Outstanding Obligasi Korporasi Rp 447,05 Triliun, Asing Asyik Lego SBN
JAKARTA, investortrust.id – Penerbitan obligasi masih menjadi alternatif sumber pendanaan yang menarik bagi perusahaan. Meski tidak sesemarak tahun-tahun sebelumnya, lantaran tingginya suku bunga acuan, pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap meningkat.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Kautsar primadi Nurahmadi, mengungkap, hingga akhir pekan ini, Jumat (7/10/2023), BEI mencatat total outstanding obligasi korporasi dan sukuk mencapai Rp 447,05 triliun dan US$ 47,5 juta.
Obligasi dan sukuk ini diterbitkan diterbitkan oleh 126 emiten dengan jumlah emisi sebanyak 523,’’ tutur Kautsar dalam keterangan yang dikutip Sabtu, (7/10/2023).
Baca Juga
Harga Jual dan Beli Emas Batangan Antam Naik Rp 4.000 per Gram
Adapun sepekan terakhir, periode 2-6 Oktober 2023, terdapat pencatatan 1 obligasi korporasi yang dilakukan oleh PT Toyota Astra Financial Services (TAFS) yang menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV Toyota Astra Financial Services Tahap II Tahun 2023 dengan nilai nominal sebesar Rp 625 miliar.
Hasil pemeringkatan dari PT Fitch Ratings Indonesia (Fitch) untuk Obligasi tersebut adalah AAA (idn) (Triple A). Bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi ini adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Dengan masuknya obligasi tersebut, maka total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat, khusus sepanjang tahun 2023 adalah 80 emisi dari 54 emiten senilai Rp 89,71 triliun.
Selain obligasi korporasi dan sukuk, BEI juga mencatat jumlah dan nilai Surat Berharga Negara (SBN). Saat ini di BEI ada sebanyak 191 seri SBN yang tercatat dengan nilai nominal Rp 5.536,74 triliun dan US$ 486,11 juta. Sementara Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 9 emisi senilai Rp 3,07 triliun.
Meski pencatatan obligasi masih tetap diminati, tampaknya animo investor pada instrument surat utang agak mengendur.
Baca Juga
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), dalam sepekan terakhir, terjadi aliran dana asing keluar (capital outflow) dari pasar portofolio domestik sebesar Rp 2,5 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono mengatakan, dana keluar didominasi dari penjualan SBN, mencapai Rp 2,92 triliun.
Kemudian posisi beli neto asing tercatat Rp0,02 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp0,40 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). ‘’Dengan begitu total dana keluar Rp 2,5 triliun,’’ papar Erwin dalam keterangan resmi, Jumat (7/10/2023).
Sedangkan secara yeat to date, sejak 1 Januari hingga 5 Oktober 2023, modal asing bersih yang masuk di pasar SBN senilai Rp 57,64 triliun dan di SRBI Rp 7,65 triliun, serta yang keluar dari pasar saham sebesar Rp 6,43 triliun.

