Bos LPS: Investor Asing Masih Percaya Prospek Ekonomi Indonesia di Tengah Lesunya Kinerja Pasar Saham
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai investor asing masih memiliki kepercayaan terhadap pasar modal dan instrumen investasi di Indonesia. Meskipun pasar saham mengalami penurunan pada pertengahan Maret 2025, dana asing justru masuk besar-besaran pada Januari, Februari, dan Maret.
“Kalau kita lihat di pasar obligasi justru masuk besar-besaran Januari, Februari, Maret naiknya kenceng. Artinya apa? Kalau asing semuanya nggak percaya prospek ekonomi Indonesia mereka semua akan lari keluar kan,” kata Purbaya dalam wawancara bersama investortrust.id di Kantor Investortrust, Jakarta, Rabu (26/3/2025).
Purbaya melihat justu hal ini menunjukkan bahwa investor asing yang memiliki pemahaman fundamental yang baik tentang ekonomi Indonesia telah mulai masuk sejak awal tahun.
Menurutnya investor asing yang memainkan pasar obligasi biasanya memiliki investasi jangka panjang dan melihat prospek ekonomi Indonesia ke depan. Mereka tidak terpengaruh oleh sentimen jangka pendek dan tidak takut untuk mengambil risiko jangka panjang.
Baca Juga
Meski IHSG Sempat Anjlok, Ketua LPS Sebut Ekonomi Indonesia Justru Alami Perbaikan Signifikan
“Sementara asing yang mungkin yang suka 'main-main' dan dipengaruhi sentimen jangka pendek masih agak takut keluar. Jadi investor lokal waspada, kadang-kadang asing juga 'memainkan pasar' supaya jatuh ke level yang rendah habis itu mereka masuk,” ucapnya.
Sebagai gambaran, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai beli bersih atau net buy asing di surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 13,51 triliun dalam dua bulan awal 2025 (year to date/ytd).
Namun, perlu diwaspadai bahwa beberapa investor asing mungkin memainkan pasar untuk membuat harga saham jatuh ke level yang rendah, sehingga mereka dapat membeli saham dengan harga murah. Oleh karena itu, investor lokal perlu berhati-hati dan tidak terpengaruh oleh sentimen jangka pendek.
“Kalau asing asli yang main di bond market berani mengambil risiko jangka panjang berarti sebetulnya itu yang ada di kepala mereka sekarang sejak awal tahun itu kita membaik ekonominya. Mereka sudah lebih pintar melihat data-data tertentu. Jadi, kalau anda masuk bukan (untuk) membiayai mereka keluar, tapi anda masuk di harga terendah,” tuturnya.

