Sekuritas Sebut Empat Faktor ini Jadi Biang Keladi Pelemahan IHSG
JAKARTA, investortrust.id – Indo Premier Sekuritas (IPOT) menyebutkan empat faktor yang menjadi biang keladi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebelum ditutup melemah 1,11% pada sesi II perdagangan Senin (3/2/2025) dan 2,27% pada sesi I, IHSG sudah cenderung melemah sejak pekan lalu.
Menurut Equity Analyst IPOT Imam Gunadi, ada beberapa katalis atau sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG. Antara lain indeks manajer pembelian manufaktur China, keputusan suku bunga oleh The Fed, investasi asing langsung, dan realisasi indeks harga belanja personal inti Amerika Serikat.
Pertama, indeks manajer pembelian manufaktur (purchasing managers index/PMI) dari biro statistik China (NBS) periode Januari 2025 turun ke 49,1 dari 50,1 pada Desember 2024. Peringkat ini berada di bawah konsensus 50,1 yang menunjukkan kontraksi pertama dalam lima bulan terakhir.
Penurunan itu dipicu oleh melemahnya aktivitas pabrik menjelang Tahun Baru Imlek, dengan output dan pesanan baru mengalami penurunan signifikan.
“China adalah mitra dagang utama Indonesia, terutama untuk komoditas seperti batu bara, nikel, dan CPO. Pelemahan sektor manufaktur China dapat mengurangi permintaan bahan baku dari Indonesia, berpotensi menekan harga dan volume ekspor,” jelas Imam secara tertulis, Senin (3/2/2025).
Baca Juga
Asing Net Sell Rp 274,79 Miliar, Sebaliknya Saham Bank BUMN Ini Diburu
Kedua The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,5% dalam pertemuan Januari 2025, sesuai ekspektasi pasar. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan, bank sentral tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut dan ingin melihat kemajuan lebih lanjut dalam pengendalian inflasi.
“Dengan suku bunga The Fed tetap tinggi, arus modal asing ke negara berkembang seperti Indonesia bisa terbatas karena investor tetap memilih aset berbunga tinggi di AS. Rupiah bisa menghadapi tekanan jika aliran dana asing keluar dari pasar obligasi dan saham,” sambung Imam.
Ketiga, investasi asing langsung ( foreign direct investment/FDI) ke Indonesia, di luar sektor keuangan serta minyak & gas, melonjak 33,3% (yoy) mencapai Rp 245,8 triliun atau US$ 55,33 miliar pada kuartal IV-2024. Ini merupakan pertumbuhan tercepat sejak IV-2022.
Imam menilai, hal tersebut terutama didorong oleh investasi besar di sektor pemrosesan mineral. “Investor asing tetap tertarik pada industri pertambangan dan pemurnian logam Indonesia, terutama setelah larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 yang bertujuan menarik investasi dalam rantai pasok kendaraan listrik (EV),” menurutnya.
Baca Juga
Mengejutkan! Saham Grup Besar Ini justru Melesat Saat IHSG Ditutup Anjlok
Negara asal FDI terbesar adalah Singapura, Hong Kong, dan China. Sepanjang 2024, total investasi langsung, termasuk domestik mencapai pR 1.714,2 triliun atau US$ 105,13 miliar, tumbuh 20,8% (yoy).
Imam menambahkan, peningkatan FDI menunjukkan keberhasilan kebijakan hilirisasi, khususnya dalam mendukung rantai pasok kendaraan listrik dan pemrosesan mineral.
Keempat, indeks harga belanja personal inti Amerika Serikat atau core personal consumption expenditure (PCE) yang volatil naik 0,2% (MoM) pada Desember 2024. Indeks ini tidak mencakup harga makanan dan energi.
Perolehan tersebut, sesuai ekspektasi pasar dan sedikit lebih tinggi dari 0,1% pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, Core PCE tetap di 2,8% untuk bulan kedua berturut-turut, masih di atas target 2% yang ditetapkan oleh The Fed.

