IHSG Tergerus 1,19%, Analis: Minim Sentimen Positif
JAKARTA, investortrust.id – Kejatuhan lebih lanjut indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan ini, Jumat (29/11/2024), sebanyak 1,19% menjadi 7.114,26 dipengaruhi minimnya sentiment positif dari pasar.
“Pelemahan IHSG hari ini memang sangat dipengaruhi oleh minimnya sentimen positif, baik dari dalam negeri maupun dari eksternal, diikuti juga pelemahan BBRI hari ini,” jelas Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta kepada Investortrust.id, Jumat (29/11/2024).
Baca Juga
Dirut BTN Usul Kredit Rp 480.000 per Bulan untuk RTLH di Perdesaan
Nafan mengakui, belum ada data makro ekonomi domestik atau dari dalam negeri yang bisa memberikan dampak besar pada pasar modal. Sementara dari luar negeri, investor diperkirakan masih menanti pernyataan penentuan sikap hawkish The Fed yang ikut memengaruhi pelemahan kinerja pasar modal.
“Jadi itu saja sebenarnya sederhana, sehingga ini membuat market lebih tender untuk sifat prudent ya,” imbuh dia.
Di lain pihak, Technical Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebutkan bahwa IHSG masih berada di fase downtrend dan masih rawan membentuk skenario terburuknya atau worst case scenario. Adapun, untuk sentimennya, pergerakan IHSG dibebani oleh IDX Energy dan IDX Techno. Di sisi lain koreksi IHSG dinilai sejalan dengan pergerakan bursa regional Asia yang mayoritas bergerak terkoreksi.
“Inflasi Jepang tercatat naik sehingga membuka peluang BoJ menaikkan suku bunga dalam waktu dekat,” sambung analis yang akrab disapa Didit tersebut.
Baca Juga
Net Sell Tak Kunjung Berhenti, Asing Lepas Rp 1,89 Triliun Saham
Berdasarkan riset MNC Sekuritas, IHSG saat ini memiliki level support 7.076 dan resistance 7.241. Sedangkan prediksi harga saham BBRI yang masih mengalami penurunan tajam, Didit sebut memiliki level support Rp 4.170 dan resistance Rp 4.400.
Sementara sebelumnya Ajaib Sekuritas menjelaskan, pergerakan IHSG hari ini dipengaruhi profit taking saham-saham berkapitalisasi pasar besar, termasuk ADRO yang memasuki masa ex-date dividen.
Investor asing masih tercatat outflow di pasar ekuitas domestik senilai Rp 840,45 miliar per 28 November 2024. “Kondisi pasar ekuitas cenderung sepi sentimen di akhir bulan November,” ujar Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih.
Jika diakumulasi, penurunan yang terjadi sejak awal November 2024 month to date (mtd) tercatat -4,94% sampai Kamis (28/11/2024). “Masifnya penurunan yang terjadi diakibatkan oleh berbagai faktor, misalnya depresiasi nilai tukar Rupiah, kekhawatiran atas menyusutnya daya beli ditengah ikim suku bunga tinggi, rencana kenaikan PPN menjadi 12% di tahun 2025, hingga momentum politik, seperti pilpres di AS dan pilkada nasional,” papar Ratih.
