Outstanding Obligasi Korporasi di BEI Tembus Rp 456,48 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total outstanding obligasi dan sukuk korporasi mencapai Rp 456,48 triliun dan US$ 69,05 juta hingga akhir pekan ini.
Obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI tersebut terbagi dalam 535 emisi yang diterbitkan oleh 127 emiten.
P.H. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmadi mengatakan, untuk sepanjang tahun ini, pihaknya mencatat emisi obligasi dan sukuk sebanyak 100 emisi dari 56 emiten senilai Rp 111,55 triliun.
‘’Sementara total Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 191 seri dengan nilai nominal Rp 5.536,74 triliun dan US$ 486,11 juta. Jumlah EBA (efek beragun aset) sebanyak 9 emisi senilai Rp 2,84 triliun,’’ papar Kautsar dalam keterangan yang dikutip, Minggu (19/11/2023).
Adapun pada pekan ini, BEI mencatat tambahan emisi Obligasi Berkelanjutan VI Federal International Finance Dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap II Tahun 2023 yang diterbitkan oleh PT Federal International Finance (FIFGROUP).
Baca Juga
Astra (ASII) Dorong Kolaborasi Semua Pihak untuk Indonesia Sehat
Melalui aksi korporasi tersebut, FIFGROUP menerbitkan obligasi dengan nilai pokok Rp 1,1 triliun yang dicatatkan di BEI pada Jumat, (17/11/2023).
Obligasi ini mendapat hasil pemeringkatan idAAA (Triple A) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi obligasi tersebut.
Sementara perdagangan pasar saham berlangsung semarak sepekan terakhir, tercermin dari beberapa indikator perdagangan periode, 13-17 November 2023.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat sebesar 2,47% ke level 6.977,668 dari level 6.809,263 pada pekan lalu.
Baca Juga
IHSG Diramal Tembus Resistance 7.000, Cek 6 Saham Potensi Cuan Sepekan
Penguatan IHSG membuat kapitalisasi pasar saham pekan ini mengalami kenaikan sebesar 3,27% menjadi Rp 11.040 triliun dari Rp 10.690 triliun pada pekan sebelumnya.
Tidak semua indikator menguat. Data Bursa Efek Indonesia menunjukan, penurunan terjadi pada rata-rata volume transaksi harian saham sebesar 11,35% selama sepekan, yaitu menjadi 16,94 miliar lembar saham dari 19,11 miliar lembar saham pada pekan lalu.
Kemudian, rata-rata nilai transaksi harian saham selama sepekan mengalami penurunan sebesar 32,42% menjadi sebesar Rp 8,63 triliun dari Rp 12,77 triliun pada sepekan yang lalu.
Kemudian, perubahan sebesar 3,45% terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian saham selama sepekan, menjadi 1.076.690 kali transaksi dari 1.115.185 kali transaksi pada pekan lalu.

