2022 Tanpa 'Window Dressing', Mungkinkah 2023?
Opini oleh Cheril Tanuwijaya*,
Head of Research Mega Capital Sekuritas (Investasiku)
Investortrust.id - Sepanjang tahun 2023, harga saham bergerak sangat volatile dan penuh kejutan. Bahkan indeks-indeks saham global tidak lagi bergerak searah.
Secara year to date (ytd), indeks utama Amerika Serikat (AS) cenderung menguat, seperti S&P 500 naik 10% dan Nasdaq melonjak 24%. Namun, indeks-indeks saham Asia mayoritas melemah seperti SSE Composite (Cina) sebesar 3,4%, Hang Seng (Hong Kong) merosot 13,19%, dan IHSG terpangkas 1,8%, sementara Nikkei (Jepang) melambung 19,79%. Hal ini menimbulkan sejuta pertanyaan di benak trader dan investor saham, khususnya trader 'angkatan Corona' yang baru masuk ke pasar modal di masa pandemi (2020).
Hal ini tak lepas dari kondisi ekonomi yang masih tertatih bangkit dari pukulan virus Covid yang melumpuhkan ekonomi global, lantas dihadapkan pada tekanan inflasi luar biasa hingga mencetak rekor tertinggi selama 40 tahun di AS. Meski ada berbagai faktor penyebab inflasi tinggi, secara mendasar ada 3 penyebab utama, yaitu gangguan rantai pasok di masa pandemi yang membuat harga komoditas dan bahan baku melonjak sehingga menimbulkan demand pull inflation. Kondisi ini diperparah oleh perang antara Rusia dan Ukraina yang merupakan negara produsen komoditas mulai dari minyak mentah, gas alam, gandum, dan lain-lain. Dan terakhir, kondisi pasar tenaga kerja AS yang kuat menjaga inflasi tetap tinggi, bahkan setelah kenaikan suku bunga 11 kali di tahun 2022 dan 4 kali di 2023.
Dengan pertimbangan tersebut, baik negara maju maupun negara berkembang sama-sama 'perang' terhadap tingkat inflasi yang tinggi. Kenaikan suku bunga dianggap obat mujarab yang dipercaya bisa membuat inflasi kembali ke target yang diharapkan masing-masing negara.
Namun, rupanya obat mujarab ini memiliki efek samping yaitu beban usaha yang tinggi akibat suku bunga yang tinggi, sehingga menahan laju pemulihan ekonomi yang baru bangkit dari pandemi. Sepanjang tahun 2023, level tertinggi inflasi AS terjadi di Januari dengan inflasi di level 6,4%. Suku bunga juga naik dari level 4,5% di awal 2023 menjadi 5,5% di Oktober lalu. Memang, suku bunga membuat inflasi turun ke level 3,7% per September 2023, namun masih jauh dari target Bank Sentral AS (The Fed) di level 2%.
Gambar 1 Tingkat inflasi AS berbanding terbalik dengan suku bunga.
Sumber: Tradingeconomics.
Tantangan tidak hanya datang dari negara adidaya AS, namun juga dari Cina yang merupakan motor perekonomian dunia, khususnya Asia. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Cina sepanjang tahun 2022 hanya mencapai 3%, jauh di bawah target 5%.
Jika AS mengalami inflasi tinggi, justru Cina mengalami deflasi hingga 0,3% pada Juli 2023. Hal ini disebabkan perilaku masyarakat yang cenderung menahan diri dalam berbelanja sehingga aktivitas ekspor impor menurun dan pertumbuhan ekonomi cenderung lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Data terbaru, produk domestik bruto (PDB) kuartal III-2023 Cina tumbuh 4,9% year on year, dengan target akhir tahun di level 5%. Di sisi lain, merebaknya kasus kredit macet pengembang properti raksasa di Cina seperti Evergrande dan Country Garden juga semakin menimbulkan kekhawatiran pasar.
Baca Juga
Momen Jokowi Makan Siang dengan Tiga Bacapres di Istana Merdeka Jakarta
2022, Perlambatan Pertumbuhan
Sejak akhir tahun 2022, pelaku pasar telah memiliki firasat terkait perlambatan ekonomi global dan ternyata sunguh-sungguh terjadi. Artinya, bisa dimaklumi jika fenomena window dressing yang ditunggu-tunggu tidak terjadi pada tahun lalu.
Sebagai informasi, window dressing adalah fenomena yang terjadi pada akhir tahun, yang ditandai oleh kenaikan harga saham akibat usaha emiten dan manajer investasi untuk mempercantik laporan keuangan perusahaan maupun portofolio investasi. Adapun cara-cara yang ditempuh melalui strategi pencatatan hak dan kewajiban secara akuntansi, maupun manajer investasi menjual posisi yang dianggap tidak menguntungkan ke saham-saham yang dianggap prospektif.
Berdasarkan data secara historical selama 15 tahun terakhir, IHSG cenderung mencatatkan penguatan di kuartal IV dengan rata-rata penguatan sebesar 2,52%. Selain itu, merupakan kuartal yang paling sedikit mencatatkan pelemahan dibandingkan kuartal lainnya.
Pelemahan di kuartal IV terjadi hanya 4 kali sejak tahun 2008 (tahun 2022, 2016, 2013, dan 2008). Sebaliknya, kuartal II merupakan kuartal yang paling lazim mencatatkan pelemahan, terjadi pelemahan sebanyak 8 kali sejak tahun 2008 (tahun 2023, 2022, 2019, 2018, 2015, 2013, 2012, dan 2008).
