BEI Catat Outstanding Obligasi Korporasi Tembus Rp 454,82 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut outstanding obligasi dan sukuk korporasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia secara keseluruhan saat ini mencapai Rp 454,82 triliun dan US$ 47,5 juta dengan jumlah emisi sebanyak 528.
“Jumlah obligasi tersebut diterbitkan oleh 127 emiten,” papar PH Sekretaris Perusahaan BEI Aulia Noviani Utama Putri dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/9/2023).
Sementara Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 191 seri dengan nilai nominal Rp5.536,74 triliun dan US$ 486,11 juta. Sedangkan Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 9 emisi senilai Rp3,07 triliun.
Baca Juga
Yuk Bergegas, Layanan Sim Keliling Jakarta Hari Ini hingga Pukul 12.00 WIB
Adapun sepanjang tahun ini, pencatatan obligasi dan sukuk korporasi di BEI mencapai Rp86,96 triliun dari 77 emisi yang diterbitkan oleh 51 emiten sepanjang tahun 2023.
BEI menyampaikan, pencatatan obligasi paling akhir dilakukan oleh PT Pyridam Farma Tbk, dengan mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Pyridam Farma Tahap II Tahun 2023, senilai Rp 400 miliar dengan jangka waktu dua tahun.
Hasil pemeringkatan PT Kredit Rating Indonesia untuk obligasi ini adalah irBBB+ (Triple B Plus) dan PT Bank KB Bukopin Tbk bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi ini.
Baca Juga
Harga Logam Mulia Antam Hari Ini, Beli Rp 1,079 Juta Per Gram
Sebelumnya Analis Pasar Surat Utang PT Samuel Sekuritas Lionel Priyadi memperkirakan, perpindahan dana investor obligasi berlanjut seiring kekhawatiran investor terkait kebijakan moneter The Fed yang semakin hawkish.
Lionel Priyadi mengatakan, para investor cenderung mengalihkan dana mereka dari surat utang jangka panjang ke surat utang bertenor pendek. Kecenderungan ini dilakukan demi meminimalkan risiko investasi.
“Kami memperkirakan aksi ini akan terus berlanjut akibat koreksi di pasar global yang tercermin dari penurunan indeks S&P untuk developed market -0.3% dan EMBI untuk emerging market -0.8%, maupun kenaikan yield 10Y UST dan bunga masing-masing 9 bps dan 4 bps menjadi 4,49% dan 2,74%,” papar Lionel dalam riset hariannya, Jumat (22/9/2023).
Untuk itu dirinya merekomendasikan strategi buy and hold obligasi Surat Berharga Negara dan korporasi berbunga tinggi, sama dengan atau di atas level 7% hingga akhir 2024.

