 4.800-RM 5.200 per ton hingga akhir 2025, atau naik sekitar 10–15% dari level kuartal sebelumnya,” ucap dia.
Baca Juga
Negara Ini Menjadi Pasar Sawit Terbesar Kedua RI, Serap 4,83 Juta Ton Ekspor CPO
Biodiesel Penopang Utama
Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, kebijakan pemerintah terkait program biodiesel B35 menuju B40 dan B50 menjadi katalis besar bagi sektor sawit.
“Program ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain utama energi hijau berbasis sawit,” ujar Nafan kepada investortrust.id, belum lama ini.
Dia mengemukakan, reli saham-saham CPO belakangan ini mendapatkan katalis kuat dari rencana penerapan program B50 pada 2026. “Rencana tersebut merupakan kelanjutan dari implementasi B40 yang sudah berjalan sepanjang 2025 dan menjadi bagian dari strategi pemerintah menuju kemandirian energi,” papar dia.
Menurut Nafan, program biodiesel menjadi strategi jangka panjang pemerintah untuk mengurangi impor minyak dan produk turunannya yang selama ini membebani neraca perdagangan dan APBN.
Baca Juga
WTO Menangkan Indonesia dalam Sengketa Biodiesel dengan Uni Eropa, Saatnya Saham CPO?
“Peningkatan campuran bahan bakar nabati dapat menghemat devisa sekaligus mendorong industri sawit nasional sebagai penyedia bahan baku utama biodiesel,” kata dia.
Euforia GZCO dan Risiko
Sementara itu, pengamat pasar modal, Reydi Octa menilai kenaikan GZCO lebih dari 300% dalam beberapa bulan terakhir lebih banyak dipicu oleh aksi korporasi dan tema biodiesel di sektor sawit.
“Pasar merespons rumor akuisisi EMN yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro sebagai peluang bagi GZCO untuk berbalik arah dan memungkinkan terjadi backdoor listing,” ucap Reydi.
Namun, ia mengingatkan fundamental GZCO belum sekuat AALI, LSIP, maupun SSMS. “Skenario akuisisi akan menarik investor apabila benar-benar terealisasi. Tapi untuk saat ini, kenaikan GZCO lebih banyak karena sentimen aksi korporasi,” ujar dia.
Reydi memproyeksikan harga CPO bergerak sideways dengan kecenderungan menguat hingga akhir tahun, ditopang oleh kebijakan biodiesel Indonesia selaku produsen terbesar sawit dunia dan permintaan global yang stabil.
