Saat Pendapatan Naik, Laba PGN (PGAS) Justru Turun 14,78%, Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN membukukan penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 14,87% menjadi US$ 278,09 juta pada 2023, dibandingkan tahun sebelumnya US$ 326,23 juta.
Manajemen PGAS dalam rilis laporan kinerja keuangan menyebutkan bahwa penurunan laba tersebut berbanding terbalik dengan pendapatan yang justru naik dari US$ 3,56 miliar menjadi US$ 3,64 miliar.
Baca Juga
Namun perseroan mencatatkan peningkatan beban pokok pendapatan yang lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan. Alhasil laba bruto turun menjadi US$ 733,57 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 780,54 juta.
PGN (PGAS) juga mencatatkan kenaikan beban umum dan admistrasi yang memicu penurunan laba operasi dari US$ 592,17 juta menjadi US$ 542,41 juta. Sedangkan beban keuangan perseroan turun dari US$ 132,44 juta menjadi US$ 97,62 juta.
Sebelumnya, analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan dan Laurencia Hiemas merevisi turun target harga saham PGAS dari Rp 1.800 menjadi Rp 1.399, meskipun terbuka pemulihan pasca peristiwa Gunvor. Revisi turun tersebut juga mempertimbangkan propek kinerja keuangan tahun 2024 yang lebih rendah dari perkiraan.
Baca Juga
Siapkap Capex US$ 361 Juta, PGN (PGAS) Ungkap Sejumlah Target Ini
“Keraguan terhadap prospek kinerja keuangan PGAS meningkat akibat berbagai peristiwa belakangan ini, seperti insiden fore majure Gunver dan perubahan manajemen yang memicu penurunan harga saham PGAS sigfinikan,” tulis analis tersebut.
PGAS dan Gunvor sebelumnya menandatangani MSPA dan CN dengan tujuan PGAS akan menjual LNG tertentu dari portofolio Pertamina kepada Gunvor. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi kondisi force majeure, yakni kendala yang menyebabkan tertundanya proses novasi portofolio LNG dari Pertamina ke PGAS. Hal ini berimbas terhadap terkendalanya pengiriman kargo LNG kepada Gunvor.

