Saat Batu Bara Turun, Laba Adaro Minerals (ADMR) justru Melesat 23%, Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) berhasil mencatatkan peningkatan laba inti sebanyak 23% menjadi US$ 421,01 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 341,67 juta.
Lonjakan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan sebanyak 20% dari US$ 908,14 juta menjadi US$ 1,08 miliar. EBITDA operasional tahun lalu melesat 17% menjadi US$ 573,50 juta didukung kenaikan volume penjualan. Laba inti naik 23% menjadi $421,02 juta.
Baca Juga
Harga Batu Bara Coking Naik, Target Harga dan Kinerja Adaro Minerals (ADMR) Direvisi
Presiden Direktur ADMR Chridtian Arianto Rachmat mengatakan, kenaikan kinerja keuangan tersebut ditopang lompatan volume penjualan batu bara perseroan sebanyak 39% pada 2023. Kenaikan tersebut mampu mengimbangi penurunan rata-rata harga jual mencapai 14.
“Kinerja keuangan maupun operasional perseroan tahun 2023 memuaskan didukung pertumbuhan produksi Lampunut yang memuaskan serta pengakuan pasar yang semakin solid terhadap produk Enviromet. Kondisi harga batu bara metalurgi yang kondusif terus mendukung pencapaian rata-rata harga jual batu bara perseroan. Kenaikan laba juga didukung disiplin biaya,” terangnya dalam penjelasan resminya di Jakarta, Kamis (29/2/2024).
Selain itu, dia mengatakan, pertumbuhan kinerja perseroan tahun lalu didukung operasi logistik grup Adaro yang terintegrasi mampu mengatasi sejumlah tantangan di Sungai Barito yang ditimbulkan cuaca El Nino.
Baca Juga
Aksi Terbaru Adaro Minerals (ADMR), Suntik Modal Perusahaan Ini Rp 376 Miliar
Perseroan menyebutkan bahwa produk batu bara metalurgi ADMR dijual ke berbagai produsen baja yang terdiversifikasi di sejumlah negara. Di antaranya Jepang, China, India, Indonesia, dan Korea Selatan.
Secara operasional, ADMR mencatatkan lonjakan volume produksi batu bara sebanyak 52% menjadi 5,11 juta ton tahun 2023. Kenaikan tersebut ditopang ketersediaan alat berat dan kinerja yang baik dari para kontraktor. Sedangkan pengupasan lapisan penutup mencapai 18,70 juta bcm atau naik 125% dari tahun 2022, sehingga nisbah kupas tahun lalu mencapai 3,66x.
Smelter Alumina
Perseroan menyerap belanja modal mencapai US$ 134,02 juta sepanjang 2023. Dana tersebut digunakan untuk konstruksi smelter aluminium di bawah PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) dan proyek-proyek infrastruktur PT Maruwai Coal (MC). Dari angka belanja modal tersebut, sebanyak US$ 97 juta dipakai untuk keperluan KAI.
Perseroan juga mencatatkan arus kas bebas tahun lalu turun 48% menjadi US $194,58 juta atau turun 48%. Penurunan dipicu keputusan perusahaan untuk mengeksekusi rencana investasinya.
Baca Juga
Volume Produksi Tumbuh, Rekomendasi Beli Saham ADMR Dipertahankan
“Setelah rampung, proyek-proyek peningkatan infrastruktur akan mendukung pencapaian target volume di jangka waktu menengah sebesar 6 juta ton per tahun dan akan memungkinkan perusahaan untuk memenuhi komitmen volume kepada para pelanggan,” terrangnya.
Perseroan juga menginformasikan perkembangan tahap pertama smelter aluminium KAI dengan target mencapai operasi komersial (COD) pada 2025. Pengoperasian smelter tersebut diharapkan mendiversifikasi arus pendapatan perseroan ke depan.
Kinerja Keuangan ADMR

