Target Saham Raksasa Properti (SMRA) Dipangkas, Potensi Risiko Ini Mengintai
JAKARTA, investortrust.id – Proyeksi kinerja raksasa properti milik keluarga Soetjipto Nagaria, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) tampaknya akan kurang meyakinkan pada akhir tahun 2023 hingga 2025.
Momentum pemilihan umum (Pemilu) dan tingginya suku bunga bank diperkirakan memegaruhi daya beli masyarakat terhadap produk properti. Kondisi ini diyakini berpotensi menyengat pencapaian pra-penjualan emiten properti, termasuk SMRA.
Tim Riset BNI Sekuritas meramal, angka pra-penjualan SMRA akan lesu pada periode 2023, 2024 bahkan hingga 2025. ‘’Kami merevisi turun estimasi pra-penjualan SMRA masing-masing -6,3% (2023), -5,3% (2024) dan -4,2% (2025).
Baca Juga
Saham Barito Renewable (BREN) Rebound, Market Cap Kembali ke Posisi Dua
SMRA diperkirakan melaporkan pra-penjualan sebesar Rp 3,3 trililiun per Oktober 2023 atau turun -13% YoY, mencerminkan 66% dari target pra-penjualan tahun 2023.
Diektahui, di sisa bulan tahun ini, SMRA mempunyai serangkaian rencana peluncuran, antara lain ruko di Bekasi, rumah tapak di Crown Gading, dan kavling tanah perumahan di Bandung. Atas peluncuran proyek tadi, Tim Riset BNI Sekuritas memperkirakan SMRA mencapai pra-penjualan sebesar Rp 4,41 triliun untuk setahun penuh 2023, atau mewakili 87% dari target 2023 (di luar peluncuran proyek baru di Bogor).
Kendati begitu pendapatan Perseroan kami naikan masing-masing 4,0%/1,0%/0,4%, didorong oleh perkiraan pendapatan hotel yang lebih tinggi,’’ tulis Riset BNI Sekuritas yang diterbitkan, Kamis (23/11/2023).
Sementara dari sisi perolehan marjin kotor, BNI Sekuritas BNI Sekuritas mengestimasi akan turun sebesar 0,8%ppt/0,8%ppt/0,6%ppt, terutama pada perumahan tapak. Penurunan marjin ini membuat estimasi EBITDA perseroan akan lebih rendah masing-masing sebesar -0,6% (2024) dan - 0,9% (2025).
Baca Juga
Didukung Sejumlah Faktor Ini, Saham Ciputra (CTRA) Menggiurkan
Untuk itu kami revisi estimasi laba masing-masing tumbuh sebesar 9% (2023), turun 6,5% (2024 dan turun 5,3% (2025).
Tim Riset BNI Sekuritas pun mempertahankan rekomendasi saham SMRA dengan hold untuk periode 3 -12 bulan dengan target price (TP) yang lebih rendah sebesar Rp 700 per saham. ‘’TP ini berdasarkan pada estimasi Price to Book Value tahun 2024 sebesar 1,1 kali, yaitu -0,9 standar deviasi dari rata-rata sejak tahun 2016,’’ pungkas BNI Sekuritas.
Sebelumnya, Manajemen SMRA melaporkan kinerja per kuartal III-2023, dengan meraih pendapatan sebesar Rp 5,08 triliun, tumbuh 21% YoY. Sedangkan posisi laba bersih mencapai Rp 653 miliar per September 2023, tumbuh 111%.
‘’Angka ini di atas perkiraan kami dan Konsensus, namun untuk ke depan SMRA dibayangi sejumlah risiko yang akan memengaruhi perolahan pra-penjualan,’’ papar Tim BNI Sekuritas.

