Jadi Biang Keladi Kelangkaan Beras, HET Harus Dievaluasi
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori mengatakan, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) perlu mengevaluasi kebijakan harga eceran tertinggi (HET). Kebijakan HET yang tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini diduga menjadi salah satu pemicu kelangkaan dan mahalnya harga beras.
Menurut Khudori, sejak diberlakukan delapan tahun silam, atau sejak 2017, HET belum mengalami penyesuaian yang signifikan. Oleh sebab itu, HET butuh perbaikan dan penyesuaian-penyesuaian, baik dari sisi efektivitasnya dalam menjaga stabilitas harga, maupun dampaknya terhadap industri perberasan.
Baca Juga
HET Beras Jadi Indikator Penentu Kebijakan Stabilisasi Pangan
“Lewat Badan Pangan Nasional (Bapanas), penting bagi pemerintah untuk menimbang ulang HET beras. Kebijakan yang sudah berlaku sejak September 2017 itu perlu dievaluasi efektivitasnya di pasar,” ucap Khudori kepada investortrust.id, Rabu (21/2/2024)
Evaluasi, kata Khudori, juga harus mencakup dampak HET terhadap perberasan secara keseluruhan. “Dalam waktu yang sama, tidak ada salahnya bagi Bapanas untuk menghitung ulang biaya produksi padi,” ujar Khudori.
Pasalnya, menurut Khudori, harga gabah saat ini juga tengah melonjak. Di Jawa Timur, harga gabah sudah menyentuh Rp 8.400-8.800 per kg gabah kering panen (GKP), padahal HET-nya Rp 5.000 per kg.
“Jangan-jangan harga gabah yang tinggi dan terus naik itu lantaran struktur ongkos produksi memang sudah berubah,” tegas dia.
Baca Juga
Beras Mahal dan Langka, Ekonom Soroti Carut-Marut Data dan Tata Kelola Pangan
Dia menjelaskan, lonjakan harga gabah telah mendongkrakharga beras menjadi Rp 15.850-16.600 per kg dengan rendemen 53%. Hal ini membuat pedagangtidak lagi memasok berasnya kepada peritel karena pengusaha ritel tidak akan berani melanggar aturan HET.
“Pedagang dan penggilingan padi tidak lagi memasok ke ritel-ritel modern karena merugi. Pengelola ritel modern tidak berani melanggar HET. Akibatnya, beras langka di pasar, harganya melonjak,” tandas Khudori.

