Jurus Vale Indonesia (INCO) Jaga Performa di Tengah Lesunya Harga Nikel
JAKARTA, investortrust.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menerapkan berbagai jurus dan strategi untuk menjaga performa keuangan, di tengah kemungkinan lesunya harga nikel di pasar global. Pertumbuhan laba bersih INCO pada sembilan bulan pertama 2023 (9M23) mendapatkan apresiasi positif dari sejumlah analis. Hal ini menjadikan saham perseroan dipertahankan dengan rekomendasi beli dari dua sekuritas ini.
Vale mencatat peningkatan total laba bersih menjadi US$ 221,08 juta hingga September 2023, dibandingkan periode yang sama tahun 2022 senilai US$ 168,38. Sedangkan sepanjang kuartal III-2023, laba Vale turun dari US$ 70,4 juta menjadi US$ 52,6 juta. Penurunan ini dipicu koreksi harga realisasi rata-rata nikel.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan menyebutkan bahwa realisasi laba bersih tersebut sudah merefleksikan 77,1% dari target BRI Danareksa Sekuritas dan mencapai 82,3% dari proyeksi konsensus analis. “Perolehan laba bersih tersebut sudah sesuai dengan estimasi kami, meskipun laba bersih kuartal III-2023 lebih rendah dari pencapaian kuartal II-2023. Bahkan, perolehan tersebut sudah melampaui proyeksi konsensus analis,” ujar analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan lalu.
BRI Danareksa Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap kemampuan Vale untuk mempertahankan margin tetap stabil, meskipun rata-rata harga jual nikel dalam matte terkoreksi sebanyak 5,6% sepanjang tahun berjalan. Perseroan juga berhasil menekan cash cost menjadi US$ 10.405 per ton, dibandingkan posisi September 2022 senilai US$ 11.407 per ton. Hal tersebut menjadikan EBITDA margin dan margin keuntungan bersih perseroan naik menjadi 41,2% dan 23,6%.
Terkait prospek performa keuangan INCO tahun ini, Hasan mengatakan, akan dipengaruhi perkiraan harga jual nikel yang tetap konservatif dan peningkatan volume produksi. Rata-rata harga jual nikel perseroan tahun ini diperkirakan mencapai US$ 22 ribu per ton dan kemungkinan cenderung turun menjadi US$ 17.160 per ton. Sedangkan volume produksi diperkirakan sesuai target mencapai 70 ribu ton tahun ini.
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga Rp 7.000. Target tersebut mempertimbangkan bahwa perseroan memiliki cadangan kas besar, dibandingkan emiten sejenis.
Sementara itu, RHB Sekuritas dalam riset terbarunya memberikan pandangan positif terhadap tingkat produktivitas Vale Indonesia (INCO) kembali optimum pada kuartal III-2023. Keberhasilan tersebut diharapkan membuat target produksi 70 ribu ton nikel tahun ini tercapai.
Namun demikian, menurut tim riset RHB Sekuritas, penurunan harga jual nikel menjadi tantangan bagi Vale tahun ini untuk mengejar target pertumbuhan kinerja keuangan lebih pesat.
“Kami memperkirakan rata-rata harga jual nikel perseroan cenderung mendatar tahun ini atau hingga terlihat ada indikasi pertumbuhan ekonomi global, khususnya China,” terangnya dalam riset yang diterbitkan hari ini.
Berbagai faktor tersebut mendorong RHB Sekuritas untuk merevisi turun target harga saham INCO dari Rp 8.300 menjadi Rp 7.120 dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih perseroan menjadi US$ 257 juta tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu US$ 216 juta. Pendapatan perseroan juga diprediksi naik dari US$ 1,17 miliar menjadi US$ 1,31 miliar.
Harga saham INCO pada penutupan 30 Oktober 2023 tercatat Rp 5.225, atau terkoreksi sekitar 26,4% ytd, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 52,92 triliun.