Gambar 2 Kinerja IHSG di kuartal IV sejak tahun 2008
Sumber: Bloomberg.
Sektor Diuntungkan Pilpres
Sekarang, kita telah memasuki kuartal IV di tahun 2023. Jika berkaca pada data historis, bisa saja window dressing sudah berada di depan mata. Namun, mungkinkah fenomena window dressing terjadi di tahun ini? Ataukah kembali mengulang tahun 2022?
Saat ini, kondisi sedikit berbeda dari tahun 2022. Meski demikian, fokus utama pelaku pasar masih di kebijakan moneter Negeri Paman Sam. Inflasi AS memang sudah melemah jauh dibandingkan puncaknya pada 2022, namun masih belum sesuai target dan berpotensi stagnan cenderung naik.
Mengapa demikian? Saat ini pasar juga khawatir dengan kenaikan harga minyak mentah akibat perang di Timur Tengah yang dikhawatirkan mengganggu pasokan minyak dunia. Harga minyak dunia saat ini naik setidaknya 30% dibandingkan harga di bulan Juni 2023, jangka waktu yang relatif pendek. Selain itu, beberapa data menunjukkan bahwa perekonomian AS masih kuat yang ditunjukkan oleh PDB kuartal III-2023 yang lebih tinggi dari perkiraan, kondisi pasar tenaga kerja yang kuat, dan penjualan ritel yang tinggi di tengah kenaikan suku bunga agresif di sepanjang 2023.
Baca Juga
Lantas, bagaimana dengan kondisi dalam negeri?
Di tengah kenaikan suku bunga AS yang agresif, pada Oktober ini secara mengejutkan Bank Indonesia (BI) melakukan kenaikan suku bunga sebanyak 25 bps ke level 6%, agar selisih suku bunga BI dan suku bunga AS tidak terlampau dekat. Terlebih, AS masih memberi ruang untuk kenaikan bunga 1 kali lagi di tahun 2023.
Disparitas yang sempit di antara suku bunga ini membuat nilai tukar rupiah melemah 2,50% dalam setahun. Selisih suku bunga riil (suku bunga dikurangi inflasi) antara Indonesia dengan AS berada di 1,92%, jauh di bawah rata-rata 5 tahun di 3,76%. Hal ini berdampak pada menurunnya keatraktifan Indonesia bagi investor asing. Hingga 27 Oktober 2023, aliran keluar dana asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp 11,75 triliun.
Terlepas dari hal itu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif kuat, yang ditandai dengan pertumbuhan PDB yang stabil di 5,17% pada kuartal II-2023, neraca perdagangan yang masih melanjutkan tren surplus selama 41 bulan berturut-turut, cadangan devisa yang relatif tinggi, serta inflasi yang terjaga di dalam kisaran target BI.
Selain itu, Indonesia akan mengalami masa pemilu serempak di tahun 2024, di mana pemilu nasional dan pemilu daerah dilakukan bersamaan. Dengan demikian, anggaran pemilu kali ini juga sangat besar yakni menembus Rp 76 triliun, tiga kali lipat lebih dibandingkan pemilu 2019 sebesar Rp 24,9 triliun. Hal ini tentu akan menimbulkan perputaran uang yang sangat besar serta mobilitas yang tinggi.
Dari aktivitas pemilu, penulis melihat beberapa sektor akan diuntungkan. Ini misalnya sektor telekomunikasi yang mendukung aktivitas kampanye, serta sektor konsumen primer karena mobilitas yang tinggi akan diikuti dengan peningkatan konsumsi, apalagi pemerintah juga aktif menyalurkan bantuan sosial. Selain itu, di tengah tingginya harga komoditas energi dan menjelang musim dingin di akhir tahun, sektor energi berbasis minyak bumi dan batu bara diperkirakan juga masih akan menarik. Ditambah pecahnya Israel-Palestina, yang terjadi di tengah masih berlangsungnya perang di negara produsen komoditas energi Rusia dan Ukraina, tentu akan menjaga harga komoditas energi tetap di kisaran yang tinggi.
Gambar 3 Valuasi IHSG dibandingkan indeks saham global dan kinerja IHSG bulan Desember.
Sumber: Bloomberg, diolah MCS.
Secara valuasi, saat ini IHSG di Bursa Efek Indonesia memiliki valuasi price to earnings (PE) ratio yang menarik sebesar 15,71 kali, di bawah rata-rata sebesar 17,40 kali, meski bukan yang paling murah di Asia. Valuasi yang menarik ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih bisa diraih IHSG di masa depan. Berdasarkan data historis selama 15 dan 5 tahun, pada Desember, rata-rata IHSG mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,18% dan 1,37%.
Terlepas dari ada tidaknya window dressing tahun ini, saya yakin trader maupun investor lebih perduli dengan sektor apa yang sedang trending sehingga saham-sahamnya cenderung menghasilkan cuan melampaui return IHSG. Jika dicermati, baik saat terjadi window dressing maupun tidak terjadi, akan selalu saja ada deretan sektor dan sekelompok saham yang menjadi top gainers, entah dari saham berkapitalisasi besar seperti anggota indeks LQ45 maupun saham-saham lapis dua dan tiga.
Dalam Masyarakat Indonesia dikenal luas peribahasa yang berisi 'banyak jalan menuju Roma'. Kami percaya, peribahasa ini juga tepat diterapkan dalam investasi saham. Salam InvestasiKu!
* Catatan:
Opini ini ditulis berdasarkan data hingga Kamis (27/10/2023)

