Target Saham GGRM Dipangkas, Risiko Penurunan Volume Penjualan Mengintai
JAKARTA, investortrust.id – Volume penjualan emiten produsen rokok, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tertekan seiring menjamurkan pabrikan rokok kecil dengan tawaran harga lebih murah.
Harga cukai yang terus meningkat membuat banyak perokok mencari alternatif produk lebih murah. Pilihannya pada rokok baru dari pabrikan kecil. Bukan hanya GGRM yang terusik, hampir semua produsen rokok besar terganggu dengan kondisi ini.
GGRM sendiri telah mengalami tekanan penjualan, turun sebesar 20% year on year (yoy) pada kuartal III-2023.
Baca Juga
Fundamental Kokoh, Potensi Cuan Saham Dharma Polimetal (DRMA) Kian Gurih
Tim Riset BNI Sekuritas menyebut, pencapaian volume GGRM per September hanya 66% dari konsensus dan 70% (rata-rata 3 tahun sebesar 74%). Penjualan sigaret kretek mesin merupakan penyumbang penurunan penjualan terbesar mencapai 21% yoy pada kuartal III-2023, sementara penjualan kretek tangan berhasil tumbuh 4% yoy.
‘’Gross prifit margin (GPM) GGRM turun 0,2% pt secara kuartalan, namun tetap meningkat sebesar 5,5% pt yoy menjadi 13,5% pada kuartal III-2023. Opex meningkat hanya sebesar 1% yoy pada kuartal III-2023, menghasilkan margin EBIT sebesar 6,2% pada kuartal tersebut, turun dari 7% pada kuartal III-2023, tetapi lebih baik dibandingkan dengan 2,2% pada kuartal III-2022,’’ tulis BNI Sekuritas yang dikutip Senin, (27/11/2023).
Adapun dari sisi laba bersih tercatat Rp 1,2 triliun per kuartal III-2023, sedikit turun dari Rp 1,3 triliun pada kuartak II- 2023, namun meningkat signifikan dibandingkan dengan Rp 540 miliar pada kuartal III-2022. Sehingga laba bersih GGRM Januari – September 2023 mencapai Rp 4,46 triliun, meningkat 198% yoy).
Proyeksi Kinerja
Tekanan volume penjualan GGRM diperkirakan berlanjut pada tahun 2024. BNI Sekuritas meramal volume GGRM turun dengan tingkat satu digit, setelah turun dua digit tahun ini.
Selain diusik pemain rokok kecil, kenaikan harga agresif yang dilakukan GGRM pada tahun ini akan berdampak buruk pada volumenya. BNI Sekuritas melihat kecil kemungkinan GGRM akan melakukan strategi kenaikan harga pada tahun 2024. BNI Sekuritas memperkirakan kenaikan harga maksimal sebesar 7% tahun depan, terutama untuk pass on perkiraan kenaikan cukai sebesar 10% pada tahun 2024.
Terkait hal itu BNI Sekuritas memproyeksikan GPM akan turun, diperkirakan sebesar 13%, atau turun 0,8% pt yoy tahun 2024. ‘’Dengan asumsi pertumbuhan opex sebesar 3% yoy pada tahun 2024, kami perkirakan laba bersih GGRM pada 2024 akan turun sebesar 17% yoy menjadi Rp 4,9 triliun, lebih rendah dari pencapaian Rp 5,6 triliun pada tahun 2021,’’ tulis Tim Riset BNI Sekruitas.
Baca Juga
Mengacu pada perkiraaan tadi, BNI Sekuritas menurunkan rekomendasi GGRM dari hold periode 3 bulan dan buy 12 bulan menjadi sell untuk jangka tiga bulan dan hold untuk 123 bulan.
‘’Target price kami turunkan berdasarkan DDM sebesar Rp 24.000, mengimplikasikan P/E 2024F sebesar 9,4 kali atau 1 standar deviasi di bawah rata-rata 3 tahun,’’ tulis BNI Sekuritas.
Keputusan tim Research BNI Sekuritas untuk menurunkan rekomendasi didorong oleh kekhawatiran terhadap volume dan margin pada tahun 2024, yang menurut BNI Sekuritas memiliki risiko penurunan yang lebih besar daripada potensi kenaikannya.
Sementara perkiraan konsensus terhadap GGRM tetap tinggi, dengan perkiraan pertumbuhan laba bersih sebesar 9% yoy untuk tahun 2024.

