Harap-harap Cemas Menanti Window Dressing
Oleh Zsazya Senorita dan Hari Gunarto
JAKARTA, investortrust.id -- Setiap investor ritel, investor institusi, sekuritas, dan fund managers tentu berharap terjadinya window dressing di penutup tahun. Musim untuk mempercantik dan memoles portofolio biasanya dimanfaatkan sebagai momen untuk memetik gain dan menata ulang koleksi saham.
Seberapa besar peluang terjadinya window dressing atau Santa Claus rally di akhir 2023 ini? Sentimen positif dan negatif apa saja yang memengaruhi, baik domestik maupun global? Apakah kondisi geopolitik, ketidakpastian global, dan sikap Bank Sentral AS (The Fed) soal suku bunga masih menjadi gangguan?
Lantas, saham sektor apa saja yang bisa menjadi motor window dressing, jika memang ada? Dengan perkembangan terkini, kira-kira saham apa yang layak diborong, yang tergolong undervalued dan berpotensi memberikan cuan signifikan tahun depan? Berapa target harga masing-masing?
Ada beragam pandangan dan prediksi yang diungkapkan para analis kepada investortrust.id.
Window dressing adalah fenomena yang terjadi pada akhir tahun, yang ditandai oleh kenaikan harga saham akibat usaha emiten maupun manajer investasi untuk mempercantik laporan keuangan perusahaan maupun portofolio investasi. Cara-cara yang ditempuh bisa dilakukan melalui strategi pencatatan hak dan kewajiban secara akuntansi, maupun dengan menjual posisi yang dianggap tidak menguntungkan ke saham-saham yang dianggap prospektif.
Jika mengacu pada data indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam 10 tahun terakhir, yakni periode 2013-2023, menunjukkan bahwa window dressing hampir selalu terjadi. Selama bulan Desember dalam satu dekade terakhir, IHSG cenderung mencetak gain alias tumbuh positif. Kenaikan tertinggi terjadi pada 2020, dimana IHSG akhir Desember 2020 meningkat 6,53% dibanding akhir November 2020 (month to month/mtm).
Pengecualian terjadi tahun 2023, ketika IHSG Desember justru terkoreksi 3,26%. Untuk tahun ini, hingga 8 Desember 2023, IHSG positif 1,11% (mtd)
Adapun untuk IHSG tahunan, selama 2013-2023, pertumbuhan positif terjadi selama 7 kali, yaitu pada tahun 2014, 2016, 2017, 2019, 2021, 2022, 2023. Sebaliknya, IHSG mengalami koreksi 4 kali pada 2013, 2015 2018, 2020. (Lihat grafis).
Mayoritas analis optimistis, window dressing akan tercipta dan mampu mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir tahun sehingga turut memunculkan Santa Claus Rally.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia contohnya, mereka pede (percaya diri) window dressing benar terlaksana pada 2023, tidak seperti tahun lalu. “Potensi window dressing ada tetapi terbatas. Target IHSG untuk akhir tahun di 7.200,” ujar Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia kepada investortrust.id, Selasa (12/12/2023).
Optimisme yang sama disuarakan Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta. Dia menambahkan, banyak sentimen yang cenderung positif untuk pasar modal pada Desember 2023. Mengingat, situasi dan kondisi global maupun domestik sejauh ini dinilai masih sangat kondusif.
“Kami juga mengapresiasi kebijakan The Fed menahan diri dalam menjalankan aggressive tightening policy. Bayangkan, tahun lalu IHSG gagal mencapai Santa Claus rally sehubungan pengetatan kebijakan moneter yang agresif,” sambung Nafan melalui telepon.
Oleh karena itu, Nafan juga yakin IHSG bulan ini akan ditutup menghijau. Tak hanya The Fed, dinamika penetapan suku bunga yang sudah kondusif juga dilakukan bank sentral global lainnya. Ditambah lagi, tingkat inflasi Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Eropa relatif melandai sejak November 2023.
“Itu hal yang patut kita apresiasi, memang semestinya potensi window dressing sekaligus Santa Claus rally effect juga bisa terbuka lebar,” tutur Nafan.
Dari dalam negeri, kata dia, kondisi politik dan ekonomi Indonesia disebut relatif kondusif untuk pasar modal, dengan purchasing managers index (PMI) manufaktur Indonesia terus ekspansif dalam 27 bulan berturut-turut. Ini menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal IV-2023 berpotensi tumbuh dibandingkan kuartal ketiga yang masih di bawah 5%.
Terkait dengan pemilu, Nafan mengatakan, kampanye juga bisa mendorong konsumsi masyarakat dari anggaran belanja pemerintah sehingga ikut jadi sentimen positif bagi pasar.
Saham Pilihan
Dalam riset peluang window dressing 2023, Senior Research Analyst Mirae Asset, Robertus Hardy menginformasikan beberapa sektor yang diperkirakan berkinerja baik pada kuartal terakhir ini.
Dari sektor keuangan, Mirae memilih saham BBCA dan BBRI di tengah peluang peningkatan penetrasi produk jasa keuangan di Indonesia yang masih terbuka lebar. Harga saham BBCA dan BBRI pun dibidik pada level Rp 9.450 dan Rp 5.575 per saham.