Prospek saham INCO
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 7.000
RHB Sekuritas
Rekomendasi : buy
Taqet harga : Rp 7.120
Penurunan Harga
CEO dan Presiden Direktur Perseroan Febriany Eddy mengatakan, harga realisasi rata-rata penjualan nikel Vale masing-masing sebesar US$ 16.204 dan US$ 18.596 per ton, menunjukkan penurunan sebesar 10% dan 6%, dibandingkan dengan harga realisasi rata-rata pada kuartal II-2023 dan September 2022.
“Meskipun terjadi penurunan harga, perseroan berhasil mencatat peningkatan penjualan sebesar 7% per September 2023 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” papar Febriany.
Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan volume pengiriman nikel dalam matte. Dengan demikian, kata dia, total Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) Vale sebesar US$ 401,1 juta pada kuartal III-2023, melampaui US$$ 382,6 juta yang dicatat pada kuartal III-2022.
Selain itu, selama kuartal III-2023, PT Vale telah menginvestasikan belanja modal sebesar US$ 65,7 juta, meningkat dari US$ 60,8 juta yang dikeluarkan pada kuartal II-2023. Peningkatan ini terutama dialokasikan untuk belanja modal keberlanjutan dan pertumbuhan.
“Meskipun terdapat pengeluaran yang lebih tinggi, Perseroan tetap mampu mengelola kas secara hati-hati dan melaporkan saldo kas dan setara kas sebesar AS$ 768,4 juta pada 30 September 2023, naik dari US$ 719,9 juta pada 30 Juni 2023,” imbuhnya.
Febriany Eddy menambahkan perseroan telah melakukan penandatanganan Perjanjian Definitif dengan Huayou dan Ford pada 30 Maret 2023. Terkait itu Vale mengumumkan penyelesaian evaluasi dan persetujuan Dewan Komisaris atas tambang Pomalaa dengan investasi senilai US$ 925 juta yang akan memasok bijih ke Pomalaa HPAL.
Vale Indonesia juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama Definitif dengan Huayou Cobalt Co. Ltd dan PT Huali Nickel Indonesia (Huali) untuk pembangunan fasilitas pengolahan nikel dengan teknologi HighPressure Acid Leaching (HPAL), dengan target produksi 60.000 ton nikel dan 5.000 ton kobalt per tahun dalam bentuk produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang dapat diolah lebih lanjut menjadi baterai kendaraan listrik. Proyek ini akan mengolah bijih nikel berjenis limonit dari blok Sorowako, sementara pabrik HPAL akan berlokasi di Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
“Kerja sama ini selaras dengan visi Indonesia untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik domestik, sekaligus menjadikan PT Vale sebagai kontributor utama dalam menjawab tantangan dekarbonisasi dunia, dengan investasi yang mampu menghadirkan peningkatan ekonomi lokal, dan memastikan pemberdayaan yang optimal untuk sumber daya nikel Indonesia. Komitmen rendah karbon dan mitra kami, beserta konsistensi praktik pertambangan berkelanjutan PT Vale, akan membuat proyek ini berkelas dunia,” kata Febriany.
Komitmen Perseroan dalam menerapkan praktik penambangan yang baik telah mendapatkan berbagai apresiadi. Pada September 2023, PT Vale menerima tiga piala “Best of the Best” pada Good Mining Practice (“GMP”) Award 2023. Penghargaan tersebut antara lain Sertifikat Aditama dan Piala “Terbaik” atas prestasi dalam Aspek Pengelolaan Teknis Pertambangan Mineral dan Batubara, Aspek Pengelolaan Konservasi Mineral dan Batubara, dan Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pertambangan Mineral dan Batubara. Selain itu, PT Vale juga menerima penghargaan “Utama” untuk Pengelolaan Bisnis Standardisasi dan Jasa Pertambangan.
“Kami menyampaikan rasa terima kasih kepada karyawan, kontraktor, dan pemangku kepentingan lainnya atas komitmennya dalam mengedepankan praktik penambangan yang baik. Perseroan tetap berkomitmen untuk memprioritaskan peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya, memastikan daya saing jangka panjang sambil menjunjung tinggi nilai-nilai perusahaan, yakni ‘Keselamatan jiwa merupakan hal terpenting, menghargai kelestarian bumi dan komunitas kita’”, kata Febriany. (Hari Gunarto)

