Prajogo Pangestu dari Sopir Angkot hingga Lompatan Kekayaan Jadi US$ 20,2 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – Nilai kekayaan Prajogo Pangestu terus melesat berkat penguatan harga sejumlah saham emiten yang dikendalikannya, khususnya saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Berdasarkan data real time Forbes, Kamis (9/11/2023), nilai kekayaan Prajogo Pangestu melambung menjadi US$ 20,2 miliar atau bertambah US$ 2,3 miliar dalam sehari. Nilai kekayaan tersebut berkisar Rp 323,20 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dollar AS. Lompatan tersebut menjadikan nilai kekayaan Prajogo mencapai level tertinggi sepanjang masa dan untuk pertama kalinya berada di atas US$ 20 miliar.
Baca Juga
Kembali Cetak Rekor, Market Cap Barito Renewables (BREN) Salip Bayan Resources (BYAN)
Bahkan, nilai kekayaannya Prajogo kini terapuat tipis dengan nilai kekayaan tiga terkaya lainnya di Indonesia. Di antaranya, Low Tuck Kwong melalui PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menempati urutan teratas terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan US$ 25,2 miliar
Posisi kedua ditempati R Budi Hartono dengan nilai kekayaan US$ 24,8 miliar dan ketiga diduduki Michael Hartono dengan total kekayaan sebanyak US$ 23,7 miliar. Kekayaan kedua kakak beradik ini berasal dari grup Djarum dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Lalu dari mana lompatan sumber kekayaan Prajogo Pangestu? Berdasarkan data, Prajogo memiliki empat perusahaan yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia. Dua dari empat emiten tersebut mencatatkan lompatan harga mengesankan sepanjang tahun ini, bahkan kenaikan harga ada yang sampai lebih dari 30 kali lipat.
Baca Juga
Saham Petrindo (CUAN) Cetak Rekor Baru Lagi, Ternyata Cuan Prajogo Pangestu Segini
Prajogo Pangestu bertindak sebagai pengendali dengan memegang sebanyak 66,73 miliar saham BRPT atau setara dengan 71,19% saham. Hingga penutupan perdagangan saham di BEI, Kamis (9/11/2023), market cap BRPT menembus angka Rp 100,30 triliun.
Prajogo melalui BRPT juga bertindak sebagai pengendali PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan kepemilikan 6,51 miliar saham BREN atau setara dengan 64,666%. Sebagaimana diketahui BREN kini merupakan saham dengan kepitalisasi terbesar ketiga di BEI dengan nilai Rp 699,03 triliun.
Prajogo Pangestu juga tercatat sebagai pengendali PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan kepemilikan 9,56 miliar saham atau 85,07%. Berdasarkan data penutupan perdagangan saham kemarin di BEI, kapitalisasi pasar CUAN telah mencapai Rp 78,67 triliun berkat lompatan harga lebih dari 30 kali lipat terhitung sejak listing perdana 8 Maret hingga Kamis (9/11/2023).
Baca Juga
Hingga Oktober, Prajogo Sudah Borong Ratusan Juta Saham Barito Pacifik (BRPT) dari Pasar
Selain ketiga perusahaan tersebut, Prajogo Pangestu tercatat sebagai pemegang langsung 7,78% saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Dirinya melalui Barito Pacific (BRPT) juga mengendalikan 34,63% saham TPIA. Hingga penutupan pasar kemarin, kapitalisasi pasar saham TPIA mencapai Rp 256,67 triliun atau masuk dalam daftar top 10 market cap terbesar di BEI.
Dari Sopir Angkot
Prajogo Pangestu lahir dengan nama Phang Djoem Phen di Sambas, Kalimantan Barat, pada 1944. Dirinya mengungkapkan terlahir dari keluarga miskin hingga mengharuskan Prajogo hanya menamatkan sekolahnya sampai tingkat menengah pertama.
Didukung tekat kuat menjadi orang sukses, Parajogo merantau ke Jakarta. Namun, dia tidak terlalu beruntung tinggal di ibu kota Indonesia karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.Hal ini membuat dirinya kembali ke Kalimantan dan bekerja menjadi sopir angkutan umum.
Baca Juga
Saat menjadi pengemudi, sekitar tahun 60-an, Prajogo mengenal pengusaha kayu asal Malaysia yang bernama Bong Sun On alias Burhan Uray. Pada 1969,Prajogo kemudian bergabung dengan Burhan Uray di PT Djajanti Group. Berkat kerja kerasnya, tujuh tahun kemudian Burhan mengangkat Prajogo sebagai General Manager (GM) Pabrik Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur.
Meski diangkat jadi GM di pabrik Plywood, Prajogo hanya bertahan setahun dan memutuskan hengkang untuk memulai bisnis sendiri dengan membeli CV Pacific Lumber Coyyang tengah mengalami kesulitan keuangan. Prajogo membayarnya dengan uang pinjaman Bank BRI dan dilunasi hanya dalam setahun.
Baca Juga
Aneh! Kuasai Saham BREN Rp 452,03 Triliun, Tapi Market Cap BRPT Hanya Rp 100,30 Triliun
Prajogo kemudian mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific. Perusahaan tersebut terus bertumbuh hingga bekerja sama juga dengan anak-anak Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya demi memperlebar bisnisnya. Bisnisnya dengan bendera Barito Group berkembang luas di bidang petrokimia, batu bara, pembangkit listrik panas bumi, perkebunan sawit, properti, perkayuan, dan lain-lain.