Kemudian dari sektor barang konsumen non-primer ada saham ACES. Sebab, khusus di bidang ritel, ada peraturan pemerintah baru-baru ini yang bertujuan membatasi perluasan model bisnis social commerce, menyusul akuisis saham TikTok di Tokopedia. Mirae pun menargetkan saham ACES naik ke harga Rp 950.
Mengantisipasi percepatan konvergensi fixed-mobile melalui Telkom dan Indosat, Mirae pun memilih saham TLKM dan ISAT. “Meski pasar internet seluler semakin jenuh dengan lebih dari 124 pengguna seluler untuk setiap 100 orang dalam populasi, kami yakin bahwa pasar ini, dengan populasi lebih dari 277 juta jiwa, sudah siap untuk monetisasi,” jelas Robertus.
Salah satu cara untuk memonetisasi potensi tersebut adalah melalui strategi konvergensi dengan layanan Fixed Broadband (FBB). Hingga kuartal III-2023, Mirae melihat adanya akselerasi jumlah pelanggan IndiHome dan XL Home. Sedangkan Indosat Hifi berpotensi menambah pendapatan secara organik setelah mengakuisisi MNC Play.
Mirae Asset Sekuritas menargetkan harga saham TLKM dan ISAT, masing-masing bisa mencapai Rp 4.200 dan Rp 10.800.
Saham lainnya yang dipilih Mirae adalah ASII dengan target harga Rp 6.700. Robertus menjelaskan, pilihan ini dilatarbelakangi optimisme terhadap potensi kelanjutan pertumbuhan penjualan produk otomotif ASII. “Untuk sektor Otomotif, kami tetap optimis meski hati-hati,” imbuh Robert.
Tim riset Mirae Asset memandang, ada potensi peningkatan mobilitas masyarakat pada masa pemilu, sehingga lebih optimistis terhadap potensi berlanjutnya pertumbuhan penjualan sepeda motor dibandingkan mobil.
“Kami perkirakan dampak pemilu bisa lebih masif karena akan ada 548 kepala daerah baru yang terpilih secara serentak,” sambung dia.
Terjadi Sejak November
Dihubungi secara terpisah, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana juga percaya window dressing mungkin terjadi tahun ini. Dia menyebut, window dressing sudah terealisasi sejak November 2023.
“Dari sisi faktor pun dapat dicermati bahwa dari eksternal, optimisme investor telah kembali, terhadap kebijakan The Fed yang tampaknya tidak akan menaikkan suku bunga,” ujar analis yang akrab disapa Didit tersebut.
Dengan kecenderungan menahan suku bunga acuan (higher for longer), perekonomian AS diperkirakan mulai membaik dengan tingkat inflasi yang mulai melandai.
“Namun demikian, investor juga dapat mencermati perekonomian China yang juga cenderung melandai dan dikhawatirkan akan memengaruhi ekonomi secara global,” ujar Didit mengingatkan.
Seperti umumnya, dia menilai emiten-emiten penggerak (mover) IHSG telah menjadi pendorong window dressing, seperti emiten perbankan atau emiten dengan kapitalisasi yang cukup besar.
“Dapat dicermati dari emiten perbankan seperti BBCA dengan target harga Rp 8.850-8.950, BMRI Rp 5.900-5.925, ICBP Rp 10.775-11.000, dan ASII Rp 5.725-5.900.
Sementara itu, Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menyatakan, peluang window dressing ada tapi relatif kecil karena harga saham dan IHSG sudah naik lumayan banyak di tahun ini. “Window dressing yang besar terjadi kalau pasar negatif sepanjang tahun. Tapi, tahun ini tidak terjadi seperti itu,” kata dia.
Ada sejumlah sentimen negatif yang masih membayangi. Antara lain arah kebijakan suku bunga global yang cenderung masih ketat dan kondisi geopolitik. Sedangkan di dalam negeri, karena ini menjelang, pemilu pelaku pasar dan investor cenderung hati-hati.
“Bunga The Fed yang belum jelas kapan turun serta geopolitik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina menjadi perhatikan pasar dan cenderung menahan optimisme pelaku pasar,” kata Hans.
Hans menyatakan, window dressing biasanya dimotori oleh saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) dan saham BUMN yang belum naik banyak.
Tentang saham yang selayaknya menjadi perhatian investor, Hans merekomendasikan saham sektor properti dan semen, terutama untuk mengantisipasi penurunan suku bunga. “Sedangkan untuk tahun pemilu yang berpotensi terjadi dua putaran, saham sektor konsumer layak menjadi pilihan,” kata dia.
Di lain pihak, Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe juga menyebut bahwa window dressing sudah mulai terjadi. Salah satu pendorongnya adalah keyakinan investor akan pertumbuhan ekonomi yang akan terjaga cukup tinggi pada semester I-2024. “Penyebabnya, konsumsi domestik yang besar karena ada kampanye dan pemilu,” ucap dia.
Kiswoyo pun memprediksi IHSG akan ditutup pada level 7.250 akhir 2023, bila mampu bertahan di atas level 7.000. Untuk momen window dressing 2023 pun, dia merekomendasikan saham-saham blue chip seperti TLKM, ASII, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. “Target harganya masing-masing Rp 4.500, Rp 7.500, Rp 10.000, Rp 6.000, Rp 7.000, Rp 5.700,” pungkasnya. ***

