Short Selling Mulai Kuartal II-2025, Berikut Deretan 10 Sahamnya
JAKARTA, investortrust.id – Layanan penjualan efek yang tidak dimiliki investor saat transaksi dilaksanakan (short selling) dipastikan mulai pada kuartal II-2025. Short selling fase pertama beranggotakan 10 saham emiten.
Fase I pertama ini hanya menyediakan 10 saham LQ45 untuk ditransaksikan, yaitu PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Saham lainnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Baca Juga
BEI Segera Luncurkan 'Short Selling' di Tengah Ketidakpastian Global
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, layanan baru yang akan diluncurkan BEI tersebut bertujuan untuk memberi kesempatan pada investor untuk bisa mengoptimalkan profitabilitas mereka. Terutama saat kondisi pasar sangat dinamis dalam ketidakpastian dan gejolak di waktu singkat.
“Bagi investor pengalaman dan jeli, ini memberi peluang,” ujar Jeffrey dalam Edukasi Wartawan terkait Intraday Short Selling (IDSS), secara virtual baru-baru ini.
Dia mengingatkan, kondisi pasar modal Indonesia beberapa waktu belakangan mengalami fluktuasi dan dinamika sangat tinggi dalam waktu singkat. Hal ini membuat para investor berusaha mencari cara untuk tetap bisa mengoptimalkan keuntungannya dalam kondisi tersebut.
“Kalau sekarang saat bearish, investor tidak ada pilihan. Hanya menunggu di bottom, baru beli dengan harapan naik saat dijual, itu mekanisme dapat keuntungan. Tetapi dengan ada short selling bisa dilakukan di pagi dan sore kalau ada kemungkinan harga turun. Bisa beli kembali dan mendapat keuntungan dari pergerakan saham hari itu,” papar Jeffrey lebih rinci.
Baca Juga
Short Selling Resmi Diterapkan BEI, Begini Ketentuan dan Tujuannya
Dia juga menegaskan, bursa-bursa utama di negara-negara lain telah memiliki layanan short selling yang bisa meningkatkan likuiditas bagi pasar modal. Sehingga keberadaan short selling disebut telah menjadi best practice dan BEI merasa harus punya layanan setara dengan bursa besar lain.
“Meningkatkan likuiditas juga dari nilai transaksi ya yang kami lihat di beberapa bursa sangat variasi, dari hanya 3-5% tetapi di beberapa bursa bisa sampai belasan persen. Tentu di tahap awal kami tidak targetkan peningkatan value tinggi namun tambah saham LQ45 secara bertahap,” sambung Jeffrey.
Bursa pun memberi penjelasan mengapa tahap awal pemberlakuan short selling hanya melibatkan saham-saham dengan likuiditas besar. “Saat ini kami fokus ke saham likuid, free float tinggi agar kemungkinan terjadinya pembentukan harga tidak wajar itu cukup rendah,” pungkasnya.

