Tokoh Industri Sawit ini Sebut Pentingnya Konsesi Nasional untuk Dorong Legalitas Lahan Petani Sawit
JAKARTA, investortrust.id – Managing Director Sinarmas, Saleh Husin mengatakan pemerintah perlu memberikan konsesi nasional untuk mendorong legalitas lahan sawit yang dimiliki oleh petani swadaya yang memiliki porsi kepemilikan lahan sekitar 42% dari total industri sawit di Tanah Air.
“Saya sempat bertanya kenapa langkah replanting lambat sekali di 42% (lahan) tersebut. Ternyata mereka terhambat pada masalah legalitas kepemilikan lahan dari para petani,” kata Saleh Husin saat berbicara di Investortrust Focus Group Discussion: Strategi Lanjutan Akselerasi Hilirisasi CPO di Aula Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Ia pun mengaku pernah mendiskusikan persoalan legalitas lahan para petani tersebut dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Persoalan penggunaan lahan berstatus hutan lindung atau hutan produksi yang sering menjadi kendala legalitas para petani untuk mendapatkan lahan yang sah, sejatinya menurut Saleh Husin sudah bukan rahasia lagi justru kerap dijadikan lahan untuk membangun
“Kenyataannya di lapangan, yang namanya hutan lindung, ada kantor bupati, ada kantor DPRD, kantor Polres, kantor Dandim, kantor kajari. Tapi di dalam peta masih hutan lindung (statusnya),” kata Saleh Husin.
Baca Juga
Saleh Husin Ungkap Hilirisasi CPO Bisa Tambah Devisa Indonesia Sebesar US$ 7 Miliar
Ia pun meminta kebijaksanaan dari Kementerian LHK, agar negara juga bisa menikmati peningkatan pendapatan dari pajak para petani yang mamu meningkatkan produktivitasnya, lewat kepastian legalitas kepemilikan lahannya.
“Bagaimana kalau kita melakukan konsesi nasional, memutihkan lahan-lahan yang 42 persen tersebut, yang legalitasnya belum jelas, diputihkan saja. Sehingga pajak negara jelas. Dan sampai sekarang belum jalan-jalan,” imbuh Saleh.
Dalam kesempatan tersebut ia berharap pemerintahan yang baru bisa mendukung langkah konsesi tersebut agar industri sawit bisa leluasa melakukan peningkatan produksi yang bakal diikuti hilirisasi, dan pada ujungnya bisa dikerek pendapatan buat negara dalam bentuk pajak.
“Kita harapkan dengan pemerintahan yang baru hal ini bisa terlaksana, sehingga betul-betul apa yang kita cita-citakan bahwa melalui industri sawit ini kita bisa memakmurkan masyarakat, terutama masyarakat di sekitar dan terutama petani plasma ini bisa makmur yaitu dengan melakukan konsesi nasional. Termasuk peningkatan produktivitas daripada petani swadaya tersebut,” ujar Saleh Husin.
Dalam kesempatan sama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai petani swadaya memiliki peran penting dalam menentukan kesuksesan hilirisasi sawit di Indonesia. Pasalnya, petani kelapa sawit swadaya mengelola sekitar 40% dari total perkebunan kelapa sawit nasional.
Baca Juga
Gapki: Petani Swadaya Penentu Kesuksesan Hilirisasi Sawit di Indonesia
Ketua Bidang Agro Industri Gapki, Rapolo Hutabarat menyebutkan, pada akhirnya hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi industri kelapa sawit. Sebab, sangat penting untuk meningkatkan kemampuan para petani swadaya ini dalam menjawab permintaan pasar global.
“Jadi sebenarnya hilirisasi yang menjadi tantangan adalah petani swadaya yang 40% tadi. Selain itu juga bibit yang bersertifikat dan terjangkau harganya. Karena bibit secara komersil sangat mahal,” kata Rapolo Hutabarat.
Faktor yang tidak kalah pentingnya, lanjut Rapolo, adalah pupuk bersubsidi bagi petani sawit. Menurutnya, kalau ketiga komponen itu bisa diterima dan diaplikasikan oleh para petani swadaya terhadap 16,38 juta hektare lahan, maka perusahaan swasta akan bisa mencapai 6-7 ton minyak sawit per hektare per tahun.
“Indonesia secara nasional rata-rata 3-4 ton, tapi kalau kita lihat petani swadaya itu masih di bawah 3 ton. Dengan luasan eksisting 16,38 juta hektare, yang dimiliki petani 40%, itu adalah seluas 6,5 juta hektare,” papar Rapolo.
Rapolo meyakini, seandainya petani swadaya bisa menerapkan pertanian yang baik, serta mendapat bibit bersertifikat dan pupuk yang terjangkau harganya, maka target 100 juta ton sawit di 2045 bisa tercapai.
“Tadi disampaikan bagaimana kita mencapai 100 juta ton di 2045? Sebenarnya sangat sederhana. Barangkali luas lahan yang ada sekarang itu kalau dipotret kembali mungkin sudah 20 juta hektare. Dengan produktivitas 5 ton saja sudah selesai itu barang 100 juta ton,” pungkas dia

