Realisasi di Bawah Target, Begini Prospek Saham Indo Tambangraya (ITMG)
JAKARTA, investortrust.id – Realisasi kinerja keuangan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sepanjang 2023 di bawah estimasi. Hal ini dipicu atas penurunan rata-rata harga jual batu bara bersamaan dengan volume produksi perseroan yang lebih rendah dari estimasi.
Indo Tambangraya (ITMG) mencadtatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 500 juta tahun buku 2023. Angka tersebut terkoreksi 58,57% secara year on year dibanding US$ 1,22 miliar.
Baca Juga
Laba Bersih Indo Tambangraya (ITMG) Turun 58% Jadi US$ 500 Juta
Penurunan laba sejalan dengan perolehan pendapatan sebesar US$ 2,37 miliar tahun 2023, atau menurun 35% dibandingkan periode yang sama tahun 2022. Meski begitu secara tahunan volume penjualan tercatat naik sebesar 11%.
“Kami meyakini bahwa penurunan laba bersih ITMG akan berlanjut di tengah berlanjutnya penurunan harga jual batu bara, sehingga saham ITMG direkomendasikan netral dengan target harga Rp 25.000 per saham,” tulis tim riset Mandiri Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.
Mandiri Sekuritas menyebutkan bahwa realisasi laba bersih perseroan tahun lalu jauh di bawah target yang ditetapkan Mandiri Sekuritas dan consensus analis. Penurunan harga jual menjadi faktor utama penekan laba bersih yang memicu margin keutungan perseroan anjlok sepanjang tahun lalu.
Manajemen ITMG mengatakan, perolehan pendapatan didukung oleh peningkatan produksi sebesar 1%, terjadi penurunan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 41%, dari US$ 192 per ton di tahun 2022 menjadi US$ 113 per ton di tahun 2023. Sementara itu beban pokok pendapatan di 2023 mengalami penurunan YoY sebesar 6%, tercatat sebesar US$ 1,63 miliar dibandingkan dengan US$ 1,74 miliar pada tahun sebelumnya. “Penurunan beban pokok pendapatan dipengaruhi oleh penurunan royalti akibat penurunan harga jual batu bara dan penurunan harga patokan batu bara,” urai Manajemen ITMG.
Baca Juga
IHSG Kembali Dibuka Terjerembab, tapi Saham FORU Lanjut Melesat
Pada pos beban operasional 2023 terjadi penurunan 35% dibandingkan tahun lalu, terutama disebabkan oleh penurunan ASP yang pada akhirnya menurunkan beban penjualan Perusahaan. Selain itu, kata Manajemen ITMG, terjadi reversal pada beban Kewajiban Pasar Dalam Negeri (DMO) yang telah dicatat secara akrual untuk kinerja pada tahun 2022 berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 399.K/MB.01/MEM.B/2023.
Adapun pendapatan lainnya terutama dipengaruhi oleh posisi lindung nilai Perusahaan, di mana pada 2023 kontrak swap mencatat keuntungan baik untuk bahan bakar maupun batu bara sebesar US$ 19 juta dibandingkan kerugian US$ 102 juta di 2022.
Per Desember 2023, kas dan setara kas mewakili 39% dari total aset. Kemudian total utang terdapat peningkatan posisi pinjaman bank dari US$ 26 juta pada akhir tahun 2022 menjadi US$ 48 juta pada akhir tahun 2023 yang berdampak pada meningkatnya rasio utang terhadap ekuitas dari 0,01 menjadi 0,03. Posisi ekuitas Pada akhir tahun 2023 mencapai US$ 1,78 miliar, turun dari US$ 1,95 miliar yang disebabkan oleh realisasi dividen.

